Filantropi Islam Penting untuk Kemaslahatan Umat

0
1026
(Dari Kiri) Prof. Dr. Siti Mujibatun, M.Ag, Dr, H. Ahmad Furqon, LC ,MA, Prof Dr. Abdul Halim Molid Noor, dan Dr. H. Mohammad Saladin Abdul Rasool dalam acara seminar Islamic Philanthropy “Peran Wakaf dalam Pengembangan Ekonomi Umat di Malaysia dan Indonesia” yang dilaksanakan di ruang sidang rektorat lantai 3, kampus 1 UIN Walisongo Semarang, Jumat (8/12/2017). Foto: Abdus Salam

Semarang, nujateng.com –  Tantangan dalam pengembangan lembaga filantropi islam zakat dan wakaf di Malaysia yaitu karena aset wakaf yang belum dimanfaatkan sepenuhnya dan zakat  relatif lebih maju dalam bentuk pembangunan. Selain itu, integrasi antara zakat memiliki lebih banyak ruang untuk dijelajahi.

Pandangan tersebut diungkapkan Dosen Universti Teknologi Mara (UTM), Melaka, Malaysia, Prof Dr. Abdul Halim Molid Noor, pada seminar Islamic Philanthropy “Peran Wakaf dalam Pengembangan Ekonomi Umat di Malaysia dan Indonesia” yang dilaksanakan di ruang sidang rektorat lantai 3, kampus 1 UIN Walisongo Semarang, Jumat (8/12/2017).

“Tantangan selanjutnya yaitu dilema antara pemerintah dan NGO dan dilemma pasar dengan non pasar” jelasnya.

Menurut Prof Abdul Halim Molid,  meski filantropi tidak sepopuler dengan ekonomi tapi itu sangat penting untuk dikembangkan dan perlu digembleng pada tenaga manusia untuk meningkatkan kemaslahatan masyarakat.

“Di Indonesia saya melihat wakaf hanya ditujukan untuk pemakaman/kuburan, masjid dan sebagainya,” katanya.

Dosen UTM ini juga membeberkan langkah-langkah  untuk memperkuat sektor filantropi Islam dan membawanya ke arus ekonomi utama yaitu dengan cara memprioritaskan lembaga Islamic Philanthropy (IP) sebagai institusi inti untuk keadilan sosial termasuk yayasan swasta dalam agenda Asean economic community (AEC) selain itu juga untuk menekankan peran memberi dalam agenda sosial.

“Terlepas dari fokusnya pada isu ekonomi, AEC juga mengalokasikan cukup banyak porsi untuk mengembangkan komunitas filantropi. Untuk mengembangkan kemandirian wakaf di negara ASEAN perlu adanya pendirian bank wakaf,”jelas  Prof Abdul Halim Molid.

Sementara itu, Dr. H. Mohammad Saladin Abdul Rasool, yang juga dosen dari UTM Malaysia, menjelaskan bahwa kepentingan penelitian dalam bidang filantropi yaitu untuk menjelaskan hukum berkaitan zakat dan wakaf, mengenal pasti dan mengetahui banyak unsur-unsur yang saling berkaitan dalam bidang zakat dan wakaf.

“Membantu membina strategi dan teknik yang lebih berkesan dan sesuai untuk menyuburkan budaya zakat dan wakaf  serta mengembangkan disiplin ilmu zakat dan wakaf dengan menemukan sumber-sumber baru zakat dan wakaf,”jelasnya pada para peserta seminar.

Sedangkan di Indonesia sendiri, menurut Dr. H. Ahmad Furqon, LC ,MA yang juga pemateri  dalam seminar tersebut menjelaskan jika mayoritas orang Indonesia adalah orang Islam maka mayoritas orang miskin di Indonesia juga orang Islam.

“Hutang bukan jalan satu-satunya yang baik, kalau bisa menghindari hutang, solusinya yaitu dengan memunculkan instrument pemberdayaan Islam yaitu zakat dan wafak,” ujar Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam UIN Walisongo Semarang.

Menurut Dosen FEBI UIN Walisongo Semarang ini, Wakaf tanah 90% tidak produktif dan itu merupakan kondisi riil yang terjadi sedangkan  Wakaf uang di Indonesia sangat berpotensi namun potensi itu tidak sesuai dengan kenyataannya dan masih jauh.

“Untuk meningkatkan perekomnomian umat dengan zakat dan wakaf  yaitu dengan cara meningkatkan kualitas SDM umat sehingga dapat bekerja cerdas, meningkatkan kesehatan umat yaitu dengan melakukan layanan kesehatan cuma-cuma. Contohnya yatu dengan melakukan wakaf produktif seperti wakaf hotel, SPBU,  dan rumah makan (perekonomian) dan wakaf pertanian,” jelasnya.

Seminar tersebut diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi Bisnis Islam UIN Walisongo Semarang bekerjasama dengan Universiti Teknik Mara, Malaya, Malaysia. Sebagai salah satu cara untuk mengembangkan ilmu pengetahuan mahasiswa dan dosen. (Abdus Salam/003)