Mendoakan Para Wali dan Ulama, Sejatinya Doa Untuk Siapa?

0
2041
Istri KH Abdurrahman Wahid, Shinta Nuriyah melakukan tabur bunga di makam sang suami sebelum melakukan doa dan tahlil. Foto : Abdus Salam

Kita berdo’a kepada Allah Ta’aalaa yang dikhususkan untuk para wali, para ulama, syuhada’, sejatinya doa itu untuk siapa?

Ini perlu kita renungkan sejenak, karena ilmu, amal ibadah, dan keikhlasan para auliya’, ulama, dan syuhada itu sangat banyak. Bila dibandingkan dengan ilmu, amal dan keikhlasan kita sebagai pengikutnya, tentu tidak ada apa-apanya. Justru kita lah yang masih memerlukan pendidikan dari mereka.

Sudah tidak terhitung berapa banyak para ulama yang menghadap kehadirat Allah. Padahal kita sedikit tahu bahwa Allah mengambil ilmu-Nya itu dengan mewafatkan para ulama-Nya. Jika ada seorang ulama yang wafat, ilmunya dibawa mereka “sowan” kepada Allah. Kalau kita sebagai santri atau muridnya, berapa persen kira-kira kita bisa menyerap memahami ilmu dan mengamalkannya? Tentu tidak ada 100%. Lalu mengapa kita berani mendoakan para ulama yang sudah wafat? Memangnya kita ini siapa?

Sebagaimana kita membaca shalawat kepada Nabi Agung Muhammad Saw., kita yakin bahwa Nabi itu ma’shum, yang selalu benar dan dijaga Allah Swt dari kekeliruan. Tidak seperti kita yang selalu salah dan lupa.

Kita telah diajari kiai kita baca shalawat, karena kita diperintah oleh Allah Swt, dan Nabi Saw pun mendoakan, setidaknya lebih banyak sepuluh kali lipat mendoakan kita. Ini karena Nabi Saw mencintai umatnya, hariisun ‘alaikum bi al-mu’miniin ra’uufurrokhiim.

Demikian halnya, jika kita mendoakan kepada ulama yang sudah wafat, tentunya doa itu juga akan kembali kepada kita, karena ulama adalah pewaris para Nabi, yang memiliki “welas asih” kepada kita sebagai santri atau pengikutnya.

Doa kita kepada Allah Swt. yang dikhususkan kepada ulama yang wafat pada hakikatnya adalah perwujudan cinta kita kepada ulama kita. Katakanlah jika kita mencintai Allah, maka kita ikuti Nabi Muhammad Saw.

Bagaimana kita akan mengikuti Nabi Saw., sementara kita belum pernah berjumpa Beliau? Kita mengikuti Nabi adalah dengan cara mengikuti para ulama yang mendidik kita, karena para kiai kita menerima pendidikan dari gurunya dari gurunya hingga dari sahabat dan dari Nabi Saw.

Dengan mengikuti ulama yang mendidik kita sepenuh hati, insya Allah pada gilirannya kita akan bisa mengikuti Nabi Saw dengan jalinan hubungan batin yang kuat tiada putusnya. 

Dengan perantaraan ilmu, amal dan keikhlasan yang diajarkan oleh guru dan kiai kita, insya Allah kita akan bertemu dan berkumpul kembali bersama mereka, yukhsarul mar’u ma’a man ahabba. Dan pada saatnya kita akan berjumpa kepada Nabi dan Sang Maha Pencipta, Allahumma aamiin.

Karenanya dengan doa yang tulus, kita rela panjatkan kepada Allah Dzul Jalal wa al-ikhraam. Tentu ini hanya harapan, dan harapan ini akan menjadi kenyataan jika kita mengikuti keteladan yang sudah diberikan kepada kita, utamanya tentang adab, ilmu dan taat kepada Nabi Muhammad. Wallahu a’lam.

KH. Mohamad Muzamil, Ketua Tanfidziah PWNU Jawa Tengah