Syuriah dan Tanfidziyah Harus Seirama

0
2714
Ketua PWNU Jawa Tengah H Abu Hapsin memaparkan hasil Munas dan Konbes NU mengenai sistem pemilihan rais aam dengan menggunakan Ahulul Halli wal Aqdi, Sabtu (15/11) (Foto: Ceprudin)
Iklan

Semarang, nujateng.com- Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah H Abu Hapsin, Ph.D menyampaikan, jajaran syuriah dan tanfidziyah harus seirama. Baik di tingkat cabang, wilayah mapun pusat.

Untuk mewujudkan itu, Forum Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2014 menyepakati, Ahlul Halli wal Aqdi sebagai alternatif sistem pemilihan Rais Aam PBNU. Dengan sistem ini, diyakini akan bisa mewujudkan kepengurusan yang harmonis antara syuriah dan tanfidziyah.

”Dengan sistem Ahlul Halli wal Aqdi dalam pemilihan Rais Aam PBNU ini maka akan terwujud kepengurusan yang damai. Karena ketua tanfidziyah dipilih oleh rais syuriah, jadi asumsinya akan seirama,” papar Abu, pada kesempatan sosialisasi hasil Munas dan Konbes NU, di Hotel Metro Semarang, (15/11/14).

Secara teknis sistem ini pertama-tama akan memilih sembilan orang yang akan menjadi Ahulul Halli wal Aqdi. Sembilan orang ini diusulkan oleh rais syuriah PCNU dan PWNU se-Indoneisa. Masing-masing rais syuriah mengusulkan lima nama calon yang salah satu kriterianya adalah kyai.

”Setelah suara terkumpul, maka akan dipilih sembilan nama yang memperoleh suara terbanyak. Setelah itu kesepakatan dilempar ke muktamirin, apakah yang mendapat suara terbanyak langsung menjadi rais ‘am, atau sembilan orang itu dipilih kembali oleh muktamirin,” terang Abu.

Setelah Ahulul Halli wal Aqdi dan rais aam terpilih, baru dilakukan pemilihan ketua tanfidziyah. Mekanisme pemilihan ketua tanfidziyah terlebih dahulu akan dipilih sejumlah orang oleh Ahulul Halli wal Aqdi. Jumlah bakal calon ditentukan sesuai dengan kesepakatan pada tata tertib muktamar.

Pemilihan Tanfidziyah
”Jadi yang memilih bakal calon itu Ahlul Halli wal Aqdi. Jumlah baka calon ketua tanfidziyah ditentukan, mungkin, 2,3,4 sampai lima orang. Setelah dipilih oleh Ahlul Halli wal Aqdi, kemudian diserahkan kepada muktamirin untuk dipilih. Maka yang suaranya terbanyak, itulah yang akan menjadi ketua tanfidziyah,” katanya.

Dengan sistem seperti ini, maka syuriah dan tanfidziyah tidak akan berbeda pendapat. ”Jika bakal calon ketua tanfidziyah dipilih oleh syuriah sejak awal sudah ada kecocokan. Dengan sistem ini pula, NU menempatkan posisi para kyai dengan tempat yang semestinya,” sambungnya.

Seperti diketahui, musyawirin dalam Munas dan Konbes NU asal PWNU Jawa Tengah mengusulkan supaya sistem pemilihan rais aam menggunakan sistem Ahulul Halli wal Aqdi.

Sistem ini diyakini bisa mengurangi tingginya suhu politik pada masa muktamar berlangsung. Hasil ini menjadi bahan yang akan diajukan pada Muktamar NU ke-33 sebagai forum tertinggi untuk masuk ke dalam butir Anggaran Dasar dan Rumah Tangga NU.

Dalam sejarah NU, konsep Ahlul Halli wal Aqdi pernah dilaksanakan sejak NU berdiri tahun 1926 sampai 1952 ketika NU menjadi partai politik. Kemudian berubah dan diterapkan kembali pada muktamar NU ke-27 di Situbondo tahun 1984 saat NU kembali ke khittah tahun 1926. [Ceprudin]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.