Catatan Perjalanan Maroko : Ruang Khalwat Syaikh Muhammad Jazuli

0
596

Oleh : Nur Shoib*

Syaikh Idris Wakil Rektor yang ramah dan bersahaja itu menyebut Al Qawariyyin memang hanya membuka studi keislaman, namun tidak menutup diri bagi non muslim untuk belajar di Al Qawariyyin. Beliau bahkan menegaskan jika salah satu Paus Roma pernah belajar di Al Qawariyyin.

Setelah penjelasan dari Syaikh Idris dirasa cukup, serasa kurang sempurna manakala belum mengexplore jejak-jejak peradaban agung yang tergambarkan dari berbagai sudut bangunan di komplek Al Qawariyin dan Kota Lama Fes pada umumnya.

Salah satu yang meski dikunjungi adalah ruang Syaikh Muhammad Jazuli tokoh sufi dan pengarang kitab Dalailul Khairat. Di ruang untuk “khalwat” ini proses penyusunan kitab Dalailul Khairat dirampungkan selama hampir sepuluh tahun.

Selain Dalailul Khairat, berikut karya-karya Syaikh Jazuli, diantaranya Aqidatul Jazuli, Risalatut Tauhid, Kitab Azzuhud, Ajwibatun Fiddunya Waddin, Min Kalami Syaikh Aljazuli, Hizib Assyaikh (Hizib Alkabir), Hizib Alfalah (Hizb Asshaghir).

Persis di depan-samping ruang Syaikh Jazuli terdapat bongkahan kecil batu Kabah yang menempel di dinding bangunan. Batu tersebut dibawanya dari Makah saat Kabah dalam tahap renovasi. Batu itu sebagai pertanda jika Syaikh Jazuli pernah menunaikan ibadah haji di Makah.

Karena keterbatasan waktu, saatnya bergeser meninggalkan komplek bangunan Al Qawariyin dan Kota Lama Fes menuju rumah Syaikh Idris di Kota Baru Fes yang berjarak sekitar lima kilo meter.

Di dalam bangunan berbentuk apartemen yang sederhana, telah berkumpul Rektor dan para pejabat Al Qarawiyyin.

Dalam suasana penuh keakraban, Rektor memulai sambutanya dengan mengungkap sejumlah pertautan sejarah Indonesia-Maroko di era presiden Soekarno atau mereka biasa menyebut dengan panggilan Ahmad Soekarno. Nama jalan Casablanca di Jakarta dan nama Soekarno di Maroko adalah bukti sejarah hubungan diplomatik Indonesia-Maroko yang sudah terbangun sejak lama.

Selanjutnya Rektor menyinggung peningkatan hubungan diplomatik Indonesia-Maroko, utamanya di bidang pendidikan dan budaya agar terus ditingkatkan. Pihak Al Qarawiyyin berharap tidak hanya pertukaran pelajar/mahasiswa, tetapi juga pertukaran tenaga pengajar antar kedua negara.

Pihak Al Qarawiyyin menyatakan kesanggupannya menfasilitasi mahasiswa atau tenaga pengajar dari Indonesia selama mekanismenya ditempuh melalui kerjasama antar negara (G to G). Mengingat kebijakan kerajaan yang tidak mengijinkan pihak lembaga atau universitas melakukan kerjasama langsung dengan lembaga atau universitas lainnya kecuali melalui hubungan diplomatik antar negara. Secara teknisnya bisa melalui Kemenlu atau Kedubes dari kedua negara.

Di sela dialog dan perbincangan, tetiba saja ada lantunan salawat yang menggema di ruangan tamu yang tidak begitu luas. Salawat dipimpin oleh salah satu tenaga pengajar Al Qarawiyyin. Bahkan di akhir acara sebelum doa, dilaksanakan “asyrokolan” atau “mahalul qiyam” sebagaimana saat membaca maulid barzanji atau maulid dziba di Indonesia.

Suasana semakin menghangat, tidak ada sekat atau batas baik sesama pejabatnya ataupun dengan para tamu yang baru dikenalnya. Soal jamuan apa saja yang di sajikan, jangan diragukan, pokoknya istimewa dan luar biasa. Makanan atau minuman melimpah ruah, varian menunya juga luar biasa. Begitulah keluarga besar Al Qarawiyyin dalam menghormati tamunya.

Setelah di tutup dengan doa saatnya pamit dan melanjutkan perjalanan ke Kota Tanjier yang di tempuh selama empat jam perjalanan. Di Kota ini terdapat pelabuhan/ dermaga yang dapat menghubungkan Maroko dengan Spanyol.

*Dewan ahli nujateng.com