NU Pemersatu Ulama

0
1024

Oleh :KH. Mohamad Muzamil

Ikatan batin (rabithah ruhaniyah) para alim al-alamah sangat lah kuat. Sebab ulama (jama’ dari al-alim) memiliki sanad, baik riwayat ataupun diroyat yang sama, yakni bertemu pada ulama al-salaf al-sholih, bertemu para tabi’in, bertemu para Sahabat dan puncaknya bertemu kepada Nabi Muhammad SAW.

Dengan ikatan batin yang kuat, maka mereka tidak akan dapat dipisahkan oleh urusan duniawi yang remeh temeh seperti politik kekuasaan dan harta benda lainnya.

Ulama yang memiliki sanad hingga bersambung sampai pada Rasulullah SAW., disebut sebagai warosatu al-anbiya (pewaris para Nabi).

Mereka tidak mewarisi kenabian, namun mewarisi ilmunya Nabi Muhammad SAW, mewarisi akhlaknya, semangat perjuangannya, watak kasih sayangnya pada jama’ah dan murid-muridnya, kasih sayangnya pada makhluk-makhluk Alloh SWT di muka bumi ini, sehingga disebut dengan rahmat al-alamin. Mereka bersikap demikian karena semata-mata mencari ridlo Alloh SWT dan menghatap pertolongan (syafa’at) Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW adalah cahaya yang menerangi alam kegelapan menuju alam yang terang benerang (min dlulumat ila a al-nuur). Merubah tatanan dari jahiliyah menuju pada hidayah (petunjuk Alloh SWT).

Sebelum Nabi Muhammad SAW diutus oleh Alloh SWT untuk menyampaikan wahyu yang diterimanya lewat malaikat Jibril AS, masyarakat waktu itu disebut jahiliyah. Mereka tidak mau mengesakan Alloh, memperlakukan orang yang lemah sebagai budak yang diperjual belikan, tidak menghormati harkat dan martabat kaum hawa, dan berlaku wewenang-wenang terhadap suku yang berbeda. Mereka diliputi suasana konflik antara suku yang satu dengan suku lainnya, tidak mau saling menghormati antar kelompok, dan seterusnya.

Suasana demikian dirubah oleh Nabi SAW dengan para sahabatnya dengan landasan bangunan yang kokoh, yaitu dengan aqidah, syari’ah dan Akhlaq yang sangat luhur dan beradab.

Rasulullah Muhammad SAW tidak hanya merubah dengan kata-kata, melainkan dengan perjuangan yang sungguh-sungguh sebagai suri tauladan yang baik (al-uswah hasanah) bagi orang-orang yang beriman kepada Alloh SWT dan hari akhir serta bagi orang-orang yang selalu mengingat Alloh dengan dzikir yang sangat banyak.

Dalam menyampaikan dakwah risalah Alloh SWT, Nabi Muhammad SAW menyampaikan dengan penuh kejujuran, menjunjung tinggi amanah, dan kecerdasan yang luar biasa serta menyampaikan hak kepada mereka yang berhak.

Dengan demikian Nabi Muhammad SAW dan para Sahabatnya disebut Alloh SWT sebagai sebaik-baik ummat (khoiru ummah), dan disebut juga sebagai ummat yang tengah (ummat al-wasath), tidak ekstrim kiri maupun ekstrim kanan.

Dalam memahami Al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW, para ulama Aswaja menggunakan ijma’ dan qiyas.

Ijma’ telah dijamin oleh Nabi Muhammad SAW tidak akan salah. “La yajtami’u ummati ala dlolalah”.

Sikap demikian kemudian dirumuskan oleh para ulama yang kemudian disebut dengan prinsip keseimbangan (tawazun), berksikap di tengah (tawasuth), saling menghormati (tasamuh), dan tegak lurus (i’tidal). Hal ini lah yang kemudian merupakan ciri-ciri khusus (khosois) dari sikap kemasyarakatan ahlu al-sunnah wa al-jama’ah (aswaja).

Aswaja adalah metode (manhaj) pemahaman Islam yang diletakkan dasar-dasarnya oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya (maa Ana alaihi wa ashabi), yang kemudian ketika terjadi fitnah al-kubro, dijelaskan oleh Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansyur al-Maturidzi dalam ilmu tauhid, serta imam madzhab yang muktabar seperti Imam Hanafi, Imam Maliki, imam Hanafi dan Imam Ahmad bin Hambal dalam fiqh, Imam Abu Qasim al-Junaid al-badghdadi, Imam Al-Ghazali dalam akhlaq tasawuf.

Rumusan Aswaja tersebut kemudian di nusantara ini dijadikan sebagai rujukan oleh Nahdlatul Ulama (NU), organisasi yang didirikan oleh Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari pada awal abad ke-20 miladiyah. NU adalah organisasi ulama dan para jama’ahnya yang digunakan sebagai sarana perjuangan menegakkan Aswaja di tengah munculnya kembali fitnah setelah runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani pada 1924.

Pada awal kelahirannya NU dijadikan sebagai sarana pemersatu barisan ulama (li tauhidi sufufu al-ulama) hingga sekarang ini.

Memang banyak kalangan yang mengaku Aswaja. Namun pengakuan ini bisa diteliti sepak terjangnya apakah mereka memiliki sanad yang bersambung hingga Rasulullah SAW, memiliki manhaj berpikir yang telah dibangun oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, atau sekedar pengakuan saja.

Karena itu jika ada kelompok orang yang gemar menyalahkan pihak lain, menganggap dirinya benar sendiri, tentunya sudah jelas bertentangan dengan khosois Aswaja sebagaimana dijelaskan oleh ulama al-salaf al-sholih. Kelompok yang demikian ini akan selalu berusaha untuk memecah belah barisan para ulama.

Manhaj aswaja sangat lah kokoh konstruksinya. Aswaja ini kuat karena dijaga oleh Alloh SWT. “Inna Nahnu nazalna al-dzikro wa inna lahu lahafidzun”.

Jadi kita sebagai pengikut dari jam’iyyah NU, tidak usah bereaksi berlebihan terhadap ahli bid’ah. Tentu cukup bagi kita terus menerus belajar, melakukan kebaikan-kebaikan atau beribadah sesuai kemampuan masing-masing dengan mengikuti ulama sebagai pemimpin kita.

Wallahu a’lam

*Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah