Syekh Ismail Muhammad: Generasi Emas Mutamakkin Sebelum Kemunculan NU

0
938
Syekh Muhammad Ismail. Kredit foto : Gus Ubaid

Ubaidillah Achmad*

Syekh Ismail Muhammad Al Jawi, adalah nama yang masyhur di kalangan Ulama Nusantara, sebelum berdiri organisasi Nahdlatul Ulama. Hal ini bukan karena kehadirannya menandai pesantren pertama di Kajen Pati dari generasi emas dzuriyah Syekh A. Al Mutamakkin, namun beliau adalah ulama Nusantara generasi sesudah Syekh Nawawi Al Bantani dan sebelum Syekh Mahfudz At Tirnasy, yang turut mendampingi putra dan putri nusantara yang belajar di Makkah.

Meski beliau sering bepergian di Mekah, namun masih tetap istiqamah memberikan pengajaran di pesantren pertama Kajen yang beliau asuh. Hal ini, karena masih banyaknya para Ulama Nusantara yang ingin menimba ilmu dari pesantren Kajen, yang identik dengan tanah kinajen, yang juga dinisbatkan dengan nama besar Syekh Ahmad Al Mutamakkin. Kajen menyimpan dan menandai sejarah kewalian Syekh Ahmad Al Mutamakkin yang gigih meneruskan nilai keutamaan yang diperjuangkan oleh para leluhurnya, Walisongo dan Sunan Rahmatullah Ampel.

Syekh Ismail Muhammad Al Jawi di makamkan di Ma’la Makkah, tidak jauh dari makam Syekh Nawawi Al Bantani. Sejak pesantren di tinggal Syekh Ismail Muhammad memenuhi panggilan Allah, putra beliau KH. Munji masih usia remaja, sehingga belum bisa melanjutkan pesantren Syekh Ismail Muhammad Al Jawi. Sebenarnya, Syekh Ismail memiliki putri yang cerdas dan kuat hafalannya, bernama Badriyah Ismail, yang wafat masih usia remaja dengan kedalaman keilmuan yang tinggi.

Nama harum Syekh Ismail Muhammad, sekarang ini, telah diabadikan untuk cicitnya, bernama KH. Ismail Muhammad, yang sekarang ini bersama seorang adik, bernama KH. Abdullah Umar menjaga obor pesantren tengah dari leluhur Syekh Ismail Muhammad. Sedangkan, nama Badriyah binti Ismail Muhammad, telah diabadikan untuk nama cicitnya, bernama Ny. Hj. Siti Badriyah Fayumi Munji, yang sekarang menjadi pendiri dan pengasuh Pesantren Machasina Institute Pondok Gede dan aktivis Perempuan.

Kebangkitan Kembali Pesantren Tengah

Sejak Syekh Ismail Muhammad Al Jawi wafat, beliau meninggalkan putra yang masih remaja, bernama Munji. Munji remaja belum bisa menggantikan peran ayah, pendiri pesantren tengah, yang sebelum berdiri organisasi NU, telah menjadi pusat pembelajaran santri yang datang dari berbagai kawasan nusantara.

Sehubungan dengan masa kekosongan ini, selain masih menunggu kesiapan KH. Munji melanjutkan pesantren Syekh Ismail Muhammad Al Jawi, pesantren dikelola oleh santri kesayangan Syekh Ismail Muhammad, bernama KH. Murtaji yang juga masih dari bani Al Mutamakkin. Meski demikian, pada masa kekosongan ini, pesantren tengah tetap mendapatkan dukungan moral dari bani Mutamakkin, yang tinggal dan menjadi pengasuh pesantren di lingkungan Kajen Pati. Hal ini membuktikan, telah menandai sejarah keluarga, yaitu kekompokan para dzuriyah Syekh Ahmad Al Mutamakkin untuk bersama sama mempertahankan khazanah keilmuan Syekh A. Al Mutamakkin.

Pada masa Munji Remaja, telah dimatangkan oleh pengalamannya mengunjungi pesantren yang memiliki jejak leluhur dengan tradisi Islam Nusantara, sebagaimana yang diajarkan Syekh Ahmad Al Mutamakkin dan zaman kewalian Walisongo. Di antara dua Ulama Masyhur yang dikunjunginya, adalah Syekh Khalil Bangkalan Dan Syekh Shaleh Darat.

Alkisah, sedianya KH. Munji hendak belajar kepada Syekh Khalil Bangkalan dan Syekh Shaleh Darat. Pertama, setelah KH. Munji sampai dipintu gerbang pesantren, Syekh Khalil memerintahkan kepada para santri untuk meminta KH. Munji agar sebaiknya kembali pulang ke Kajen Pati. Sesampainya KH. Munji di pintu gerbang lokasi pesantren tengah yang fenomenal semasa kejayaan Syekh Ismail Muhammad Al Jawi, Kiai Munji sangat terkejut, karena Syekh Khalil Bangkalan sudah berdiri di depan pintu rumah tempat tinggal KH. Munji, yang berada di ujung timur pesantren tengah.

Kehadiran Syekh Khalil menegaskan, peran penting Syekh Ismail Muhammad dalam penguatan keilmuan para santri dan Ulama nusantara. Karenanya, Syekh Khalil mengakui kehadirannya di pesantren tengah ini, bertujuan untuk menguatkan sikap dan pilihan KH. Munji agar segera mengisi dan melanjutkan warisan kelembagaan dan keilmuan Syekh Ismail Muhammad Al Jawi.

Kedua, hal yang sama, pesan yang disampaikan oleh Syekh Shaleh Darat kepada KH. Munji, yang harus segera mengisi keberlangsungan pesantren tengah yang sudah dimulai sejak Syekh Ismail Muhammad.

Sehubungan dengan kedua masukan dari kedua Ulama, yang memiliki keterkaitan dengan geneologi keilmuan dari generasi emas Al Mutamakkin, akhirnya menguatkan peran KH, Munji mempertahankan keberlangsungan pesantren tengah sesudah wafat Syekh Ismail Muhammad. Sesudah KH. Munji aktif mengelola pesantren tengah dan terlibat dalam aktivitas pendampingan kepada masyarakat, KH. Munji memiliki kekhasan model pendampingan yang berbeda dengan para Kiai yang sezamannya.

Selama mengelola pesantren, KH Munji, lebih banyak keluar membentuk kebeagamaan masyarakat dengan nilai Islam Nusantara di Pati Selatan dan beberapa kawasan desa yang belum memahami makna pencerahan Ulama dan Kiai yang bersumber dari nilai ajaran Islam. Salah satu di antara desa dampingan KH. Munji, adalah desa Tambakromo Pati. Jejak KH. Munji di desa ini ditandai dengan adanya Masjid Besar Bait As Salam Desa Tambakromo Jl. Tambakromo-Pati, Rt.05 Rw.2 Kecamatan Tambakromo Kab. Pati.

Tantangan dan ujian KH. Munji tidak ringan, karena harus berhadapan dengan masyarakat yang belum mengenal persamaan, keadilan, kemanusiaan. Selain itu, ia juga berhadapan dengan penjajah yang mengancam keselamatannya. Ancaman penjajah ini, secara bersamaan telah dialami oleh KH. Mahfudz Salam (ayahanda KH. MA. Sahal) Polgarut. Sampai akhir hayat, KH. Munji selamat dari ancaman ini, namun selama hidupnya selalu membaca kondisi dan situasi gerakan penculikan atau kekerasan yang direncanakan oleh para penjajah.

Kisah penanda keberlangsungan perjuangan Syekh Ismail Muhammad, yang ditandai adanya keteguhan KH. Munji mengawal pesantren tengah Kajen, yang juga menjadi bagian dari sejarah beberapa Ulama Nusantara, yang belajar kepada Syekh Ismail Muhammad, telah mengalami masa fatrah yang kedua.

Hal ini karena ditandai sebuah peristiwa wafat KH. Munji, yang meninggalkan dua putra dan tiga putrinya. Ketika KH. Munji wafat, kesemua putra dan putrinya masih berusia anak anak. Karenanya, tidak ada satu pun putra yang mengingat hari, tanggal dan tahun wafat KH. Munji Bin Syekh Ismail Muhammad Al Jawi. Di antara putra dan putrinya pun, tidak ada yang menyimpan buku dan fotonya, karena telah diambil para penjajah.

Meskipun demikian, sejarah Syekh Ismail Muhammad dan putranya, KH. Munji, masih menyisakan jejak yang menandai perjuangan dari generasi emas Syekh Ahmad Al Mutamakkin menyebarkan Islam Nusantara. Jejak Syekh Ismail Muhammad, berupa: Pesantren Tengah Kajen, yang terletak di selatan Masjid Kajen dan dua orang cucu, yang menjadi Ulama yang aktif di organisasi NU, yang pertama, KH. A. Fayumi Munji meneruskan pesantren Tengah dengan mengganti nama Pesantren Raudlatul Ulum Kajen dan ahli falaq serta aktif NU.

Kedua, KH. A. Tamamuddin Munji pengasuh pesantren Njumput-Sidorejo Pamotan Rembang, yang semasa hidupnya pernah menjadi Rais PCNU Rembang selama 2 Periode dan MUI Kab Rembang, serta Mursyid Thariqah Naqsyabandiyah. (Ed:Rais/011)

*Penulis buku Suluk Kiai Cebolek dan Islam Geger Kendeng, khadim Pesantren Bait As Syuffah An Nahdliyah Njumput-Sidorejo Pamotan Rembang.