Tipologi Kepemimpinan Islam

0
638
Ilustrasi (doc. istimewa)

Pemimpin nan agung dan mulia adalah para Nabi dan utusan-Nya mulai dari Nabi Adam As hingga baginda Nabi Muhammad SAW, sebagai Nabi dan Rasulullah terakhir. Semoga kita semua memperoleh syafa’at-nya, amin.

Para Nabi adalah pemimpin otentik, yang dipilih oleh Allah SWT untuk membawa ummat yang dipimpinnya agar dapat selamat, bahagia lahir batin, dunia akhirat dan mendapat ridla Allah SWT.

Kepemimpinan para Nabi dan para utusan-Nya bukan kepemimpinan hasil branding, polesan media massa untuk mencitrakan seorang kandidat dalam kontestasi pemilihan umum seperti masa sekarang ini, melainkan pemimpin yang sejak awal memiliki potensi luar biasa sejak awal untuk memimpin.

Para Nabi dan Rasul -Nya tersebut telah dididik sejak awal memiliki watak yang jujur, amanah, fathonah dan tabligh. Mereka diuji sejak awal dan telah lulus dari ujian alam kehidupan dunia, baik godaan kedudukan, harta, dan bahkan wanita.

Para Nabi dan Rasul itu memiliki karakter yang sangat baik dan kuat untuk memperjuangkan moralitas wahyu yang telah diterimanya dari Allah SWT.

Para Nabi dan Rasul tersebut memainkan kepemimpinan situasional, sesuai dengan kondisi yang dihadapinya, dan mampu keluar dari masalah rumit yang menghadangnya.

Kepemimpinan luar biasa seperti itu terjadi pada para Nabi dan Rasul, karena dibimbing langsung dari Alloh SWT melalui wahyu yang diterimanya melalui malaikat Jibril As.

Disamping itu para Nabi dan Rasul juga memiliki mukziyat dari Allah SWT untuk keluar dari situasi krisis yang dihadapinya. Hal ini juga diperoleh oleh Nabi dan Rasul terakhir, Muhammad SAW.

Suasana kepemimpinan Nabi Muhanmad SAW digambarkan, antara lain oleh suatu riwayat, bahwa Nabi Muhammad SAW tidak hanya memberikan komando, namun juga melaksanakan tugas sendiri.

“Suatu waktu kanjeng Nabi SAW, dengan para sahabat Rodliyallohu anhum. Sebagian sahabat mengatakan, “saya bagian nyembelih ternak”, “saya bagian nguliti ternak”, “saya bagian masak”, Lantas Kanjeng Nabi SAW, “saya bagian ngumpulin kayu bakar”.

Betapa suasananya sangat indah, Nabi SAW tidak hanya memberi aba-aba.  semua bekerja sesuai kompetensinya.

Kepemimpinan yang indah tersebut kemudian diteruskan kepada para Sahabatnya, terutama oleh Khulafa’u Rosyidin. Khalifah empat tersebut awalnya adalah para Saudagar kaya, namun hartanya diwakafkan untuk perjuangan Islam, hingga Islam tersebar di seluruh penjuru dunia. Setelah itu muncul fitnah al-kubra, namun setelah itu juga reda lahir para pemimpin yang bijaksana seperti Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Kebijaksanaan para pemimpin tersebut karena menjadikan Islam sebagai inspirasi ruh kepemimpinannya, bukan sebagai alat pembenar kebijakan-kebijakannya.

Pemimpin dan penguasa jelas berbeda jauh. Pemimpin itu mengayomi, membimbing, mendidik dengan suri tauladan adab dan akhlaq yang mulia. Sementara penguasa itu memerintah dengan otoriter sehingga ummat merasa takut. Kalau pemimpin itu mencintai dan dicintai ummatnya karena keluhuran budi pekerti.

Kepemimpinan Islam diejawantahkan dalan tradisi masyarakat Jawa, musalnya oleh Ki Hadjardewantara dengan istilah “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani“.

Ada juga ungkapan lain yang menarik, merupakan implementasi kepemimpinan Islam di tanah Jawa ini, misalnya, “ngluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake“. “Konco sewu kurang, musuh siji kakehan“. “Yen siro banter ojo nglancangi, yen siro mandi ojo natoni, yen siro sekti ojo mateni“.

Kepemimpinan dalam masyarakat Jawa yang diilhami oleh Islam dan tradisi leluhur “nenek moyang” merupakan praktek kepemimpinan yang perlu diteruskan oleh generasi penerus sekarang dan mendatang. Nilai-nilai luhur seperti “ojo dumeh“, merupakan pesan ringkas namun dalam maknanya.

Karakter yang demikian itu lah yang perlu dikembangkan oleh para pemimpin di Nusantara ini, khususnya di Jawa. Bukan seperti, “adigang adigung adi guno“, bukan “aji mumpung“, dan bukan pula “sopo siro lan sopo ingsun“.

Yang lebih menarik lagi, “ngono yo ngono, ning ojo ngono“, adalah wisdom yang selalu relevan sepanjang jaman dan tempat. Semoga kita mampu menjalankannya dengan memperoleh syafa’at baginda Nabi SAW, “setiap engkau adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan ditanya tentang kepemimpinannya”. Wallahu a’lam

KH. Mohamad Muzamil, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah