Pupuk Nilai-nilai Desa di Kota

0
1733
Memberikan Pengarahan: Rais Aam PBNU, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) memberikan pengarahan kepada pengurus PWNU Jateng dan semua pengurus PCNU se-Jateng tentang pentingnya mempertahankan nilai-nilai desa, Sabtu (15/11/14) malam.

Semarang, nujateng.com- Orang-orang desa yang hijrah kekota kadang lupa daratan. Semenjak tinggal dikota, orang desa kerap mengabaikan nilai-nilai yang dianut bertahun-tahun selama masih tinggal di desa. Termasuk pentingnya paseduluran dan gotong royong.

Berdasar itu, Rais Aam PBNU, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) menghendaki warga Nahdlatul Ulama (NU) tetap mempertahankan nilai-nilai di desa. Meskipun sudah menetap dikota, warga NU dituntut oleh Gus Mus untuk tetap memumpuk rasa persaudaraan, seperti semasa hidup di desa.

”Organisasi kita ini (NU-red) sebetulnya organisasi desa. Meskipun kita sudah tinggal di kota karena menjadi pengurus PWNU atau PCNU, namun potongan desone masih tetep ketok,” tutur pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh-Rembang ini, Sabtu (15/11/14).

Gus Mus menyampaikan itu pada acara ”halaqoh dan sosialisasi UU Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa di Hotel Metro, Semarang. Sepirit yang ada dalam UU tersebut, hemat Gus Mus, sama dengan spirit NU. Sepirit itu untuk kemakmuran masyarakat pedesaan.

Dengan nada bicaranya yang khas, Gus Mus mengingatkan pentingnya untuk memupuk identitas desa. ”Kita tak perlu gaya-gaya, semua orang sudah tahu kalau kita orang desa,” lanjut Gus Mus, sembari disambut tepuk tangan para hadirin yang sebelumnya tampak khidmat menyimak.

Gus Mus yang malam itu mengenakan sarung dan baju koko putih berpeci hitam itu berpesan supaya warga NU tak hanya mengawal undang-undang desa. Lebih jauh dari itu, NU harus mampu menumbuhkan tadisi luhur yang ada di pedesaan. ”Justru saya ingin mengawal nilai-nilai dan norma-norma yang ada di desadi perkotaan,” pesannya.

Lebih lanjut, Gus Mus menyinggung isi UU Desa yang menyebutkan banyak keistimewaan desa. Namun, ia menyayangkan orang-orang desa yang hijarah ke kota sudah tak mempertahankan nilai-nilai kedesaannya.

”Kalau kita ingin bercermin kepada Nabi Muhammad kemudian kita bercermin dengan kelakuan orang kota dan desa. Maka yang mirip-mirip denga perilaku Nabi (Muhammad SAW) adalah orang desa. Orang desa selalu mengedepankan soal kerukurnan, solidaritas, dan ta’awun (gotong royong-red),” jelasnya.

 

Kembalikan ke Desa

Karena itu, lanjutnya, para pendiri ormas NU ingin menjadikan orang kota menjadi berperilaku desa, bukan orang desa berperilaku kota. Menurutnya, jika melihat perilaku Nabi yang menghargai tamu, maka itu adalah orang disa.

”Kalau orang desa menerima tamu langsung diberi suguhan seadanya. Ada pisang tinggal itu-itunya langsung disuguhkan. Kalau dikota kalau ada tamu, belum apa-apa tamu sudah ditanyakan KTP-nya,” sindirnya, dengan disambut gelak-tawa para hadirin lagi.

Kalau di desa, katanya, orang bangun rumah selalu bergotong royong saling membantu semampunya. ”Namun orang kota tetangganya meninggal saja kadang tidak tahu. Orang desa itu jangan sok kota, karena dibagaimana pun, orang desa masih tetap kelihatan desa. Kalau tak percaya buka saja kaos kakinya. Kelihatan desanya. Pasti milih kaos kakinya yang warna-warni,” seloroh Gus Mus.

Rais Syuriah PWNU Jateng KH Ubaidullah Shadaqoh yang ketika itu mendampingi Gus Mus menyambung pembicaraannya tentang nilai-nilai desa. ”Seribu tahun yang telah lalu, dalam buku Ibnu Khadun sudah dikatakan demikian. Persaudaaran seperti nilai-nilai yang ada di desa harus tetap dilestarikan,” sambung kyai berambut putih itu. [Ceprudin]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.