Unwahas Luncurkan Pusat Kajian Agama dan Perdamaian

0
1379

Semarang, nujateng.com –Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang meluncurkan Pusat Kajian Agama dan Perdamaian atau Centre for Religion and Peace Studies. Peluncuran pusat kajian tersebut dilaksanakan berbarengan dengan seminar agama dan perdamaian yang dihelat Sabtu (15/4) di Hotel Siliwangi.

Taslim Sahlan, Direktur Pusat Kajian Agama dan Perdamaian menyampaikan bahwa pembentukan lembaga ini menjadi salah satu manifestasi tanggungjawab akademis kampusnya. “Sesuai dengan namanya, sumbu dari aktivitas lembaga ini adalah untuk melakukan kerja-kerja akademis,” terang Taslim. Ia menambahkan, kehadiran pusat kajian ini menjadi sangat strategis di tengah merebaknya kelompok-kelompok beragama yang kerap menghadirkan agama dengan wajah yang tidak humanis.

Padahal, lanjut pengajar Fakultas Agama Unwahas itu, yang sejati dari agama adalah perdamaian, keadilan dan kemanusiaan. “Nilai-nilai luhur agama kerap tereduksi oleh tindakan-tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri. Kepentingan politik seringkali memanfaatkan simbol-simbol agama sebagai legitimasinya,” Taslim menjelaskan.

Sementara itu, dalam sambutannya, Rektor Unwahas, Dr. H. Mudzakkir Ali menyampaikan jika kampusnya berkomitmen untuk terus menggaungkan semangat moderatisme. “Sebagai kampus Nahdlatul Ulama (NU), Unwahas terus menerus berupaya untuk menjadi garda depan dalam penanaman nilai kebangsaan dan keindonesiaan,” tegas Mudzakkir.

Tedi Kholiludin, salah satu staf peneliti di Pusat Kajian Agama dan Perdamaian menuturkan tentang rencana jangka pendek yang hendak ditempuh oleh lembaga ini. Menurutnya, salah satu yang akan menjadi concern dari Pusat Kajian ini adalah mendayagunakan ilmu-ilmu sosial sebagai pisau bedah dalam memahami fenomena agama.  “Sekarang, kita memasuki era dimana studi agama dilakukan melalui jalur interdisipliner. Salah satu yang hendak dilakukan oleh pusat kajian ini adalah melakukan pelbagai studi terhadap fenomena keagamaan dengan memanfaatkan khazanah ilmu sosial,” terang Tedi.

Tedi yang juga doktor sosiologi agama menuturkan, fenomena agama, dalam berbagai bentuknya, tidak hanya bisa melulu dipahami dari sudut pandang teologis semata. “Ketika berbicara konflik atas nama agama misalnya. Kita tak bisa menafikan fakta bahwa ada faktor-faktor yang melingkari terjadinya konflik. Dan itu, tidak melulu soal agama,” imbuhnya. (Abdus Salam/001)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.