Kongres BEM PTNU VI Nusantara di Unwahas Semarang

0
2067
BEM PTNU VI
Poster BEM PTNU

KONGRES BEM PTNU VI NUSANTARA “Meneguhkan Peran Serta BEM PTNU dalam Menangkal Radikalisme dan Terorisme” adalah tema besar pada Kongres BEM PTNU se Nusantara ke – VI, yang akan di selenggarakan pada tanggal 26 s.d 29 April 2018 di Universitas Wahid Hasyim Semarang.

“Unwahas mendukung penuh rencana Kongres BEM PTNU 2018. Tema yang diusung delegasi mahasiswa ini juga sangat menarik karena radikalisme dan terorisme tidak boleh mendapat tempat di bumi Indonesia,” tutur Rektor Unwahas, Prof Dr Mahmutarom, Minggu (11/3).

Kongres BEM PTNU Nusantara ke VI ini, adalah kali kedua terselenggara di Universitas Wahid Hasyim setelah sebelumnya terlaksana pada tahun 2008.

Universitas Wahid Hasyim, terpilih sebagai tuan rumah kembali selain karena hasil keputusan musyawarah bahwa kegiatan Kongres supaya di selenggarakan di tengah-tengah Jawa Tengah untuk memudahkan akses peserta, yaitu di karenakan Presidium Nasional BEM PTNU adalah Bustana Afthoni dari Universitas Wahid Hasyim.

Dengan salah satu tujuan kegiatan adalah sebagai peneguhan PTNU sebagai Kampus Aswaja Islam Nusantara dan menjadikan PTNU sebagai Pusat Kaderisasi Paham Kebangsaan, kegiatan ini akan menghadirkan beberapa Narasumber ahli di bidangnya seperti Kemenristekdikti, BNPT, POLRI, Kemenag dan LPTNU.

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) berdiri pada tahun 2007 di gedung PBNU, adapun Perguruan Tinggi yang tergabung dalam organisasi ini adalah perguruan tinggi yang berada di bawah struktur NU dan secara kultural memiliki kesamaan visi dan misi dengan NU.

Sementara sampai sejauh ini regionalisasi yang di tetapkan adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jabodetabek, Bali, Papua, Indonesia Timur dan Sumatera – Kalimantan.

BEM PTNU di harapkan mampu menjadi sebuah aset bangsa yang bermanfaat dalam peningkatan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia di Indonesia.

Melihat pada era milenial ini, terdapat hasil survei terbaru dari Mata Air Foundation dan Alvara Research Center, bahwa sebanyak 23,4% mahasiswa dan 23,3% pelajar SMA setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam atau khilafah.

Hal ini mengkhawatirkan penetrasi ajaran intoleran sudah masuk di kalangan pelajar, kemudian diperkuat saat menjadi mahasiswa melalui kajian-kajian di kampus, kemudian media sosial, di tambah lagi berdasarkan hasil survei bahwasanya mahasiswa lebih mengenal ulama yang populer di televisi daripada ulama-ulama pondok yang ahli agamanya. Tentunya ini adalah tantangan dan peringatan bagi Perguruan Tinggi terutama PTNU yang melalui LPTNU dan juga di organisasi di kalangan mahasiswa BEM PTNU turut berperan aktif dalam menangkal radikalisme dan terorisme.
Kegiatan yang akan di hadiri oleh sekitar 250 peserta perwakilan Perguruan Tinggi NU se Indonesia ini, mendapat apresiasi tinggi oleh beberapa pejabat di kalangan NU, di antaranya adalah Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Prof.Dr.H. Noor Achmad, MA, beliau berharap setelah terselenggarakannya kegiatan ini, BEM PTNU lebih mampu memahami nilai-nilai Pancasila untuk mencegah faham-faham yang menodai bangsa, agama, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia serta menjaga keutuhan NKRI.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.