Tantangan Menjaga Kebhinekaan di Salatiga

0
1440
Dari Kiri ke Kanan: Mohammad Akbar, Tedi Kholiludin dan Pdt. Waluyo. Foto: Elia Tambunan.

Salatiga, nujateng.com – Seperti halnya banyak kota lain di Indonesia, Salatiga memiliki tantangan besar dalam mengelola kemajemukan. Mempertahankan reputasi sebagai kota toleran di Jawa Tengah menjadi tidak mudah ditengah menguatnya kontestasi antar kelompok keagamaan. Ditambah, segala perebutan kepentingan politik, kerapkali mengorbankan nilai.

“Sebagai kota yang dikenal sejuk, multikultural dan damai, harus diakui, fenomena sekarang menunjukkan mulai ada pergeseran. Mulai agak terasa sesak sekarang,” kata Mohammad Akbar, Ketua PC Lakpesdam NU Kota Salatiga, saat membuka diskusi “Menjaga Indonesia tetap Bhinneka: Respon Agama-agama terhadap Persoalan Kemanusiaan,” yang diselenggarakan oleh PW Lakpesdam NU Jawa Tengah bekerjasama dengan PC Lakpesdam NU Kota Salatiga, Senin (11/9) kemarin. Kegiatan yang dihelat di Lantai II Gedung PCNU Kota Salatiga tersebut diikuti oleh 40-an peserta yang berasal dari Lembaga dan Banom Nahdlatul Ulama (NU), Gusdurian, Aktivis PMII, serta pegiat lintas iman Kota Salatiga.

Selain Akbar, kegiatan yang merupakan rangkaian koordinasi PW-PC Lakpesdam itu juga menghadirkan Pdt. Waluyo dari Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU) dan Tedi Kholiludin dari PW Lakpesdam. Diskusi tersebut berbicara tentang konteks global, nasional maupun lokal, terutama yang berkaitan dengan kontribusi agama dalam mengupayakan perdamaian.

Pdt. Waluyo mengatakan, gencarnya media dan pemberitaan tentang konflik bernuansa agama, memang menjadi salah satu sebab munculnya kesimpulan bahwa agama merupakan sumber perpecahan.

“Ini tentunya berbahaya. Ada persoalan di belakang kegaduhan yang terjadi. Jika agama adalah sumber perdamaian, bagaimana kita memahami kekerasan yang berlatarbelakang semangat keagamaan seseorang,” tambah dosen Fakultas Teologi UKSW Salatiga.

Terhadap fenomena ini, Waluyo mengatakan, bahwa yang terjadi adalah manusianya yang gagal paham. “Dalam Kekristenan juga mengalami hal pahit, sisi gelap. Ada manusia yang tekstualis, dan tidak mampu menangkap konteks dimana teks itu turun,” imbuh Waluyo. Mereka yang tekstualis, potensial menjadi radikal dan fundamentalis.

Pada akhirnya, kata Waluyo, aktor keagamaanlah yang menentukan. Karena, teks itu dihidupkan oleh aktor. Perdamaian agama akan sangat menentukan perdamaian sebuah bangsa.

Dari sudut pandang yang berbeda, dalam masyarakat industrial dan heterogen konflik itu sangat mudah tercipta. “Ada persaingan disana, karena muncul masyarakat ekonomi baru. Jadi bukan agama yang menjadi sumber konflik, tapi kepentingan masyarakat modern. Agama kemudian terseret,” kata Waluyo.

Akbar menambahkan, kalau memahami Indonesia yang begitu besar, terdiri dari berbagai suku dan agama serta bahasa, yang tersebar di ribuan pulau, betapa repotnya mengurusi negara sebesar ini. “Tetapi para pendiri bangsa kita luar biasa, ada Pancasila. Bayangkan kalau kita kembali kepada hukum adat misalnya, tentu kita tidak bisa menjadi masyarakat yang ekual,” terang peneliti di Percik Institute ini.

Sementara itu, Tedi Kholiludin mengatakan bahwa salah satu tujuan diskusi yang dilaksanakan adalah untuk melihat bagaimana masyarakat muslim di Salatiga merespon pelbagai isu; baik level nasional maupun global. “Jadi, saya sebenarnya hanya memantik saja. Apakah masyarakat Salatiga terdampak oleh isu yang ada di nasional seperti Pilkada di Jakarta atau kasus Rohingya di Myanmar,” Tedi membuka dan menyampaikan tujuan dihelatnya diskusi.

Tentang hal ini, Akbar menambahkan kalau Salatiga itu sebuah kota yang ada dalam proses dinamis. “Saya kira tidak berlebihan kalau tantangan menjaga kebhinnekaan itu memang ada dan harus kita cermati,” tutur Akbar.

Ellia Tambunan, peneliti tentang dinamika ekonomi dan politik Salatiga, turut memberikan sumbangsih ide yang menurutnya identitas apapun bisa ada dan duduk berdampingan di Salatiga, asal ada pemerataan yang jelas dari sudut pandang ekonomi.

Mahasiswa program doktor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogjakarta itu mengatakan bahwa sesungguhnya yang terjadi, seperti dalam sejarah masuknya agama-agama itu ditandai dengan pembagian kawasan. “Salatiga juga. Ada pembagian ruang disana. Kalau dari sudut pandang ekonomi dan politik, kohesi sosial terbentuk karena ada keseimbangan dalam bidang ekonomi,” kata Elia. [Yono/001]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.