Ki Enthus: Dalam Wayang Terkandung Banyak Tuntunan Hidup

0
4488
Pagelaran wayang kulit dengan lakon "Bima Suci" dalam rangka Haul ke-1 Pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam (PPTI) Al-Falah Kota Salatiga, al-Marhum KH. Muhamad Zoemri RWS. [Foto: SNH]
Iklan

Salatiga, nujateng.com Ada yang menarik dalam perayaan Haul ke-1 pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam (PPTI) Al-Falah Jalan Bima No. 02 Dukuh Sidomukti Kota Salatiga, Jumat 16/9/16) malam. Dengan tata panggung yang artistik, pementasan wayang kulit Ki Enthus Susmono mampu memukau ratusan pengunjung. Suara gending pun memecah kesunyian. Dalam iringan entakan gendang, tangan Bupati Kabupaten Tegal bergoyang. Tembang enam sinden terdengar nyaring. Dengan logat Jawa nan kental, sang dalang bertutur tentang kisah ‘Bima Suci’. Inilah pertunjukan monolog khas Jawa. Ya, wayang kulit.

Menurut dalang yang menjabat sebagai Kepala Satuan Kordinator Cabang (Kasat Korcab) Banser Kabupaten Tegal itu, struktur dunia pementasan wayang dibangun atas berbagai macam komponen. Pementasan wayang, kata dia, bukan sekadar dari keras dan lirihnya suara gamelan yang ditabuh. Atau suara para sinden yang mendayu-dayu. “Seni pewayangan merupakan seni pakeliran,” tuturnya.

Dijelaskan, keberadaan wayang sebenarnya tidak sekadar berfungsi sebagai tontonan, melainkan secara kultural dan historis juga mengandung muatan tatanan dan tuntunan. Setiap lakonnya menggambarkan model-model hidup dan kelakuan manusia. Setiap pertunjukan seni pewayangan mengandung konsep sebagai pedoman dan perbuatan. “Nah, dari konsep-konsep itulah kemudian tersusun nilai budaya yang tersirat dan tergambar melalui alur cerita,” bebernya.

Selain itu, dia menyebutkan bahwa lakon ‘Bima Suci’ diangkat sebagai bahan refleksi. Sebab, banyak nasehat kepada manusia untuk mampu menahan hawa nafsunya dan berserah diri kepada yang kuasa. “Untuk itu, menjadi keharusan memelihara budaya bangsanya sendiri,” pinta dia.

Semakin malam, pementasan wayang semakin gayeng ditambah kehadiran Yati Pesek yang membuat pengunjung menjadi penuh gelak tawa. Tanpa dikomando, aksi Yati Pesek ini membuat pengunjung terpingkal-pingkal dengan banyolan-banyolannya. Keusilan Yati Pesek berlanjut ketika Pj. Walikota Salatiga, Agus Rudianto, diminta untuk naik ke atas panggung.

Saat mendapat kesempatan, Agus menyampaikan dirinya pernah tinggal di Kecamatan Sidomukti selama 10 tahun sebelum akhirnya menjadi Pejabat (Pj) Walikota Salatiga. Disamping itu, dirinya juga berharap dengan diadakannya kegiatan ini akan semakin mempererat hubungannya dengan masyarakat Kota Salatiga. [Munif/002]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.