Polri: NU Benteng Pertahanan Kebangsaan

0
2252
Menyampaikan Pesan: Kompol Imam Mahrus (baju hitam) menyampaikan pesan dari Mabes Polri di Kantor PWNU Jateng Jl. Dr Cipto 180, Semarang, Rabu (22/3/17). [Foto: Ceprudin]
Iklan

Semarang, nujateng.com Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menyebut bahwa Nahdlatul Ulama (NU) merupakan benteng terakhir pertahanan kebangsaan. NU menjadi benteng pertahanan setelah empat pilar kebangsaan, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945 (PBNU).

“Benteng terakhir pertahanan kebangsaan ini, itu NU. Sejak lahirnya NU tidak pernah bertentangan dengan negara. Bahkan berkontribusi besar membangun negara nasionalis. Negara yang rahmatan lil alamin,” tutur Kompol Imam Mahrus pada acara Lailatul Ijtima’ di Kantor PWNU Jateng Jl. Dr Cipto 180, Semarang, Rabu, (22/3/17).

Malam pertemuan bulanan warga Nahdlyin di Jateng ini dihadiri beberapa kiai sepuh. Hadir diantaranya KH A’wani Sya’roni dari Pamotan, Rembang, KH Muharror Ali dari Blora, Rais Syuriah PWNU Jateng KH Ubaidullah Shadaqoh beserta wakilnya KH Hadlor Ikhsan.

Hadir pula Sekretaris Tanfidziyah KH Mohamad Arja Imroni beserta wakilnya Nur Shoib. Ketua Tanfidziyah KH Abu Hapsin malam itu berada di Kabupaten Kebumen untuk menghadiri acara PCNU.  Selain para kiai hadir pula Anggota DPRD Jateng Muh Zen Adv dan Sukirman serta Wakil Rektor 1 UIN Walisongo Semarang, Musahadi HAM.

Kompol Imam pada kunjungannya ke Jawa Tengah itu merupakan utusan Mabes Polri. Ia menyempatkan diri singgah di kantor PWNU Jateng selain karena sebagai kader NU, sekaligus menyampaikan pesan-pesan dari Kapolri, Jenderal Tito Karnavian.

”Jangan sampai menjadi kader NU ”ting ting” alias ”tingak tinguk”. Adoh karo kiaine, gurune mbah google (jauh dengan kiainya, karena gurunya mbah google). Maka kembalilah kepada NU yang sesungguhnya. Ritual-ritual ke-NU-an semakin digalakkan, abaikan saja yang mencap ini itu bid’ah,” jelasnya.

Sabar Ada Batasnya

Rais Syuriah KH Ubaidullah Shadaqoh pada kesempatan sambutan menyambung pembicaraan dari Kompol Imam. Pengasuh Ponpes Al-Itqon, Bugen, Tlogosari Semarang ini tak sepakat jika warga NU selalu diam dengan hasutan-hasutan dari kelompok lain.

“Sabar itu ada batasnya. Kalau dibiarkan (hasutan bid’ah, haram dan lain-lain terhadap NU) yang kasihan anak-anak kami,” tegas kiai yang akrab disapa Gus Ubed.

Kiai Ubed justru mengamati selama ini pihak kepolisian kurang tegas dalam menindak kelompok-kelompok Islam radikal. ”Kalau (ada kelompok Islam) yang mengharamkan hormat bendera, ya tangkap. Jangan dibiarkan,” saran Gus Ubed.

Kiai Ubed justru khawatir personel kepolisian terpengaruh dengan ideologi Islam radikal bahkan teroris. ”Saya justru khawatir kalau polisi yang mengintrogasi teroris itu justru jadi teroris. Karena kalah dalil. Jadi, saya juga pesan jadilah polisi yang kaffah,” tandas Kiai Ubed.

KH Mustamir yang hadir sebagai penceramah pada malam itu menyampaikan eratnya hubungan antara NU dan Indonesia. Karenanya, barang pasti bahwa NU menjadi benteng pertahanan kebangsaan.

“Kalau kita bicara NU, sudah pasti bicara Indonesia. Kalau bicara Indonesia jangan sampai meninggalkan NU, Jangan khawatir (soal jiwa kebangsaan NU), mohon disampaikan ke Jenderal Tito di Jakarta,” tutur Pengasuh PP Raudlatul Mubtadi’in, Balekambang, Jepara ini. [Ceprudin/002]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.