Azab Bagi Kelompok Radikal

0
2709
[Foto: http://4.bp.blogspot.com]

Oleh: KH Ahmad Nadhif Abdul Mujib, Lc

Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU Jawa Tengah

الحمد لله الذي عمت آلاؤه جميع مخلوقاته. فأبى أكثر الناس إلا كفورا. ونصب من الآيات الباهرات ما دل على وحدانيته فعميت بصائر الكافرين والمنافقين فما زادتهم إلا نفورا. وبصّر المؤمنين في التفكير في آياته فأشرقت قلوبهم بالإيمان به منا وتيسيرا

فسبحانه من قسام ما أعدله، ومن قهار ما أحلمه، ومن جواد ما أكرمه، ومن عليم ما أعلمه. لا يعزب عنه مثقال ذرة في السموات ولا في الأرض ولا يغادر صغيرا ولا كبيرا

أحمده سبحانه حمد عبد عرفه حق معرفته. وأشكره شكرا كثيرا. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله أرسله بالحق بشيرا ونذيرا، وداعيا إلى الله بإذنه وسراجا منيرا. اللهم صل على عبدك ورسولك محمد وعلى آله وأصحابه ومن تعبهم بإحسان إلى يوم الدين وسلم تسليما كثيرا

أما بعد فيا أيها الناس اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون

Hadirin Jumah Rahimakumullah

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan suatu kisah yang sangat patut kita renungi dalam kesempatan kali ini terutama dengan melihat perkembangan mutakhir di sekitar kita, demi melihat dan menyikapi semakin maraknya kembali kelompok-kelompok Islam radikal dan kelompok-kelompok separatis lainnya.

Disebutkan sebuah riwayat dari Imam Ahmad bin Hambal, pendiri Madzhab Hambali, bahwa suatu ketika seseorang yang bernama Abdullah bin Abi Hadrad bersama Muhallim bin Jatstsamah bin Qais dan beberapa orang sahabat lainnya diutus oleh Nabi Saw dalam sebuah misi intelijen militer ke sebuah daerah bernama Idlam. Di tengah perjalanan, mereka menjumpai seseorang yang dicurigai sebagai mata-mata orang kafir. Orang ini bernama Amir bin Al-Adlbath al-Asyja’i. Ketika bertemu dengan rombongan intel utusan Rasulullah itu, si Amir sebenarnya sudah mengucapkan salam sebagai pertanda bahwa ia adalah orang Islam. Akan tetapi di luar dugaan, Muhallim dengan serta merta membunuh Amir bin Al Adlbath. Kontan saja anggota rombongan intelijen itu protes kepada sikap Muhallim bin Jatstsamah yang membunuh seseorang yang meskipun telah mengucapkan kalimat-kalimat keIslaman.

Berikutnya, singkat cerita, sekembali rombongan intelijen dari misinya itu, mereka sowan kepada Nabi Muhammad SAW untuk melaporkan hasil misi mereka, sekaligus melaporkan peristiwa atau kejadian pembunuhan yang dilakukan oleh Muhallim terhadap Amir bin Al-Adlbath seperti diceritakan di muka. Maka mendengar laporan ini, Nabi pun kecewa dan bahkan berikutnya turun firman Allah yang memang semata-mata untuk memberi teguran keras kepada Muhallim bin Jatstamah atas sikapnya itu. Firman Allah yang turun langsung terkait dengan peristiwa ini adalah Surah An Nisa’ ayat 94:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

Yang artinya: Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kalian mengatakan kepada orang-orang yang mengucapkan “salam” kepada kalian: “kamu bukan seorang mukmin” (lalu kalian membunuhnya) dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia. Karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kalian dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kalian, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.

Hadirin Rohimakumullah

Riwayat tentang cerita di atas kemudian berlanjut. Mendengar ada ayat yang turun khusus untuk menegurnya, maka Muhallim pun secara khusus sowan kepada Nabi untuk meminta ampunan kepada Allah melalui Nabi. Tetapi di luar dugaan, menanggapi permintaan Muhallim itu, Nabi bersabda:

لا غفر الله لك

Semoga Allah tidak mengampunimu!

Ini adalah sikap Nabi yang luar biasa aneh. Beliau terkenal lemah lembut dan pemaaf. Allah sendiri dalam sejumlah ayat yang lain memuji sikap-sikap Nabi yang lembut dan pemaaf. Kita baca ayat misalnya: Fabimaa rohmatin minallahi linta lahum (karena rohmat Allah, maka engkau bersikap lemah lebut kepada mereka) atau ayat lain seperti: bil mu’minina roufur rohim (Nabi itu selalu bersikap penyayang dan pengasih). Tetapi dalam kasus Muhallim ini, Nabi justru mendoakan agar Allah tidak mengampuni Muhallim atas kesalahannya itu.

Maka mendengar doa Nabi yang sangat aneh itu, Muhallim pun menangis tersedu-sedu. Ia meratapi dirinya yang telah berbuat kesalahan besar itu. Ia pun larut dalam kesedihan dan ketakutan yang sangat amat mendalam hingga 7 hari lamanya. Dan pada hari ketujuh, Muhallim pun meninggal dunia. Di sini berikutnya terjadi sebuah peristiwa aneh di mana ketika para Sahabat Nabi hendak menguburkan jenazah Muhallim, ternyata bumi menolak jasadnya. Berulangkali liang kubur diperluas, berulangkali pula liang kubur itu tetap tidak cukup untuk ditempati jenazah Muhallim.

Hadirin Rohimakumullah

Melihat kejadian aneh seperti ini, para Sahabat pun kembali sowan kepada Nabi untuk meminta petunjuk dan arahan bagi menguburkan jenazah Muhallim. Maka Rasulullah bersabda:

إن الأرض تقبل من هو شر من صاحبكم، ولكن الله أراد أن يعظكم من جرمتكم

Sebenarnya bumi itu menerima jenazah siapa saja, bahkan jenazah yang lebih buruk dari Muhallim sekalipun. Tetapi Allah berkehendak memberi peringatan kepada kalian atas kesalahan itu.

Berikutnya singkat cerita para sahabat pun, na’udzubillah min dzalik, melempar jenazah Muhallim dari sebuah puncak gunung yang paling tinggi. Adalah karena memang bumi telah diperintahkan Allah untuk tidak menerima jenazah Muhallim sebagai peringatan keras bagi mereka yang dengan mudah mengkafirkan orang lain, padahal orang itu telah mengaku Islam.

Hadirin Rohimakumullah

Betapa kisah di atas tadi begitu sangat amat jelas untuk kita renungi dan kita resapi. Untuk merenungi kisah tadi, tidaklah diperlukan analisa yang mendalam atau orang-orang berpendidikan yang memiliki kecakapan keilmuan yang tinggi. Semua orang sebenarnya bisa memahami kisah di atas untuk kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dari sini, menjadi pertanyaan besar kita mengapa masih saja muncul gerakan-gerakan atau kelompok-kelompok radikal yang suka menebar kebencian dan bahkan suka mengkafirkan orang lain yang tidak sefaham dengannya?

Jika kita ingin menganalisa peristiwa di atas secara lebih dalam lagi, maka kita akan menemukan banyak hikmah yang harus kita renungi dan kita implementasikan ke dalam dunia nyata.

Apalagi jika peristiwa di atas kemudian kita gabungkan dengan peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh kaum Khawarij terhadap Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sepupu dan sekaligus menantu Rasulullah Saw. Peristiwa pembunuhan oleh Khawarij itu sebelumnya didahului dengan ketidaksetujuan mereka terhadap salah satu keputusan Sayyidina Ali. Kemudian ketidaksetujuan kaum Khawarij itu berkembang menjadi sikap mengkafirkan Sayyidia Ali. Wa na’udzubillah min dzalik. Na’udzubillah min dzalik.

Maka setelah kaum Khawarij mengkafirkan Sayyidina Ali, mereka pun berikutnya tidak segan-segan membunuh menantu dan sekaligus sepupu Rasulullah yang dijuluki sebagai Babul Ilmi oleh Nabi.

Hadirin Rohimakumullah

Peristiwa memilukan atas diri Sayyidina Ali itu dan jangan lupa, kisah Muhallim di atas itu membuat kita berkesimpulan  bahwa “barangsiapa dengan mudah mengkafirkan orang lain, maka ia akan dengan mudah pula membunuh orang lain itu”.

Kesimpulan seperti ini bukanlah kesimpulan yang mengada-ada. Kesimpulan ini begitu ilmiah dan logis serta masuk akal. Siapapun, hingga anak kecil, pasti bisa mengambil kesimpulan seperti itu, yaitu sekali lagi bahwa “barangsiapa dengan mudah mengkafirkan orang lain, maka ia akan dengan mudah pula membunuh orang lain itu”.

Hadirin Rohimakumullah

Kelompok-kelompok Islam radikal itu dalam kesehariannya mereka mengaku sebagai ummat Islam. Mereka mengaji Al-Quran dan Al-Hadits. Mereka pun membaca sejarah-sejarah Nabi dan para Sahabat. Mereka pun mempelajari bahwa Nabi Muhammad dalam kesehariannya adalah seorang tokoh panutan yang selalu bersifat dan bersikap penuh rahmah, penuh kasih sayang, hingga pun terhadap orang kafir. Mereka pun mendengar dan mempelajari pernyataan Nabi kepada kaum kafir Quraisy yang sebelumnya selalu menyakiti Nabi dan para Sahabat. Dalam perang Fathu Makkah, kita membaca sejarah yang sudah sangat masyhur ttg pernyataan Nabi kepada tawanan perang dari kaum kuffar Quraisy yaitu:

إذهبوا فأنتم الطلقاء

Pergilah kalian. Kalian adalah orang-orang yang bebas.

Pernyataan Nabi seperti ini jelas mencerminkan sejauh mana sikap rahmah yang ditampakkan oleh Nabi hinggapun di hadapan kaum kuffar yang dulu menyakitinya. Bahkan dalam Al-Quran pun dinyatakan perintah:

ودع أذاهم وتوكل على الله

Dan tinggalkanlah atau jangan pedulikan sikap mereka yang menyakitimu wahai Muhammad.

Memang benar bahwa ayat ini kemudian dinasakh atau dirubah dengan perintah:

قاتلوا المشركين كافة

Perangilah kaum musyrikin semuanya.

Akan tetapi kita tahu bahwa dalam menggali hukum dari Al-Quran dan Al-Hadits tidaklah patut kita hanya mengambil satu ayat saja tanpa melihat ayat yang lain, atau apalagi sengaja memotong-motongnya untuk disesuaikan dengan kepentingan suatu kelompok.

Adalah memang benar bahwa Allah memerintahkan kita kaum muslimin untuk memerangi kaum kafir. Tetapi perintah itu harus disikapi dengan ayat-ayat yang lain seperti:

أذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ

Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi.

Ini berarti, perintah berperang itu adalah dalam rangka mempertahankan diri atau defensive, bukan dalam rangka menyerang atau ofensif.

Itupun ketika kita memerangi mereka, kita diberi rambu-rambu oleh Al-Quran dalam ayat berikut:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, tetapi janganlah kalian melampaui batas.

Apalagi kembali dalam kisah perang Fathu Makkah, Nabi yang jelas telah disakiti berulangkali oleh kaum kuffar Quraisy tetapi ternyata justru memaafkan dan membebaskan mereka.

Ini juga sesuai dengan semangat yang diisyaratkan dalam ayat lain:

وأن تعفوا أقرب للتقوى

Dan supaya kalian memberi maaf. Dan itu lebih dekat dengan ketakwaan.

Inilah sebenarnya Islam yang sesuai dengan apa yang selama itu dipraktekkan oleh Nabi, bukan Islam yang selama ini ditampakkan oleh kelompok-kelompok radikal itu.

الحديث: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ولن يشاد الدين أحد إلا غلبه أو كما قال. وقل رب اغفر وارحم وأنت أرحم الراحمين

 ====

Khutbah II

الحمد لله المنعوت بصفات التنزيه والكمال. وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ثني الخصال. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصبحه والتابعين. عباد الله اتقوا الله فإنكم عليه تعرضون. واعلموا أن الله صلى على نبيه في كتابه المكنون وأمركم بذلك فأكثروا من الصلاة عليه تكونوا من الفائزين. اللهم صل وسلم عليه وارض عن الأربعة الخلفاء، وبقية العشرة الكرام وآل بيت نبيك المصطفى. وعن الأنصار والمهاجرين والتابعين إلى يوم الدين

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات، إنك سميع قريب مجيب الدعوات رب العالمين. ونسألك اللهم دوام العناية والتأييد، بحضرة مولانا سلطان المسلمين المؤيد بالنصر والتمكين. الللهم انصره وانصر عساكره وامحق بسيفه رقاب الطائفة الكافرة، وأيد بسديد رأيه عصابة المؤمنين. واجعل بفضلك هذا البلد آمنا مطمئنا. وارفع اللهم مقتك وغضبك عنا. ولا تسلط علينا بذنوبنا من لا يخافك ولا يرحمنا يا أرحم الراحمين

اللهم إليك نسأل فلا تخيبنا، وإليك نلجأ فلا تطردنا، وعليك نتوكل فاجعلنا لديك من المقربين. إلهي هذا حالنا لا يخفى عليك. فعاملنا بالإحسان إذ الفضل منك وإليك. واختم لنا بخاتمة السعادة أجمعين

عباد الله  إن الله يأمركم بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي. يعظكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم ولذكر الله أكبر

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.