Akhlakul Karimah, Kesadaran Tanpa Rekayasa

0
637
Pengasuh Pondok Pesantren Daruf Falah Be Songo, KH> Imam Taufik, dalam pengajian rutinan di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Semarang pada Ahad (04/11) pagi. (dok. Rizal)

Semarang nujateng.com -KH. Imam Taufiq ungkapkan bahwa akhlak sebagai sesuatu yang menggerakkan jiwa dan hati seseorang untuk berbuat dan berperilaku. Di dalamnya terdapat penuh kesadara tanpa adanya rekayasa maupun dorongan dari pihak manapun.

Urgensi akhlak relevan dengan kondisi negara Indonesia maupun umat Islam dalam menghadapi problematika yang tak kunjung ada habisnya

“Peran akhlak penting guna menjaga silaturrahmi dengan tujuan meminimalisir tersebarnya fitnah dsan hoaks yang kian merajalela di antara anak bangsa,” jelas Pengasuh Pondok Pesantren Daruf Falah dalam pengajian rutinan di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Semarang pada Ahad (04/11)  pagi.

Ia menambahkan, pentingnya memiliki akhlakul karimah dalam diri seseorang menjadi bukti bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kebaikan umatnya agar senantiasa berperilaku dan bertindak sesuai syariat. Allah SWT lalu mengutus Nabi Muhammad SAW turun ke bumi tak lain untuk menyempurnakan akhlak umatnya.

“Turunnya nabi sebagai penyempurna akhlak. Salah satu contohnya tentang kasus anak perempuan yang lahir harus dibunuh dengan alasan akan mempermalukan. padahal disisi lain ketika ia sudah beranjak dewasa, justru menjadi hal yang diperebutkan untuk dijadikan istri atau budak. Kondisi saat itu menjadi mula Nabi Muhammad untuk memulihkan ke jalan yang benar,” tambahnya.

Abah Imam, sapaan akrabnya, menggambarkan tentang sifat akhlak yang spontan seperti perilaku individu-individu dikehidupan sehari-hari.

“Karena datang secara tiba-tiba dan sudah tersirat di dalam hati tanpa ada pemikiran sebelumnya. Akhlak menjadi karakteristik bagi seseorang. Bagaimana ia berbuat, demikianlah akhlak yang dimiliki,” tutur Guru Besar Tafsir UIN Walisongo.

Imbasnya yang memegang teguh nilai-nilai tauhid berarti menjadikan Allah sebagai sumber kasih dan sayang. Implementasinya di kehidupan sehari-hari atau menjadi laku.

“Itu satu ciri akhlakul karimah,” pungkasnya dalam akhir pengajian. (Rep. Riza/Ziya Red. Rais/011)