Mbah Moen Di Mata Santri

0
921

Oleh : Mukti Ali Qusyairi
( alumni Pesantren Lirboyo Kediri )

UMAT ISLAM sedunia sedang khusyuk ibadah haji. Ibadah haji adalah rukun Islam kelima yang didambakan oleh setiap individu umat Islam. Selain thawaf, sa’i, wuquf di ‘Arafah, tahallul, dan lempar jumrah, ibadah haji pun diisi dengan berbagai ibadah dan doa taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) secara maksimal. Ibadah haji di Tanah Suci dijadikan media untuk beribadah total dan ‘gas poll’.

Para alim banyak mendambakan wafat dalam keadaan husnul khatimah. Di antara ciri-ciri husnul khatimah adalah semasa hidup senantiasa taat agama, bermanfaat bagi sesama, dan wafat di saat sedang beribadah. Mbah Maemon wafat di saat sedang menjalankan ibadah haji. Ini adalah kode kuat yang menunjukkan bahwa Mbah Maemon wafat dalam keasaan khusnul khathimah.

Baca juga : The Rabbit’s Tale” dan Kisah Rumah Sempitnya

Bahkan, kematian paling indah adalah kematian di saat beribadah menghadap Allah, seperti haji, shalat, membaca Al-Qur’an, mengajar. Sehingga banyak para alim mendambakan wafat ketika haji atau shalat. Mbah Maemon merenggut kematian dan kematian merenggut Mbah Maemon dengan penuh kemesraan dan indah. Allah mengajak pulang kekasihNya, yakni Mbah Moen dalam keadaan indahnya beribadah.

Teladan Para Santri

Ketika saya nyantri di Pesantren Lirboyo Kediri, ada perhelatan Reuni Akbar yang ternyata dihadiri oleh ribuan alumnus yang notabene kiyai yang memiliki pesantren dengan banyak santri dan alumni serta berpengaruh di tengah umat dan negara. Di antara alumni yang hadir dan memberi sambutan/ceramah yaitu KH. Maimun Zubair (Mbah Moen), KH. Musthofa Bisri (Gus Mus), KH. Said Aqil Siradj, KH. Nur Iskandar, dan kiai yang lain.

Sebagai alumni, Mbah Moen dengan penuh antosias sering memberikan kata pengantar sembari dibubuhi tanda tangan pada setiap buku karya tulis santri Lirboyo. Seraya memberikan dukungan agar para santri Lirboyo terus berkarya. Tak berlebihan, suport Mbah Moen adalah salah satu faktor belakangan semakin membahananya gerakan literasi di kalangan santri dan tidak sedikit bermunculan penulis muda dari kalangan alumni pesantren Lirboyo.

Baca juga : Menggapai Cinta Allah dengan Istighfar

Mbah Maemon sendiri adalah seorang penulis. Di antara karyanya yaitu al-‘Ulama al-Mujaddiduna, Tarajum Masyayih al-Ma’had Sarang al-Qadim, ‘Inayat al-Muftaqar bi-Ma Yata’allaq bi-Hidir ‘alaihi as-Salam, Maslak at-Tanasuk al-Makkiy wa Takmilatuhu.

Di sekitar tahun 2005, saya sedang belajar di Universitas Al-Azhar, Mbah Moen sedang berada di Mesir. Saya sowan. Beliau mengajak bicara dengan bahasa Arab fushah. Saya sungguh semakin mengaguminya.

Di setiap nasehat dan tausiyahnya, Mbah Maemon menekankan pendidikan tanpa dan anti kekerasan. Mbah Moen bertutur, “Jadi guru itu tidak usah niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridnya tidak pintar. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan niat mendidik yang baik. Masalah muridmu pintar atau tidak serahkan sama Allah. Didoakan saja terus menerus supaya muridmu mendapat hidayah”.

Teladan Bangsa

Pada tahun 2012, Mbah Moen menyerahkan ijazah syair “Syubbanul Wathan, Cinta Tanah Air” karya KH. Abdul Wahab Chasbullah, salah satu tokoh pendiri NU kepada para ulama dan santri Nahdhiyyin. Sebagai berikut,

Baca juga : Menyeimbangkan Wahyu dan Akal

Ya Lal Wathan Ya Lal Wathan Ya Lal Wathan
Hubbul Wathan minal Iman
Wala Takun minal Hirman
Inhadhu Ahlal Wathan
Indonesia Biladiy
Anta ‘Unwanul Fakhama
Kullu Man Ya’tika Yauma
Thamihan Yalqo Himama
Pusaka Hati Wahai Tanah Airku
Cintamu dalam imanku
Jangan halangkan nasibmu
Bangkitlah hai bangsaku
Indonesia negeriku
Engkau panji martabatku
Siapa datang mengancammu
Kan binasa di bawah durimu.

Syair ini dimunculkan Mbah Moen pada masa yang tepat. Di saat sebagian umat Muslim euvoria ingin merubah ideologi bangsa ke khilafah atau syariat Islam. Syair tersebut sebentuk konter narasi radikalisme dan mengokohkan nasionalisme. Mbah Moen hendak menegaskan kembali bahwa cinta tanah air adalah bagian dari keimanan, cinta tanah air merupakan kewajiban agama.

Baca juga : Hikmah Allah Menciptakan 1 Mulut 2 Telinga

Di akhir hayatnya, Mbah Moen sedang gencar menyuarakan bahwa ideologi Pancasila sudah final dan NKRI harga mati. Sebab tidak bertentangan dan tidak boleh dipertentangkan dengan agama. Selaksa Mbah Moen sedang menyampaikan wasiat terakhirnya pada seluruh anak bangsa, bahwa umat Islam harus bersama-sama dengan umat agama lain berkewajiban menjaga dan memajukan bangsa ini dengan ideologi yang ada.