Tranformasi Kaderisasi IPNU-IPPNU

0
614

Oleh : Sidik (Kader PC IPNU Sragen)

Keberadaan anggotan merupakan hal yang vital dan menjadi keharusan dalam setiap organisasi. Tanpa anggota, niscaya tidak akan berguna sebuah organisasi. Menurut Max Weber pengertian organisasi adalah “suatu kerangka hubungan terstruktur yang didalamnya terdapat wewenang, dan tanggung jawab serta pembagian kerja menjalankan sesuatu fungsi tertentu.” Dengan implisit Weber menjelaskan bahwa dalam organisasi terdapat pembagian kerja yang ini dilakukan dilakukan anggota dan juga pengurus suatu organisasi.

Dalam menarik dan memertahankan anggota sebuah organisasi ada banyak cara dan tantangan. Tantangan ini akan menerpa pada setiap organisasi, baik yang sudah lama berdiri maupun yang baru seumur jagung. Semua organisasi akan menemui tantangan dalam menarik anggotan dan memertahankan anggota.

Tak terkecuali dengan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’ (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama’ (IPPNU). IPNU-IPPNU merupakan sebuah organisasi pelajar yang usia anggotanya dari tentang 13-27 tahun. Yang menjadi tantangan utama saat ini adalah mendidik dan mendekati generasi milenial.

Generasi millenial memiliki tipikal generasi yang mudah jenuh, tidak ingin dikekang serta, tidak suka dengan hal monoton. Dengan begitu, ini merupakan sebuah tantangan yang harus diselesaikan oleh organisasi pelajar seperti IPNU-IPPNU.

Perlunya Tranformasi

Dari karakteristik yang dimiliki oleh generasi millenial seperti saat ini, sangat perlu adanya transformasi dalam mendidik serta mendekati kader IPNU-IPPNU. Yang mana IPNU-IPPNU dahulu sering dikaitkan dengan kumpulan ngaji, pengajian, dan sangat agamis serta lebih sering diartikan sebagai wadah pelajar yang “islami” yang isinya cuma ngaji, ini perlu ditransformasi menjadi organisasi yang sesuai dengan generasi milenial.

Transformasi dari bentuk agamis / Islamic ditransformasi ke bentuk yang lebih dinamis, trendi, gaul, dan kekinian. Seperti, penampilan akustik, pelatihan-pelatihan media sosial, diskusi-diskusi ringan. Seperti contoh yang terjadi dalam Pelantikan Pengurus PAC IPNU IPPNU Kalijambe Kab. Sragen Masa khidmat 2019-2021 Pada Kamis, 5 September 2019. Dalam acara pelantikan tersebut, tampak berbeda dengan pelantikan-pelantikan PAC (Pengurus Anak Cabang) khusunya di Kab. Sragen.

Karena, pelantikan yang biasanya dibarengkan dengan acara pengajian, kali ini dimeriahkan dengan penampilan akustik, oleh Habib Zidan bin Luthfi bin Yahya yang terbilang masih muda. Dalam pengakuan ketua PC IPNU Kab. Sragen, Dwi Putro Joko Martono, “dalam sesi akustik para Kader begitu antusias.” masih menurut pernyataan Jecky, panggilan akrabnya, dalam acara konferancab PAC IPNU-IPPNU Karangmalang, juga mengadakan akustik, dan para kader sangat antusias.

Inovasi seperti ini agaknya perlu bahkan wajib untuk ditiru dan dikembangkan oleh seluruh tingkatan IPNU-IPPNU di Indonesia. Dengan substansi, menyikapi perkembangan zaman, perubahan karakteristik generasi dan, menjaga eksistensi IPNU-IPPNU di generasi milenial.

Transformasi tidak Mengubah Substansi

Transformasi (perubahan bentuk) tidak melulu mengubah substansi. Menurut pendapat Ketua Tanfidziyah PW NU Jawa Tengah 2013-2018, Abu Hapsin, Ph.D, cara berfikir transformasi adalah cara berfikir mengubah bentuk tapi tidak meninggalkan substansi asalnya. Dalam penjelasannya, transformasi terdiri dari dua kata, “trans” yang berarti “mengubah” dan “form” yang artinya “bentuk”. Namun, pengubahan bentuk ini bukan berarti mengubah semuanya hingga substansinya hilang. Menurut Pengasuh ponpes At-Taharruriyah ini, kita perlu tahu substansinya dari hal yang ditransformasikan.

Seperti halnya gagasan dari Yusuf al-Qaradhawi, yang menyikapi hadist “Tidaklah diperbolehkan bagi wanita untuk bepergian di atas tiga hari kecuali disertai mahramnya.” (HR. Bukhari Muslim) Menurut pendapat Abu Hapsin, Yusuf al-Qaradhawi mencermati, hadits ini tidak dengan lafzhi (tekstual) melainkan dengan mempertimbangkan illat (alasan) pelarangannya.

Substansi dari mahram adalah melindungi perempuan, zaman dahulu dengan jarak tempuh jauh ditempuh dengan berjalan kaki, maka dari itu guna dari mahram untuk melindungi.

Pendapat Yusuf Al-Qaradhawi, di zaman sekarang perempuan dapat dilindungi dengan Undang-undang. Menurut pandangan Abu yang merupakan alumnus UCLA (Universitas California, Los Angeles), ini adalah contoh sebuah transformasi yang benar (tanpa merusak substansi aslinya).

Dengan demikian, tranformasi perlu dilakukan sepanjang bisa meningkatkan tujuan awal dan substansi. Pada akhirnya, transformasi-transformasi bagi IPNU-IPPNU perlu dilaksanakan. Hal ini tidak lain sebagai Upaya meningkatkan pendidikan dan pendekatan terhadap kader-kader yang sudah Ada maupun menarik kader-kader baru.

Selain itu transformasi juga ada sebagai respon positif terhadap kemajuan zaman  dan perubahan sosiologi setiap generasi. Yang perlu digarisbawahi, transformasi tidak melulu soal sikap penyikapan kemajuan zaman bukan pula kaku. Lebih dari itu, transformasi yang bagus adalah yang sesuai dengan kebutuhan serta bersifat dinamis.

 Yang terpenting adalah dalam transfomasi bisa disiapkan nilai-nilai agama dan budaya seperti yang dilakukan oleh Nahdlatul Ulama’. Dimana perkawinan agama dengan budaya sudah menjadi tinggalkan para Walisongo yang patut dijaga.