Prof Imam Taufiq: Dai Televisi Perlu Penguatan SDM

0
2110

Semarang, nujateng.com- Adanya dai (pendakwah) yang kurang tepat dalam menyampaikan ceramah dalam sebuah stasiun televisi merupakan fenomena gunung es. Akar persoalan sebenarnya sudah lama menjadi perhatian para kiai di lingkungan pondok pesantren, yakni kurang selektifnya memilih dai untuk sebuah program di layar kaca.

“Malah yang menjadi perhatian adalah strategi dakwah termasuk penguatan SDM (sumber daya manusia) pedai-pendai itu. Para profesor PTKIN, juga komentar (soal ini) dan yang menjadi isu krusial itu kenapa para profesor (UIN) tidak laris di televise,” tutur Prof. Dr. Imam Taufiq, saat ditemui di kediamannya, Rabu, (19/7/17), malam.

Jika ditelaah mendalam, betul apa yang menjadi pertanyaan para civitas akademik di lingkungan perguruan tinggi Islam. Pendakwah yang laris di televisi masih jarang yang betul-betul memahami ilmu agama. Terlebih pendai itu bukan alumni pondok pesantren, melainkan belajar agama ”karbitan”.

Kurang Kemasan

”(Setelah dicermati persoalannya) ya karena kurang kemasan. Seharusnya alumni UIN, mengemas dakwah dengan entertainment yang bagus. Nah, kalau itu (dai televisi) kan produk idol yang sekadar ditempa ketika bulan Ramadhan, tapi tidak menafikan kemampuan mereka yang sebelumnya dari pesantren,” tambahnya.

Pengasuh Pondok Pesantren B-Songo ini mengatakan, seleksi pendakwah di dunia entertainment terkadang terlalu fokus ke bisnis. Sehingga peserta-peserta yang bagus dan betul-betul mumpuni menjadi pendakwah, akhirnya tersisih. Karena mereka tidak punya modal untuk promosi.

”Yang punya kemampuan bagus, pinter, dan pemahaman sirah nabawiyah-nya juga kuat malah kalah. Misalnya dulu ada anak fakultas ushuludin UIN, itu kurang apa di acara Aksi Indosiar, dia alumni pesantren, hafal al-Quran, suaranya bagus, kurang apa dia, tapi ya kalah,” tandasnya. [Ceprudin/002]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.