Alumni Pondok Pesantren Harus Membendung Gerakan Islam Radikal

0
2180
KH. Kafabihi Mahrus
Iklan

Semarang, nujateng.com- Maraknya kelompok Islam garis keras yang kerap menyesatkan dan mengkafirkan sebagian umat Islam yang tidak sepaham dengannya sudah pada taraf yang sangat memperihatinkan. Fenomena ini harus segera dibendung melalui gerakan dakwah yang sudah diteladankan para kyai pesantren.

Hal itu disampaikan oleh Katib Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Kafabihi Mahrus dalam acara Ijazah Massal dan Pelantikan Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Kabupaten Semarang di halaman Pondok Pesantren Assalafiyah Desa Gading Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang, Sabtu Malam (08/11).

Lebih jauh salah satu pengasuh pondok pesantren Lirboyo Kota Kediri itu menjelaskan bahwa yang paling mengkhawatirkan dari gerakan Islam garis keras, dakwahnya sudah masuk ke semua lapisan masyarakat, bahkan masjid-masjid yang selama ini kurang dimanfaatkan kelompok nahdliyyin oleh kelompok Islam garis keras dimanfaatkan sebagai media penyebaran dakwahnya. Kelompok Islam garis keras memiliki ilmu pengetahuan agama yang sangat sempit, namun punya keberanian besar sampai kebablasan menuduh kafir terhadap kelompok lain yang tidak sepaham.

“Sekarang banyak aliran garis keras yang sering mengkafir-kafirkan. Yang mengkafir-kafirkan tidak bisa baca kitab, sementara yang dikafir-kafirkan para kyai, para ulama yang setiap hari membaca kitab,” terangnya.

Oleh Karena itu putra dari al-Maghfurlah KH. Mahrus Aly itu menghimbau kepada alumni pondok pesantren supaya bergerak lebih aktif dalam membimbing masyarakat meskipun harus hijrah atau meninggalkan tanah kelahirannya dan hidup di daerah lain demi menyebarkan ilmu yang didapat dari pesantren. Tradisi hijrah sejak dulu sudah dipraktikkan para ulama seperti Imam al-Laits, bahkan tiga tokoh pendiri pondok pesantren Lirboyo sendiri, yakni KH. Abdul Karim dan kedua menantunya, KH. Marzuqi Dahlan dan KH. Mahrus Aly semuanya orang-orang yang hijrah dari tanah kelahirannya (muhajirin).

“Mereka (Islam garis keras) gerak dengan aktif. Oleh karena itu santri harus bergerak, karena apabila santri bergerak maka gerakan mereka akan bubar,” tuturnya.

Pancasila Tidak Bertentangan Dengan Agama

Melalui penyebaran ilmu-ilmu keislaman yang didapat dari pondok pesantren, para alumni juga diharapkan ikut serta berjuang menjaga Pancasila sebagai dasar Negara. Kyai Kharismatik yang akrab disapa Mbah Kafa itu menuturkan bahwa para kyai pesantren seperti KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah punya peran besar dalam mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Saat itu ada sebagian kelompok Islam ekstrim yang mengusulkan supaya Indonesia dijadikan sebagai Negara Islam, tapi oleh para kyai pesantren dan beberapa tokoh lainnya usulan itu tidak diterima karena Indonesia tidak hanya dihuni umat Islam, tapi juga umat agama lain.

“Para kyai ikut serta mendirikan NKRI. Pancasila itu tidak bertentangan dengan agama, pancasila itu sesuai dengan ajaran-ajaran agama. Pancasila adalah karya ulama, dari agama untuk bangsa. Oleh karena itu santri harus berkiprah dan berjuang untuk menjaga pancasila,” tandasnya. [Khoirul Anwar]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.