Abu Hafsin: Dakwah Jangan Hilangkan Budaya Lokal

0
1703
– Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, H. Abu Hapsin. Foto: Ceprudin

Semarang, nujateng.com –  Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Dr. KH. Abu Hafsin dalam sambutan di acara Halaqah  Pondok Pesantren di Pondok Pesantren Daarul Falah Be-Songo, Ngaliyan-Semarang menegaskan bahwa pesantren dan NU adalah dua entitas yang saling bertalian erat, keduanya tidak bisa dipisahkan.

Menurutnya, Antara NU dan Pesantren saling mengisi. Kekuatan keduanya telah terbukti mampu turut serta menjaga keutuhan NKRI dari rongrongan, baik dari dalam maupun dari luar. Tetapi akhir-akhir ini kita menyaksikan bagaimana rongrongan itu muncul kembali dalam bentuknya yang berbeda, yakni tindakan radikalisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama.

“Saya kira, dunia pesantren dan NU harus terus berupaya menghadirkan Islam yang ramah sebagaimana para walisongo menyebarkan Islam. Mereka berdakwah tidak menghilangkan unsur-unsur budaya lokal, melainkan mengisinya dengan nilai-nilai universal Islam. Itulah yang saya kira menjadi prototype dakwah yang ramah, yang akan mengadirkan Islam yang memberi rahmat, bukan Islam yang justru membawa laknat berupa kekerasan dan teror,” terang Abu Hafsin.

Sementara itu, Pondok Pesantren Daarul Falah, Kudus, KH. Badawi Basyir,  menyampaikan pentingnya mewujudkan perdamaian  dengan cara meniru budaya damai dalam dunia pesantren.

“Di pesantren itu, perbedaan pendapat, ikhtilaf, itu hal biasa, karena para kyai dan santri beragama dengan hati, bukan hanya pikiran saja. Jika ada perbedaan pendapat, para santri itu selalu mengedepankan tabayun (meminta penjelasan-red), sehingga tidak terjadi silang pendapat yang bisa memunculkan paham radikal,” ungkapnya.

Berbeda lagi dengan yang ada di luar sana,  menurutnya,  karena gurunya adalah mbah google (hanya berguru dengan cara searching di internet), kalau ada pendapat atau tafsiran  diikuti saja. Ini yang bisa menyebabkan menjamurnya paham radikal, .

“Karena di internet itu kebanyakan informasi tentang Islam adalah yang berpaham keras,” papar pria yang akrab disapa Kyai Badawi ini. (Rusmadi/003)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.