Mengenal Lebih Dekat Nyai Sofiyah Syahid

0
703

nujateng.com Bagi masyarakat Rembang dan sekitarnya, nama Hj Shofiyah Syahid, atau biasa dikenal dengan Ibu Nyai Syahid cukup dienal. Ia adalah istri dari seorang ulama KH Ahmad Syahid bin Sholihun rahimahullah, pendiri Pesantren Alhamdulillah, Desa Kemadu, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. 

Setiap acara haul, ribuan santri dari penjuru daerah pasti datang memadati halaman pesantren. Karena area pemakaman Mbah Syahid dan Nyai Shofiah berlokasi di komplek pesantren. Apalagi jumlah santri lulusan pesantren yang di asuh Mbah Syahid, panggilan akrab KH Ahmad Syahid, sudah tak terhitung lagi jumlahnya. 

Setiap haul, para ulama besar seperti KH Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus), dan Katib ‘Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Tak jarang, para anggota DPRI RI hadir dalam acara rutinan, yang sudah lestari setiap tahun. 

Baca juga : Mengenal Nyai Sofiyah Syahid Sosok di Balik Pesantren Kemadu Rembang

Dalam beberapa kesempatan KH Yahya Cholil Staquf pernah mengungkapkan ketokohan Hj Shofiyah. Menurut Gus Yahya, almarhumah merupakan sosok wanita hebat yang setia mendampingi Mbah Syahid dalam merintis pondok dan mengajar masyarakat serta santri belajar tentang agama Islam. 

Gus Yahya mengisahkan, pernikahan Mbah Syahid dengan Nyai Hj Shofiah beda usia. Usia Nyai Shofiah jauh lebih dewasa jika dibandingkan Mbah Syahid. “Nyai Hj Sofiyah wafat pada usia 73 tahun, tepatnya pada Mei 1994. Semasa hidup, beliau sangat total membantu Kiai Syahid mengembangkan pondok,” cerita Gus Yahya dihadapan ribuan hadirin haul Nyai Hj Shofiah. 

Saat Mbah Syahid dikhitan di usia kanak-kanak, Mbah Shofiyah sebagai tetangga bersama wanita dewasa lainnya sudah ikut membantu orang tua Mbah Syahid mempersiapkan masakan untuk kondangan. Hal itu menunjukkan perbedaan usia antara keduanya. 

Baca juga : IKA PMII Diharapkan Jadi Jembatan Warga NU Kendal

Namun diperjalanan keduanya dipertemukan sebagai sepasang suami istri, dan belakangan menjadi dua orang pengasuh pesantren yang diberi nama Ponpes Alhamdulillah. Dalam perjalanannya, Mbah Syahid sangat menghormati sang istri, begitu juga sebaliknya. 

Nyai Shofiyah bisa dikatakan perempuan sangat hebat karena rela berkorban untuk mendukung kiprah sang suami merintis sebuah lembaga pendidikan yang bernama pondok pesantren. 

Dikatakan Gus Yahya, pernah suatu ketika Kiai Syahid berkata “Orang-orang itu salah sangka, dikiranya aku ini keramat. Padahal yang punya keramat itu sebenarnya ya Nyai (Mbah Shofiyah red). Aku bisa begini ini karena Nyai.

Kalau bukan karena dia, mustahil aku bisa istiqamah,” cerita Gus Yahya menirukan Kiai Syahid. Hj Shofiyah Syahid merupakan sosok pertama yang mendampingi KH Ahmad Syahid. Sepeninggal Nyai Shofiyah, Kiai Syahid menikah dengan Nyai Hj Nur Rohmah Syahid dan dikaruniai dua orang putra yakni Rabbi’ Lutfi (Gus Obi’) dan Safiqoh Samiyah (Neng Sa)

Baca juga : Film “Jejak Langkah Dua Ulama” , Akan Diputar September Tahun Ini

. Sepintas, tidak ada bedanya peringatan haul yang digelar oleh keluarga besar Pesantren Alhamdulillah, dengan hal yang digelar di pondok yang lain. Namun jika ditelusuri lebih mendalam, ada kekhasan yang menjadi kebiasaan yang sudah turun – temurun semasa Hj Shofiyah Syahiddan KH Ahmad Syahid semasa hidupnya. Kebiasaan ini masih diteruskan oleh Nyai Hj Nur Rohmah Syahid, sebagai penerus pesantren.

Di pesantren ini sangat memuliakan tamu, dengan jamuan khasnya. Ternyata jamuan tersebut biasa dilakukan sejak zaman pesantren itu berdiri. Salah satu jamuan yang di kangeni para tamu adalah nasi jagung, yang dipadukan dengan nasi beras, lengkap dengan lalapan serta sayur dan ikan.

Seluruh makanan yang disajikan di pesantren sebagian besar merupakan hasil pertanian yang digarap para santri dan pengurus pondok. Bagi masyarakat Desa Kemadu Kecamatan Sulang saat itu, Nyai Shofiyah tergolong kaya raya. Kebun dan sawahnya luas.

baca juga : Mempertahankan Indonesia Sebagai Ungkapan Rasa Syukur

Nyai Shofiyah mewakafkan lahan untuk membangun pesantren bagi Kiai Syahid, suaminya. Singkat kata, dengan dukungan Nyai Shofiyah, Mbah Syahid bisa fokus dan istikamah mengajar santri dan masyarakat, tanpa harus terbebani urusan ekonomi keluarga.

Tak hanya itu, Nyai Shofiyah juga merelakan hasil panen pertaniannya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pondok Kemadu sendiri didirikan sekitar tahun 1950 – an oleh KH Ahmad Syahid bin Sholikhun bersama istri pertamanya, Nyai Shofiyah. Pondok ini terletak di Jalan Rembang – Blora KM 14, tepatnya di Desa Kemadu Kecamatan Sulang Kabupaten Rembang. Tepat pada hari Jumat, 3 September 2004,

Baca juga : Janganlah Berbuat Mudarat

Kiai Syahid wafat pada usia 78 tahun. Kiai Syahid dimakamkan di sebelah pusara istri pertamanya, Nyai Shofiyah yang berada di komplek pondok. Sepeninggal Kiai Syahid, Pondok Kemadu diasuh dan dipimpin oleh Nyai Hj Nur Rohmah Syahid. Saat itu, Gus Obi’ dan Neng Sa masih kecil. Saat ini, Gus Obi’ masih mondok di sebuah pesantren ternama di Pare.

Ia juga tengah menyelesaikan studi S-1 di sebuah perguruan tinggi ternama di Malang. Usai merampungkan studinya, Gus Obi’ berencana membantu ummi panggilan Gus Obi’ kepada Nyai Hj Nur Rohmah ‘nggulowentah’ santri-santri di Pesantren Kemadu melanjutkan perjuangan sang ayah, Kiai Syahid.

Tulisan ini pertama terbit di NU Online