Mind Set

0
1691
basyid
Lek Basyid Tralala
Iklan

Oleh: Lek Basyid Tralala
(Pengurus Harian MWC NU Kaliwungu Selatan)

Seluruh mahluk yang ada di muka bumi ini pada prinsipnya selalu memuja dan memuji kebesaran ilahi. Apapun wujud benda tersebut, semua tetap bersimpuh kepadaNya, namun yang menjadi persoalan tidak semua orang mengetahui bagaimana cara benda / mahluk tersebut memuji ( bertasbih ) kebesaran tuhan-Nya, maka muncul berbagai persepsi bagaimana  memaknai benda bertasbih.

Upaya memberikan makna kehidupan merupakan hal yang bersifat personal dan privasi. Semuanya tidak lepas dari tujuan dia melangkah. Ini dapat terlihat dari ujaran yang disampaikan atau tampilan gerak gerik yang dipertontonkan, maka tidaklah mengherankan bila orang satu dengan orang lain terkadang berbeda persepsi  dalam  melihat hal tersebut.

Di era milenial ini, berdasarkan teori kasta bahwa pengelompokan manusia dapat  terbagi menjadi empat strata yakni sudra, waisa, satria dan brahmana. Pengelompokan ini bukan menitikberatkan jumlah kekayaan yang dimiliki, melainkan berdasarkan  mind sett ( pola pikir ) di saat dia berkarya di tengah maasyarakat.

Pengelompokan ini  dalam rangka memberikan parameter pada masyarakat, bahwa di luaran sana masih ada orang yang berlaku jujur dan ikhlas manakala membantu orang lain. Baginya kepuasan berkarya tidak harus berwujud limpahan materi (uang/barang), tetapi mampu meringankan beban orang lain adalah satu kepuasan tersendiri. Sebaliknya di luar juga tidak sedikit  orang yang pasang tarif  manakala tenaga dan pikirannya dimintai bantuan oleh tetangga kanan kiri, sehingga setiap kali melangkah pikirannya hanya rupiah dan rupiah.  Potret – potret dikotomi seperti ini akan terus berjalan seirama perkembangan dunia.

Kasta pertama adalah sudra. Siapa sih yang berkategori sudra ? Dalam teori pembagian kasta kelompok sudra adalah kelompok miskin papa. Dalam pemaknaan yang lebih luas bahwa kelompok sudra adalah sekelompok manusia yang orientasi hidupnya hanya mengerjar kenikmatan dunia. Orientasi kehidupan dari perut ke perut, dapat hari ini babis  hari ini. Potret kehidupan seperti ini banyak dijumpai di sekitar kita. Secara umum pendapatan mereka cukup,  namun pendapatan  tersebut  hanya dihabiskan untuk kepentingan sesaat yakni makan, minum dan memenuhi kesenangan pribadi seperti berkaraoke, dugem, dan lain-lain.

Kelompok waisa adalah kelompok karya / kelompok pekerja. Kelompok ini satu tingkat lebih baik dari sudra. Kelompok ini orientasi bekerja atau berkarya selain untuk makan juga investasi masa depan ( menabung ). Pendapatannya  tidak seratus persen dihabiskan untuk kepentingan konsumsi belaka namun juga ada cadangan masa depan, sehingga kelompok waisa ini lebih kreatif dan inovatif dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Kelompok satria atau kelompok ketiga merupakan kelompok yang memadukan kepentingan perut dan kepentingan prestasi. Indikasi kelompok satria adalah adanya nuansa untuk menjadi nomor satu atau ingin merasa dirinya harus lebih baik dari orang lain. Kelompok ini sangat mudah dilihat dari tampilannya. Bahkan dalam setiap pembicaraan selalu menunjukan prestasi – prestasi yang pernah diraihnya. Kelompok satria merupakan zona rawan konflik. Karena pada kelompok ini orang berlomba – lomba butuh pengakuan, sehingga wajar jika pada zona ini muncul trik-trik politik untuk mencapai puncak prestasi.

Brahmana adalah kelompok tertinggi dalam kasta pergaulan di masyarakat. Brahmana bukan sekedar tampilan lahiriah tapi juga pola pikirnya. Jika kedua dapat menyatu akan melahirkan sikap damai bagi orang tersebut. Indikator sikap brahmana dalam kehidupan sehari adanya perasaan ikhlas, sabar dan optimis. Keberhasilan dan kegagalan adalah dinamika dalam berkarya. Ketika berhasil tidak takabur, ketika gagal juga tidak mengeluh, karena baginya itu adalah cobaan dari Yang Maha Kuasa.

Semangat brahmana juga bisa ditampilkan oleh siapa saja seperti pelajar/mahasiswa, pegawai/pejabat, politikus, atau aparat keamanan. Jika ada yang berasumsi bahwa kelompok brahmana domainnya  para pemuka agama adalah kurang tepat. Memang selama ini para pemuka agama dari aspek lahiriah tampilan sangat relevan untuk dikelompokan brahmana. Namun, apakah dari aspek pola pikir ( mind sett) sesuai? Belum tentu.  Banyak pemuka agama masih berpikiran ingin menjadi yang paling hebat atau paling pintar. Bahkan tidak jarang mereka berlomba – lomba untuk menjadi orang nomor satu di dearahnya.

Lalu mungkinkah pelajar / mahasiswa / santri masuk ke ranah sudra, waisa, satria atau brahmana. Jawabnya mungkin. Untuk mengelompokkan pelajar/santri/mahasiswa ke dalam empat kelompok dapat  dilihat dari motivasi mereka belajar.  Karena realita di lapangan banyak orang tua dibuat pusing oleh prilaku – prilaku mereka dengan melakukan transaksional yakni guna memuluskan niatnya dan sekolah sebagai alat penawarnya. Bila tawarannya tidak disetujui maka sekolah end.

Tabel Pengelompokan Siswa Berdasarkan Motivasi

No Kelompok Indikator
1 Sudra 1.      Hanya ingin mendapatkan uang saku

2.      Bebas dari pekerjaan rumah

3.      Bertemu pacar

4.      Bebas bermain,

5.      Tidak pernah mengerjakan tugas/PR

6.      Sulit diberi masukan/nasihat,  dll

2 Waisa 1.      Hemat uang saku

2.      Aktif  kegiatan sekolah

3.      Siap melanjutkan /bekerja

4.      Tertib

5.      Yang penting mengerjakan tugas/PR dll

3 Satria 1.      Ingin selalu berprestasi

2.      Tugas selesai tepat waktu

3.      Tidak pernah mengelak mendapatkan  tugas dari sekolah

4.      Selalu berpenampilan prima

5.      Egois, dll

4 Brahmana 1.      Pamit bapak ibu sebelum berangkat

2.      Tidak mudah menyerah

3.      Jujur

4.      Suka berbagi,

5.      Sabar menerima kritik, dll

 

Jeneng atau jenang

Membicarakan manusia memang selalu menarik. Ketika tidak punya pekerjaan minta pekerjaan. Ketika dapat pekerjaan, gajinya kurang sesuai. Ketika dapat gaji gede, katanya pekerjaannya tidak sesuai dengan hati nurani. Persepsi  seperti ini, akan terus bergulir dari waktu ke waktu hingga tiada berujung.

Orientasi bekerja secara umum dapat dibedakan menjadi dua yakni memburu jeneng ( nama baik ) atau memburu jenang (upah/gaji). Bagi yang memburu jeneng, bekerja merupakan ladang untuk menorehkan prestasi. Dia akan konsen terhadap tanggung jawabnya. Nama baik adalah jaminan untuk bekerja secara optimal. Kepuasan pelanggan atau konsumen adalah harga diri yang harus dijaga.

Hal ini berbeda dengan yang mengejar jenang yakni mereka berusaha dengan modal yang terbatas namun berusaha memperoleh keuntungan yang berlimpah. Mereka tidak perduli  kualitas kerjanya atau kualitas karyanya. Perkara instan/ copy paste  bukan persoalan yang yang harus dipusingkan yang penting memperoleh keuntungan berlimpah. Kondisi seperti ini, sekarang sudah merebah ke segala sudut ruang kerja.

Barang siapa yang bekerja mencari jeneng isya allah jenang akan turut serta. Namun sebaliknya, jika bekerja berorientasi jenang kemungkinan jeneng ( nama harum)  belum tentu.

Maka dari itu, pilihlah yang tepat dalam berkarya, jangan sampai nama baik yang sudah disandang  selama ini hancur karena keegoisan dalam berkarya.

Prestasi okey, rizki halalan thoyibah yes.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.