Komitmen PWNU untuk Membangun Kemandirian

0
522

Semarang, nujateng.com- Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah akan menggelar Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) pada Jumat-Minggu (20-22 April) mendatang di Purbalingga. Musykerwil kali ini mengambil tema “Meneguhkan Komitmen Kemandirian NU Jawa Tengah Menyongsong Seabad NU”.

Ketua Panitia Musykerwil, Dr. H. Najahan Musyafa’ mengatakan, musykerwil ini menjadi ruang yang cukup strategis dimana tantangan dan problem yang dihadapi oleh NU di bidang kemasyarakatan dan kebangsaan dipetakan sekaligus dicarikan solusinya. “NU harus secara terus menerus melakukan konsolidasi diri, menyusun agenda-agenda strategis dalam memperkuat komitmennya dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara yang bersih dan bermartabat,” kata Najahan di Kantor PWNU Jawa Tengah, Senin (16/4).

Selain itu, Musykerwil juga menjadi ajang dimana kesadaran untuk disiplin berorganisasi harus terus menerus ditumbuhkan. “Juga dalam hal menjam’iyyahan jamaah, agar jamaah NU juga turut berpartisipasi dalam menguatkan organisasi,” tambah Najahan, yang juga Wakil Ketua PWNU Jawa Tengah tersebut.

Peran NU lainnya yang hendak dikonsolidir dalam Musykerwil adalah kemampuan NU untuk menjawab problematika kekinian, yang sudah barang pasti membutuhkan jawaban baru. Untuk itu, forum bahtsul masail memiliki posisi yang vital untuk terus dikembangkan di pelbagai tingkatan untuk semua tema.

Berkaitan dengan tema yang diangkat, Ketua PWNU Jawa Tengah, Drs. H. Abu Hapsin, PhD mengatakan, kemandirian itu tidak berarti mengabaikan sinergi. Bekerjasama dengan multipihak tetap dibutuhkan, mengingat tantangan yang dihadapi tidaklah ringan. “Bekerjasama dengan banyak elemen tetap dibutuhkan. Hanya saja, sebagai organisasi sosial kemasyarakatan, NU memang dituntut untuk terus menjaga independensinya,” kata Abu.

Abu Hapsin menambahkan, dinamika NU sebagai organisasi keagamaan besar di Indonesia tidak bisa dillepaskan dari konstelasi sosial, budaya, ekonomi dan politik di Indonesia. Respon terhadap kondisi tersebut mutlak dibutuhkan. “Musykerwil ini adalah wadah dimana situasi kebangsaan itu juga diperbincangkan. Harapannya, warga NU turut mengambil peran sesuai kapasitasnya masing-masing,” terang pengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo tersebut.

Pandangan NU yang menjangkarkan dirinya pada penghargaan terhadap keragaman, semangat toleransi, dan keterbukaan, diharapkan mampu memberikan sumbangsih bagi penguatan semangat kebangsaan. Komitmen untuk menjaga NKRI agar tetap ada dalam payung Pancasila dan UUD 1945 adalah salah satu kontribusi nyata NU dalam lipatan sejarah bangsa Indonesia. [Red/002]