Lima Inspirasi KH MA Sahal Mahfudh

1
292864

Pati, nujateng.com – Berbagai macam cara dilakukan masyarakat untuk memeriahkan Hari Santri Nasional (HSN), seperti halnya mahasiswa Program Studi Manajemen Zakat Wakaf, IPMAFA Kabupaten Pati dengan menggelar bedah buku “Biografi Intelektual KH MA Sahal Mahfudh, Pergulatan Fikih Sosial Dalam Realitas Empiris” di Auditorium IPMAFA Pati, Sabtu (21/10/2017). Dengan menghadirkan narasumber  penulis buku dan Wakil Ketua PCNU Pati, Dr. Jamal Ma’mur Asmani, MA, dan Dr. A. Zaenurrasyid, M.A, Dosen IPMAFA dan santri KH. MA. Sahal Mahfudh.

Menurut Jamal, yang juga ketua HSN PCNU Pati, tantangan santri sekarang dan di masa depan sangat kompleks, karena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang meluluhlantakan batas dunia dan membuat kompetisi ekonomi semakin massif dan eskalatif. Realitas ini  menjadi tantangan serius kaum santri. Santri harus mampu mengambil tanggungjawab besar ini dalam rangka meneruskan estafet kepemimpinan ulama.

Dalam konteks ini, tidak ada pilihan bagi santri kecuali siap menghadapi tantangan tersebut dengan membekali diri dengan kemampuan – kemampuan besar yang dibutuhkan di masa sekarang dan yang akan datang.

Jamal, menjelaskan, figur KH MA Sahal Mahfudh sangat tepat dijadikan inspirasi santri sekarang untuk melangkah dan mencapai prestasi besar. Kiat-kiat yang dilakukan KH MA Sahal Mahfudh dalam menggapai sukses yitu, katsratul muthalaah (banyak membaca).

“Kiai Sahal selalu membaca karya-karya terbaru untuk mengikuti perkembangan ilmu dan informasi,”jelas Kang Jamal, sapaan akrabnya.

Kedua, katsratul kitabah (banyak menulis). Banyak sekali karya yang dihasilkan Kiai Sahal, seperti Thariqatul Husul, Al-Bayanul Mulamma’, Intifahul Wadajain, Nuansa Fiqh Sosial, Pesantren Mencari Makna, Dialog dengan KH. MA. Sahal Mahfudh, dan lain-lain. Ketiga, katsratul munadharah (banyak berdiskusi).

“Sejak di Pesantren, Kiai Sahal aktif mengadakan halaqah keilmuan sebagai wahana tukar gagasan. Kiai Sahal juga aktif dalam forum Bahtsul Masail sebagai wahana dinamisasi pemikiran dalam forum diskusi pesantren dan Nahdlatul Ulama,”jelasnya.

Keempat, katsratun nidham (banyak berorganisasi). Kiai Sahal memulai karir organisasi dari bawah sampai puncak. Kiai Sahal sangat berpengalaman menangani lembaga pendidikan dalam naungan Ma’arif, pondok pesantren dalam naungan Rabithah Ma’ahid Islamiyah, dan lain-lain.

Rais Am Syuriyah PBNU dan Ketua Umum Pusat MUI adalah dua jabatan yang lahir dari konsistensi dalam berorganisasi. Kelima, katsratur riyadlah (banyak tirakat), seperti shalat tahajjud, makan minum sesuai kebutuhan (tidak berlebih-lebihan), ziarah ke makam Syekh Ahmad Mutamakkin, dan selalu menjaga lisan.

Dengan lima langkah ini, santri menjadi kaya wawasan dan gagasan, mampu mengartikulasikan pemikiran dan gagasan dengan lisan dan tulisan, mampu mengorganisir seluruh kekuatan untuk melakukan transformasi sosial dalam segala aspek kehidupan, dan mempunyai stabilitas emosi dan kematangan spiritual.

Sementara itu ditambahkan Dosen IPMAFA, Dr. A. Zaenurrasyid, MA, mengatakan, KH MA Sahal adalah sosok yang selalu menjadi teladan bagi para santri dan umat. Ketika mengajar di Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) Kajen, Kiai Sahal selalu datang tepat waktu, sehingga siswa datang lebih awal. Jika ada siswa yang datang terlambat lebih baik tidak masuk kelas karena segan kepada Kiai Sahal.

Dalam konteks Hari Santri Nasional ini, apa yang dilakukan KH. MA. Sahal Mahfudh harus dilanjutkan para santri sekarang, sehingga ke depan mereka mampu meneruskan perjuangan ulama-ulama yang sudah mendahului.

“Kualitas para santri di masa depan dengan tantangan yang semakin kompleks seyogianya harus lebih dinamis dan kompetitif sehingga mampu berperan aktif dalam percaturan dunia yang semakin ketat,”tandasnya. (003/003)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.