Peringati Hari Santri, Mbah Chalwani Ingatkan Teladan Diponegoro

0
589

Semarang nujateng.com KH Achmad Chalwani, pengasuh ponpes An-Nawawi, Purworejo mengatakan kaum santri berada di garda terdepan dalam perjuangan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. 

“Sejarah telah membuktikan para santri dan guru ngaji lah yang paling berani mengusir penjajah. Salah satu santri yang pemberani itu bernama Ontowiryo,” terang Simbah Chalwani dalam acara Mijen Bershalawat, belum lama ini.

Mantan senator DPD asal Jawa Tengah itu, lebih lanjut menerangkan sosok santri Ontowiryo. Dikatakan, Raden Mas Ontowiryo yang tak lain nama kecil dari Pangeran Diponegoro, adalah seorang santri tulen. Raden Mas Abdul Hamid  pernah belajar di sejumlah pesantren.

Pesantren pertama yang disinggahinya di Ponorogo diampu oleh Kiai Hasan Besari yang juga guru dari Ronggowarsito. Selain itu, belajar kitab kuning dari Kiai Taftafani Surakarta, dan ilmu tafsir dari Kiai Baidlowi Bagelelan. Terakhir dengan Kiai Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang.

“Di kamarnya ditemukan tiga peninggalan. Pertama Al Qur’an, menandakan muslim yang taat. Kedua tasbih, beliau penganut thoriqoh. Dan ketiga kitab Fatkhul Qorib bahwa beliau penganut mazhab Syafi’i,” jelas mursid tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah itu.

Lebih lanjut, kiai Chalwani mengajak jamaah untuk tidak terputus dari akar sejarah yang telah dirintis oleh ulama dan kiai yang telah berjasa menyebarkan ajaran Islam dan menyatukan NKRI. 

Disebutkan diantaranya KH Sholeh Darat yang telah menyebarkan Islam. Kiai Soleh Darat, imbuhnya, adalah tokoh yang mengenalkan shalawat kepada masyarakat Kota Semarang.

“Ulama dulu bertemu dengan orang Jawa berbahasa Jawa. Ketemu  Melayu berbahasa Melayu. Mereka berdakwah dengan bahasa dan budaya kaumnya,” terangnya.

Mijen Bershalawat yang diadakan untuk memperingati Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2019 berlangsung sangat meriah dengan kehadiran Gus Azmi. Pemeran film The Santri yang lebih dulu dikenal sebagai vokalis grup musik gambus Syubhanul Muslimin itu membawakan sejumlah shalawat yang sudah akrab di telinga para jamaah.

Majelis shalawat terasa lebih lengkap karena dihadiri ulama dan umara. Diantaranya KH Achmad Chalwani dari Purworejo dan Kiai Fadlolan Musyafa dari Semarang. Hadir pula Walikota Semarang Hendar Prihadi, Ketua DPRD Kota Semarang Kadar Lusman dan Rektor UIN Walisongo Prof Dr Imam Taufiq MA.

“Alhamdulilah, majelis dzikir dan shalawat sudah menjadi kegiatan rutin masyarakat di sini. Semoga dengan acara ini, semangat warga untuk terus menghidupkan majelis makin meningkat lagi,” ungkap Mahbub Zaki, ketua panitia, yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jawa Tengah. (Rep: Muhamad Sulhanudin/Rep:Rs-011)