Relasi Struktural Memerlukan Dukungan Kultural

0
1790
Izak Y.M. Lattu sedang menyampaikan materi tentang Ritual, Simbol dan Narasi Lisan dalam Hubungan Lintas Agama di Tana Toraja. Foto: Wahib

Dari Diskusi “Simbol, Ritual dan Narasi Hubungan Lintas Agama di Tana Toraja”

Semarang, nujateng.com –Dukungan kultural menjadi sangat penting untuk menopang relasi struktural. Pancasila sebagai kekuatan di level struktur misalnya, tidak akan memiliki arti jika tidak ada dukungan kuat secara kultural. Dukungan itu ada dalam relasi di masyarakat. Melihat bagaimana kebijaksanaan lokal berkembang dan menjadikannya sebagai kekuatan untuk membangun relasi positif.

“Indonesia memiliki banyak narasi, simbol dan ritual yang berkembang di masyarakat. Diskusi kita malam ini salah satunya bertujuan untuk menunjukkan tentang kekayaan budaya kita. Bukan berarti kita tidak boleh belajar kepada negara lain, tetapi utamanya tentu yang ada di nusantara,” kata Izak Y.M. Lattu, Dosen Fakultas Teologi dan Program Pascasarjana Sosiologi Agama, Unversitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga.

Izak menyampaikan hal tersebut dalam diskusi bulanan bertajuk “Simbol, Ritual dan Narasi Hubungan Lintas Agama di Tana Toraja” yang diselenggarakan oleh Institute of Peace and Security Studies (IPSS), Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) dan PW Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama Jawa Tengah. Kajian bulanan yang dilaksanakan di Pusat Informasi Publik (PIP) Balaikota Semarang, Jumat (29/9) itu dihadiri oleh 50-an peserta yang terdiri dari aktivis lintas iman, mahasiswa dan masyarakat umum.

Kajian terhadap persoalan lintas agama, kata Izak, sangat banyak didominasi oleh perspektif teologi dan filsafat. Sangat sedikit kajian yang diangkat dari sisi budaya lisan. “Pengetahuan bisa datang dari bintang di langit, tapi juga sarang semut di tanah. Saya memilih untuk mengambil sarang semut di tanah,” terang ayah dua anak tersebut.

Toraja merupakan daerah yang menjadi objek kajian Izak. Orang biasa mengenal Toraja melalui ritual manene, mengganti keluarga yang sudah meninggal. “Saya mengajukan sebuah pertanyaan penelitian; mengapa kekerasan atas nama agama tidak terjadi di Toraja? Setidaknya tidak terjadi secara terbuka. Padahal mereka jadi korban di era DI/TII,” tanya Izak.

Di Toraja, kata Izak, ada banyak masjid besar yang jemaat tetapnya sangat sedikit. Namun, masyarakat Toraja yang Kristen tidak pernah mempersoalkan hal tersebut. “Ketika saya tanya kepada pengurus masjid, mereka menyiapkan masjid itu untuk mereka yang sedang dalam perjalanan sehingga bisa mampir untuk melaksanakan sholat. Dan ketika hal tersebut ditanyakan kepada umat Kristen, mereka tidak keberatan dengan hal tersebut. Tidak pernah ada cerita bahwa masjid dilempari atau dirusak,” Izak bertutur.

Bagi masyarakat Toraja, ritual merupakan pusat kehidupan mereka. Dengan ritual, mereka bisa menemukan identitasnya. Orang bisa membangun komunikasi dengan yang lain. Menemukan pengetahuan tentang communitas dan sharing pengetahuan. “Communitas itu bukan community. Ini istilahnya Victor Turner. Communitas adalah ikatan yang kuat dalam kehidupan grup dimana orang merasa terikat satu dengan yang lain dalam spirit comradeship atau sebentuk kesetiakawanan yang membuat orang terikat dalam ritual dan simbol,” jelas alumnus Graduate Theological Union (GTU), Berkeley University tersebut.

Pentingnya ritual misalnya tercermin dalam rambu solo atau ritual duka cita. Ini merupakan aktivitas mengantar yang sakit menuju Puya atau surga. Warna dominannya hitam dan merah. Menurut masyarakat tersebut, dua warna ini adalah lambang sunset, matahari tenggelam. Manusia kembali ke yang maha kuasa.

Penting juga disebut fungsi Tongkonan atau rumah adat Toraja yang atapnya melengkung. Tongkonan itu semacam axis mundi, pusat dunianya orang Toraja. Disana mereka menemukan identitas, kisah dan disanalah mereka menikmati kehidupan akhir sebagai keluarga sebelum dimakamkan bersama keluarga lain di Pattani, Kubur batu atau di tanah.

Yang menarik dari ritual adalah peran Tominaa. Mereka adalah orang suci yang dalam pelbagai ritual, makanya menggunakan kain putih. Ia adalah orang penting dalam ritual sebagai agen untuk mendistribusikan narasi. Tominaa membaca narasi sekarang dan narasi yang akan datang.

Dalam ritual rambu tuka (suka cita) seperti pernikahan misalnya. Saat orang datang, Tominaa akan mengatakan bahwa yang datang itu adalah laki-laki yang gagah atau perempuan cantik. Dan disitulah banyak narasi diceritakan. Orang yang berbeda agama seperti apapun, bisa menjelaskan darimana mereka berasal. “Ini semacam narasi tempat, narasi pulang, narasi tanah dan terus diceritakan dalam ritual,” tutur pendeta Gereja Protestan Maluku (GPM) itu.

Salah satu narasi yang sering dijadikan sebagai pusat cerita adalah tentang tokoh mythical Toraja bernama Lakipadada. Beberapa sumber menyebut bahwa Lakipadada adalah seorang laki-laki dari Toraja yang datang ke Kerajaan Goa. Ketika itu sang putri raja sedang sakit dan kemudian dia bisa menyembuhkannya. Lakipadada kemudian diangkat menjai menantu raja yang kemudian kemudian menghasilkan beberapa keturunan raja.

Dalam kisah Toraja, urai Izak, keturanan raja dari Luwu, Goa dan Bone itu berasal dari lakipadada. Dalam suasana ritual, orang-orang dari Luwu dan Bone yang sebagian besar muslim itu datang karena merasa berasal dari Toraja.

Disinilah identitas agama kemudian melebur dalam identitas etnis. Orang masih datang dengan jilbab dan kalung salib, tetapi perbeaan agama itu membaur dengan identitas budaya. “Tapi mereka tetap dengan jilbab dan kalung salibnya. Itu tidak ditanggalkan, namun tetap bisa membaur,” beber Izak.

Perjumpaan itu membuat mereka berjumpa di ruang ketiga, third space atau bisa juga disebut sebagai ruang hibridasi. Identitas agama melebur dalam suasana etnisitas dan communitas. Dalam setiap rambu tuka atau rambu solo, orang bicara tentang narasi Lakipadada. Narasi ini berkembang sebagai second orality atau oralitas kedua.

Mengakhiri pembicaraan, Izak mengatakan bahwa menjadi Indonesia itu tidak bisa hanya berharap pada kebijakan negara dan relasi struktural, tapi juga relasi kultural. Disitulah akan ditemukan kekuatan untuk mengimajinasi orang yang berbeda. Dan itulah ikatan sebagai bangsa. Ditengah persoalan yang berkaitan dengan isu agama, narasi-narasi lokal harus terus diapungkan untuk menjadi pembicaraan pada aras nasional. Supaya kita tahu kalau kita masih punya harapan. Kita berbeda tapi bisa hidup bersama. [T-Kh/001]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.