Memori Kolektif sebagai Jembatan Dialog

0
1354
Tedi Kholiludin (kiri) dan Izak Lattu (kanan) saat memberikan paparan dalam diskusi Bedah Disertasi, Selasa (20/2) kemarin. Foto: Iwan Madari.

Semarang, nujateng.com – Salah satu instrumen penting dalam membangun hubungan-hubungan rekonsiliatif adalah dengan cara pemeliharaan terhadap memori kolektif. Sayangnya, dalam dialog lintas iman, ingatan bersama tentang kebudayaan sebuah masyarakat masih belum mendapatkan tempat. Kesan yang akhirnya muncul adalah dialog menjadi sangat elitis dan formalistik.

Isu ini mengemuka dalam Diskusi Seri Bedah Disertasi yang dilaksanakan oleh Pengurus Wilayah Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, di Kantor PWNU Selasa 21/2 kemarin. Diskusi menghadirkan narasumber Izak Lattu Ph.D dan Tedi Kholiludin serta diikuti oleh puluhan pegiat lintas iman dan mahasiswa.

KH. Abu Hapsin, PhD, Ketua PWNU Jawa Tengah dalam sambutannya mengatakan bahwa kajian yang didedah menjadi penting sebagai bahan alternatif dalam menguatkan semangat kesatuan. Pendekatan kebudayaan harus terus digali. “Negara kita ini kaya sekali dengan kebijaksanaan lokal atau local wisdom, tapi ketika berbicara tentang kebangsaan yang dominan selalu pendekatan dari atas. Perlu dan bahkan mungkin harus terus diperkaya cara pandang sebaliknya,” terang Abu Hapsin.

Izak yang meneliti peran memori kolektif dalam membangun hubungan antara kelompok Islam dan Kristen di Maluku mengatakan bahwa ruang untuk dialog lintas agama selama ini didominasi oleh pendekatan teks, filosofis dan teologi. Jarang sekali yang menyentuh ranah sosiologis dan antropologis.

Izak, yang juga pengajar di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga itu mengatakan bahwa ada ruang baru yang belum dikaji, terutama dalam kaitannya dengan tradisi lisan dan performance atau pertunjukan. “Lagu juga berperan sangat penting dalam menjaga ingatan. Lagu-lagu tradisional di Maluku menjadi instrumen pemersatu meski mengalami transformasi,”kata Izak.

Dalam praktiknya, lanjut Izak, cara merawat ingatan kolektif dilakukan dengan jalan menarasikannya dari generasi ke generasi plus memahami filosofi kebudayaan yang diserap dari nyanyian-nyanyian rakyat menjadi sesuatu yang penting, utamanya bagi masyarakat Maluku yang pernah didera konflik berdarah.

Sementara itu, Sekretaris PW Lakpesdam NU Jateng, Tedi Kholiludin bahwa memori kolektif itu sesungguhnya bersifat netral saja. “Pada perkembangannya ia bisa menjadi pemersatu atau juga pemisah. Menurut saya, disinilah peran utama dimainkan oleh naratornya. Memori kolektif menjadi pemersatu atau pemisah tergantung bagaimana sang agen menarasikannya,” terang Tedi yang juga pengajar di Universitas Wahid Hasyim tersebut.

Tedi melanjutkan bahwa memori kolektif sebuah kelompok tentang dirinya itu dipengaruhi oleh bagaimana kelompok tersebut mengkonstruksi mengkonstruksi kelompok yang lain. Ia mencontohkan bagaimana ingatan bersama masyarakat Palestina tentang bangunan identitas dirinya. Memori kolektif mereka banyak mengacu pada kisah-kisah yang traumatik.

Menanggapi hal ini, Izak tidak menampik bahwa memori kolektif punya dua sisi. Namun, dalam konteks masyarakat multikultural, cerita bersama tentang sesuatu yang menyatukan, tentu saja harus terus dikumandangkan. [Yono/001]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.