NU dan Muslim Tionghoa (I)

0
2972
Iklan

Oleh: Tedi Kholiludin

Pertengahan September waktu lalu, saya berkeliling kota Semarang bersilaturahmi dengan beberapa tokoh muslim Tionghoa. Beberapa diantaranya sudah saya kenal sebelumnya. H. Maksum Pinarto, Ketua Perhimpunan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kota Semarang, serta H. Gautama Setiadi adalah salah dua diantaranya. Meski sering bersua di beberapa kegiatan, tapi kali itu adalah perjumpaan yang benar-benar disengaja, dimana saya bertandang ke rumah beliau.

Obrolan mengalir terutama seputar perkembangan Muslim Tionghoa di Semarang. Maksum berani menyebut bahwa saat ini kurang lebih ada 400-an populasi muslim Tionghoa. Sementara Gautama mengatakan kalau angkanya tidak sampai 400-an, tapi mungkin hanya 300-an saja. Kedua orang ini bisa dikategorikan sebagai generasi awal muslim Tionghoa yang muncul sekitar akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an.

Situasi muslim Tionghoa tahun 2000-an, hemat keduanya, memang memiliki ritme yang sedikit beda dengan era 1970-an. Dari sisi pendidikan, muslim Tionghoa era sekarang, banyak yang berpendidikan sarjana. Padahal di era 1980-anyang masuk kategori sarjana itu hanya satu, yakni Dosen Universitas Diponegoro yang bernama Cheng I Pai (Muslim).

Karena tahu latar belakang saya sebagai salah satu pengurus di lembaga Nahdlatul Ulama, Maksum Pinarto kemudian menyampaikan hal yang menarik. Baginya, dari sisi perspektif terhadap kebudayaan, NU memiliki cara pandang yang kurang lebih sama dengan kelompok muslim Tionghoa. Keluwesan atau fleksibilitasnya dalam memahami kultur, sangat membantu bagi muslim Tionghoa.

Berikut, tulisan pertama dari catatan berseri tentang NU dan Muslim Tionghoa.

***

Jelang tahun 1960 atau sekitar tahun 1957-1959, Donald Earl Wilmott melakukan penelitian untuk disertasinya di Cornell University. Judulnya, Socio Cultural Change Among the Chinese Semarang. Ia meneliti soal perubahan sosial di kalangan masyarakat Tionghoa di Semarang. Tentang karakteristik masyarakat Tionghoa, Willmot mengatakan bahwa toleransi beragama, eklektisisme, this-worldliness dan agnostisisme merupakan karakteristik umum masyarakat Tionghoa baik di Tiongkok sendiri maupun di Semarang.

Kata Wilmott, catatan mengenai jumlah muslim Tionghoa pasca 1431-1433 atau tahun-tahun terakhir Cheng Ho mengunjungi nusantara, tidak ada terekam. Di Semarang, hingga tahun akhir tahun 1950-an, warga Tionghoa yang beragama Islam hanya 30-40 orang saja. Dari 500 orang Tionghoa yang mengisi kuesioner, hanya 2 responden saja yang memiliki orang tua Islam. Itu pun mereka tidak mengikuti agama orang tuanya.

Studi Willmot terhadap komunitas Tionghoa di Semarang menunjukkan setidaknya ada empat faktor mengapa Islam tidak berkembang di kalangan Tionghoa. Pertama, sistem patriarkhal yang kuat di kalangan Tionghoa. Kondisi demikian menyebabkan sulitnya pihak laki-laki menerima perempuan dari kalangan non Tionghoa (baca: Jawa) atau memberikan izin untuk mengajarkan agama pada anak-anaknya. Kedua, berbeda halnya dengan sikap terhadap Kekristenan, kaum Tionghoa tidak memiliki rasa hormat terhadap peradaban yang diasosiasikan dengan ajaran Islam, baik di Arab ataupun Indonesia. Sebaliknya, pedagang Arab, terlibat dalam persaingan perdagangan dengan orang Tionghoa, yang kadang-kadang berakhir dengan kekerasan. Ketiga, kondisis sosial, ekonomii dan politik dibawah pemerintahan Belanda menciptakan praduka dan permusuhan diantara orang Tionghoa dan Indonesia. Keempat, pada akhirnya, umat Islam Indonesia tidak berusaha mengkonversi orang Tionghoa di Semarang kecuali dalam waktu khusus, dan mereka tidak dalam posisi yang sejajar dalam pelayanan sekolah, rumah sakit dan lembaga amal dibanding dengan orang Kristen. Karenanya, orang Tionghoa hanya memiliki sedikit pengetahuan saja tentang Agama Islam dan hanya sedikit alasan untuk tertarik pada agama ini.

Amen Budiman, selain mengamini alasan Willmott, kemudian menambahkan tiga alasan lain mengapa Islam tidak begitu menarik minat masyarakat Tionghoa. Masyarakat Tionghoa, kata Amen, masih mewarisi pola segregasi lapisan sosial yang dibuat pemerintah Belanda. Kebijakan Belanda menempatkan kelompok Eropa di strata tertinggi yang kemudian diikuti oleh masyarakat Timur Asing dan kemudian penduduk pribumi. Meski sudah merdeka, warisan itu ternyata tidak hilang. Yang terjadi kemudian, segala hal yang berkaitan dengan identitas pribumi  (baca: Islam), berjarak dengan masyarakat Tionghoa.

Alasan lain menurut Amen adalah karena Islam dalam beberapa hal memang tidak memberi ruang pada ekspresi adat istiadat orang Tionghoa. Misalnya dalam upacara tutup peti ketika dalam proses penghormatan bagi mereka yang sudah meninggal. Berbeda halnya dengan Islam, Kristen justru mengakomodir hal tersebut. Langkanya lektur agama Islam bagi masyarakat Tionghoa juga menyebabkan sulitnya kelompok ini memahami Islam secara lebih intens.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.