Inilah Dua Putusan Bahtsul Masail NU Kota Semarang

0
2524
Bahtsul Masail PCNU Kota Semarang di Masjid Jami' Al Falah Pasar Genuk Genuksari Kota Semarang, (22/4/17).

Semarang, nujateng.com- Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang belum lama ini menggelar bahtsul masail (musyawarah hukum Islam) tentang hukum membakar binatang dan menggunakan air sumur yang berada di area tanah wakaf masjid untuk kepentingan pribadi.

Acara yang diikuti oleh perwakilan dari Majelis Musyawarah Cabang (MWC) NU dan pondok pesantren se Kota Semarang ini diselenggarakan di Masjid Jami’ Al Falah Pasar Genuk Genuksari Kota Semarang, (22/4/17).

“Pembahasan hukum membakar binatang bagian dari respon kami atas pembakaran sarang lebah di Kecamatan Genuk,” papar Ketua LBM PCNU Kota Semarang, Agus H Sa’dullah.

Sebagai informasi, sebelumnya pada tanggal 31 Maret terjadi pembakaran sarang lebah berukuran sebesar tong sampah dengan panjang 1 meter di Perumahan Genuk Asri Kecamatan Genuk Kota Semarang oleh Petugas Dinas Pemadam Kebakaran bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Semarang.

“Sarang lebah yang berada di rumah kosong itu dibakar karena keberadaannya sangat mengganggu warga sekitar, tidak sedikit warga yang terkena sengatan lebah, bahkan beberapa sampai harus disembuhkan di rumah sakit,” kata salah satu tokoh agama Kecamatan Genuk, KH Aly Masyhadi.

Karena itu, LBM sebagai komisi fatwa NU yang harus memberi jawaban yang berbasis pada fikih (hukum Islam) merasa berkewajiban untuk membahas masalah ini, yakni membakar sarang lebah. “Hasilnya, sebagaimana kesepakatan mubahitsin (peserta musyawarah), hukum asal membakar binatang tidak diperbolehkan kecuali apabila tidak ada cara lain atau darurat,” paparnya.

Dalam kasus pembakaran sarang lebah yang terjadi di Kecamatan Genuk, menurut kesepakatan peserta, hukumnya diperbolehkan karena sudah masuk ke kondisi darurat. Meski demikian, KH Aly Masyhadi menghimbau kepada peserta supaya disampaikan kepada masyarakat bahwa hukum asal membakar binatang tidak diperbolehkan.

“Seperti yang tadi dibahas, binatang ada yang boleh dibunuh dan ada yang tidak. Binatang yang boleh dibunuh harus dibunuh dengan cara yang baik, tidak boleh dibakar. Jadi kalau kondisinya tidak darurat, maka hukum membakar binatang tidak diperbolehkan. Ini harus kita sampaikan kepada masyarakat, biar tidak menyiksa binatang,” kata Kiai Aly, yang juga menjadi pengurus Masjid Al Falah Kecamatan Genuk.

Air Masjid

Selain pembahasan di atas, LBM NU Kota Semarang juga mengkaji hukum menggunakan air sumur yang berada di area tanah wakaf masjid untuk kepentingan pribadi. Terkait hal ini, hukumnya diperbolehkan apabila praktik tersebut diizinkan oleh orang yang mewakafkan.

“Tapi kalau niat waqif (orang yang wakaf) tidak diketahui, yakni apakah memperbolehkannya atau tidak, maka dalam hal ini mengikuti adat kebiasaan masyarakat setempat atau tergantung kebijakan nadhir (pengelola wakaf),” tutur Syuriah MWC Kecamatan Genuk, Dr KH In’amuzzahidin, yang juga menjadi mushahhih (penentu keputusan) dalam forum itu.

Meski menggunakan air masjid untuk kepentingan pribadi digratiskan, Kiai yang juga menjadi pengajar di Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo itu menghimbau kepada para pengguna, khususnya para pedagang yang biasanya mengambil air dari masjid supaya memberikan sumbangan untuk keperluan masjid.

“Biasanya di kota-kota banyak pedagang yang mengambil air dari masjid, ini meski gratis, tidak dijual, tapi sebaiknya para pedagang memberi sedekah ke masjid untuk keperluan kebersihan atau yang lainnya,” himbaunya. [AR/002]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.