Peran Da’i; Meningkatkan Takwa & Menyemai Damai

0
605
NU Online
SRC: NU Online

Oleh: Syamsul Ma’arif (Pengasuh Pesantren Al Khawarizimi Mijen

Pendakwah atau sering disebut da’i mempunyai peran signifikan dan tak
bisa dianggap remeh. Sebagai seseorang yang memiliki skil lebih dan terpandang dalam masyarakat. Harus senantiasa menjadi sosok yang bisa “digugu lan ditiru”. Harus selalu menjaga etika dan selalu meningkatkan kompetensi keilmuan.

Lebih-lebih para da’i dan ustadz di negara
majemuk, selain harus menguasai ilmu agama harus memiliki penguasaan lintas disiplin ilmu dan berwawasan multikultural.

Sehingga mereka disamping memiliki
penguasaan agama yang mendalam (seperti ilmu alquran, hadist, gramatika bahasa Arab,dll), juga menguasai ilmu antropologi, sosiologi, politik, budaya, dan
lainya.

Harapanya agar mampu memberikan pencerahan pada masyarakat luas, membangun harmoni dan mempromosikan dialog antariman.

Materi peningkatan iman dan takwa yang seringdisampaikan pun harus berbanding lurus dengan etika dan kesalihan sosial.

Semakin dalam iman seseorang harus mengejawentah dalam perilaku dan pribadi yang santun. Ucapannya tidak
pernah menyinggung perasaan orang lain.
Apalagi sampai mengejek kepercayaan agama lain dan berdampak pada instabilitas.

Bukankah muslim yang sejati itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya (Al-
Muslimu man salima al-muslimuuna min lisaanihi wa yadihi). Sebelum mampu menciptakan atmosfir persatuan dan
perdamaian. Maka, bisa dikatakan
keislamannanya belum sempurna, belum ideal atau bahkan hanya Islam KTP.

Islam sangat menekankan pemeluknya
menjaga perasaan ‘wong liyan’ (orang lain). Bahkan tidak disebut beriman
manakala seseorang itu masih suka usil dan menyakiti perasaan tetangganya. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallambersabda,

ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻳﺆﻣﻦ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻵﺧﺮ ﻓﻼ ﻳﺆﺫ ﺟﺎﺭﻩ

Artinya: “Barangsiapayang beriman kepada Allah dan hari Akhir maka janganlah dia mengganggu tetangganya’”(HR.Bukhari: 1609).

Bahkan seseorang disebut bertakwa dan
sesungguhnya takwa(haqqa tuqatih), jika
terdapat dalam diri seseorang paling tidak
empat hal;

Pertama, tawaddhu'(rendah hati). Sikap ini
menunjukkan sikap bisamengontrol setiap
perkataan dan perbuatanyang selaras dengan ruku’ dan sujud seseorang dalam shalat.

Semakin banyak shalat,seharusnya membekasdan memancarkan kebaikan-kebaikan dalam wajahnya. Hidupnya
penuh ketenangan dan kedamaian. Tak
meninggikan suaranya,tak takabur, dan
membusungkan dadanya.

Kedua, qana’ah (nerimo ananing pandum). Pada kondisi ini, seseorangharus pasrah dan menerima segala bentuk takdir atau ketentuan Allah (wa qanna’ahullahu bimaa ataahu). Termasuk pemberian rejeki berupa negara multikultural ini. Sebagai bentuk qana’ah adalah tidak merusak
kemajemukan dan ukhuwwah (sesama
muslim, kemanusiaan, dan sebangsa) dalam bingkai NKRI.

Ketiga, wira’i (menjaga diri). Semakin kuat
ketaqwaan seseorang harus berbuntut pada pemeliharaan semua perkataan, perbuatan, menjaga semua anggota tubuhnya dari murka Allah dan seluruh
kesibukannya hanya mencari ridha-Nya.
Sehingga semua waktu dan hari-harinya
senantiasa tenggelam dalam zikir dan ibadah kepada Allah. Tak punya sedikitpun waktu untuk menggunjing, ngrumpi, membully orang lain, apalagi menyemai bibi-bibit kebencian dan intoleransi.

Keempat, yaqin (keyakinan). Sebuah
kondisi stabilitas kepercayaan yang
tertancap dalam hati seseorang berdasarkan pengetahuan yang benar
dan rasa mahabbah kepada Allah. Seseorang yang sudah memosisikan
pada maqam ini, tak akan tergoda sedikitpun tujuan-tujuan duniawaiyyah
yang bersifat sementara. Sebab, tujuan akhirnya adalah bertemu dan wushul pada Allah. Wallahu a’lam bis shawab.