Percakapan tentang Pesantren dalam “Polemik Kebudayaan”

0
1962

Bagi mereka yang banyak bergelut di kajian kebudayaan, mungkin tak asing dengan diskursus tentang “Polemik Kebudayaan,” yang berlangsung tahun 1930-an. Posisi pesantren pernah menjadi salah satu bahan perdebatan. Achdiat K Mihardja, dalam Polemik Kebudajaan, merekam perdebatan-perdebatan, termasuk dalam hal pendidikan.

Ki Hadjar Dewantara, seperti disunting Achdiat, mengidealkan pesantren dalam posisinya sebagai pusat pembangunan budi pekerti. Ini bisa dilihat misalnya dalam perguruan Taman Siswa yang didirikannya. Dr. Soetomo memiliki cara pandang berbeda. Baginya, pesantren harus menjadi alternatif bagi mereka yang kurang mampu. Menyebarkan kecerdasan dengan biaya ringan, sekaligus menuntun dan mengawasi kehidupan keseharian anak.

Soetomo memimpikan pesantren, yang kental dengan citarasa Timur itu untuk hadir di kota-kota besar. Tanpa bermaksud mempertentangkan dengan pendidikan Barat yang memang sudah terlebih dahulu ada di kota, Soetomo mengimajinasikan kalau pendidikan ala pesantren dapat mengimbangi pendidikan Barat itu. Bahkan mungkin bisa melampauinya. Tapi, Sutan Takdir Alisjahbana justru berkebalikan. “Ia menggambarkan bahwa pendidikan model pesantren memang cocok diterapkan di ruang desa. Modernitas dan segala cita rasa Barat itu dibawa ke desa, ke pesantren,” tulis Choirotun Chisaan dalam Lesbumi: Strategi Politik Kebudayaan.

Dengan segala kekhasannya, pesantren yang ada di lingkungan Nahdlatul Ulama, memainkan dua peran seperti imajinasi Soetomo, juga Alisjahbana. Strategi kebudayaan pesantren, dimainkan di kota seperti yang terekam dalam kelahiran lembaga ini. 31 Januari 1926, NU lahir di Surabaya. Inilah strategi kebudayaan pesantren seperti yang ada dalam imajinasi Soetomo. Di lain pihak, tambah Chisaan, pesantren juga mengonfirmasi bayangan Alisjahbana. Pesantren tetap berada di desa dan lambat laun memodernisasi diri, dengan berbagai cara. Tak hanya dicirikan dengan kehadiran madrasah atau sekolah, bahkan partai politik juga hadir di pesantren. Fenomena kota ini akhirnya juga masuk ke pesantren yang gugusan spasialnya tetap ada di pedesaan.

Inilah rumusan strategi kebudayaan khas yang bisa digali dari pesantren. Kehadiran mereka di kota diharapkan menjadi alternatif untuk mengimbangi pendidikan yang hanya menekankan pada kecakapan intelektual. Sementara posisi pesantren yang juga tetap berada di desa, tidak berarti kemudian membuatnya tidak responsif dan menutup diri terhadap perubahan.

Bagi KH. Saifuddin Zuhri alam pesantren adalah dunianya. Pesantren merupakan alam yang menempa jiwa, melukis jalan pikiran dan memahat cita-cita. “Tentu aku ibarat sungai kecil yang hendak bermuara memasuki lautan luas yang bergelombang. Akan tetapi, jika sungai kecil itu berjumlah ratusan, apalagi diantaranya ada juga sungai-sungai besar, lantas semuanya bermuara ke lautan yang satu, sungai-sungai itu akan membuat warna lautan serta membentuk dasarnya,” tutur mantan menteri agama tersebut dalam salah satu karyanya, Berangkat dari Pesantren. [T-Kh/001]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.