Catatan Perjalanan Maroko : Al Qarawiyyin Yang Melegenda

0
651

Nur Shoib*

nujateng.com Perjalanan puluhan jam Jakarta Indonesia-Dubai UEA-Casablanca Maroko yang melelahkan akhirnya “terbayar” kala siangnya bisa langsung mengunjungi Masjid Hasan 2 di Casablanca. Masjid kebanggaan warga Maroko ini banyak dikunjungi turis mancanegara. Konon biaya pembangunannya menghabiskan 800-an juta dolar Amerika.

Setelah transit sekitar satu jam di penginapan untuk mandi dan ganti baju, sore harinya melanjutkan perjalanan darat untuk bersilaturahmi dengan Dubes Indonesia untuk Kerajaan Maroko dan Mauritania dan Perhimpunan Pelajar Islam Indonesia (PPII) di Rabat Maroko.

Di halaman belakang rumah dinas Dubes yang asri, silaturahmi berjalan dalam suasana keakraban dan penuh kekeluargaan. Petang hingga malam membincang perkembangan dunia pendikan Islam di Maroko serta hambatan dan tantangan yang dihadapi para santri Indonesia yang sedang belajar di Maroko.

Setelah menginap semalam di Rabat, keesokan paginya melanjutkan perjalanan darat sekitar tiga jam menuju Fes yang terbagi menjadi dua wilayah, yaitu Kota Baru dan Kota Lama. Di kota inilah terdapat universitas Al Qarawiyyin yang melegenda.

Berdasarkan penetapan Liga Arab dan Badan PBB UNESCO, Al Qarawiyyin yang berada di tengah-tengah Kota Lama Fes adalah universitas pertama di dunia yang didirikan pada tahun 859 M.

Universitas yang hanya membuka bidang studi keislaman ini telah melahirkan banyak tokoh dan intelektual Islam dunia, dan telah serta akan terus menjadi salah satu pusat spiritual dan pendidikan terkemuka dari dunia muslim.

Al Qarawiyyin yang berada di tengah-tengah Kota Lama Fes hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki mengingat jalanannya yang berlorong dan sempit. Kendaraan bermotor apalagi mobil terhenti di seputar parkiran yang terletak di muka Kota Lama Fes.

Saat menyusuri Kota Lama Fes, terdapat deretan bangunan kuno dengan berbagai varian dagangan yang dijajakan oleh penduduk setempat, dari urusan sayur-mayur hingga berbagai kerajinan tangan dari bahan tembaga khas Maroko.

Sesampainya di komplek Al Qarawiyyin, tepatnya di ruang perpustakaan, sambutan hangat datang dari Syaikh Idris Wakil Rektor Al Qarawiyin. Beliau bersama kepala perpustakaan menjelaskan secara runtut sejarah berdirinya Al Qarawiyyin hingga perkembangannya sekarang.

Di ruang perpustakaan tertua ini Syaikh Idris menggelar berbagai manuskrip lama (asli) dari tulisan Al Quran tanpa harokat, kitab Bibel asli, hingga karya-karya masterpiece ulama terdahulu. Tidak hanya manuskrip ilmu agama, tetapi juga ilmu umum. Dalam pengakuannya, baru kali ini manuskrip tersebut diperlihatkan kepada para tamu yang mengunjunginya.

Syaik Idris dalam kesempatan dialog juga mengemukakan basis pendidikan Al Qarawiyyin diselenggarakan di masjid yang terletak di komplek Al Qarawiyyin dengan sistem pengajaran klasik atau tradisional. Sementara santri atau mahasiswanya menempati bangunan-bangunan lama yang ada di sekitar universitas

*Dewan Ahli nujateng.com