Gus Nasrul: Penceramah Video viral belum tentu Orang Berilmu

0
624
Kredit foto : Gus Nasrul

Semarang, nujateng.com – Saat ini ada salah kafrah di ruang publik maya, termasuk menjangkit kalangan terpelajar.

“Terkena asumsi, bahwa setiap orang yang video pidatonya viral adalah tokoh besar, atau ahli agama, atau tokoh berpengaruh, tokoh panutan, hal itu perlu di luruskan,” kata Wakil katib PWNU Jateng, KH Nasrulloh Afandi.

Dalam workshop pengembangan karakter anti terorisme. Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang(Unnes) baru-baru ini, 22 Juni.

Gus Nasrul, sapaan akrabnya, Ia menegaskan banyak beredar video viral orang yang berperan sebagai penceramah, videonya viral justeru berawal dari orang yang ilmunya pas-pasan. Ada yang hanya bermodal pintar retorika pidato, karena mantan aktivis demo, ada mantan dukun suwuk, ada yang bermodal humor berlebihan untuk daya tarik videonya, ada banyak yang bermodal mengangkat isu sosial yang sedang aktual di ruang publik, umpama isu tentang anti pancasila dan sejenisnya. Ada yang bermodal gaya pakean atau gaya rambut tertentu untuk mencari pangsa pasar. Namun dalam vidatonya diawali dan diakhiri, dengan gaya ceramah seorang ahli agama, ada ‘bismillah’, ada ‘alhamdulillah’, dan seterusnya, melakukan pencitraan besar-besaran di medsos, seolah mereka memang ahli agama, publik pun terpengaruh dan berebut untuk mengundang ceramah”, tutur Doktor Maqashid Syariah Cumm laude Universitas al-Qurawiyin Maroko itu.

Banyak video beredar di medsos yang “membentuk opini publik”, bahwa orang dalam video tersebut adalah pakar Islam, juru dakwah, padahal di dalam video nya macam-macam tujuannya, ada yang menyebar terorisme dengan modus secara halus, ada yang menyebar radikalisme dengan terang benderang.

Adanya yang menjadi corong kepentingan politik tertentu, bahkan juga banyak yang nyata-nyata dengan keterbatasan ilmu agamanya, menjadikan mimbar dakwah sebagai ladang mencari kemewahan materi.

“Faktanya banyak orang yang mendeklarasikan diri sebagai penceramah agama tetapi setiap manggung pasang banderol seperti pemain dangdut”, tutur kiyai muda pesantren Balekambang Jepara Jateng itu.

“Bahkan orang yang masuk Islampun, dadak belajar agama di google, karena videonya viral, anehnya publik menyebut orang tersebut sebagai ustadz, tokoh ahli agama, dan laris manis diundang ceramah kemana -mana, padahal orang tersebut juga nyata-nyata mengusung faham khilafah yang merongrong pancasila”, tutur alumnus pesantren Lirboyo Kediri itu.

Diantara fenomena yang memprihatinkan bangsa ini juga, orang yang dalam video mengeluarkan kalimat-kalimat kotor, caci maki dan hujatan, tapi hanya karena orang tersebut berpakaian dan mencitrakan diri sebagai ahli agama

“Masyaraktpun memviralkan video semacam itu, padahal sudah semestunya masyarakat cerdas, jika menemukan video semacam itu, delet, hapus, jauh lebih bermanfaat, tutur Gus Nasrul

Publik pun perlu tahu. Jika dulu sebelum era menjamurnya medsos, banyak ‘ustad kota’ rela membayar ratusan juta agar bisa ditayangkan di televisi sebagai juru dakwah, identiknya pasang iklan demi popularitas. Di era menjamurnya medsos, kini mereka pun punya sejumlah tenaga bayaran, sebagai team khusus pencitraan.

“Layaknya seorang artis demi untuk mempromosikan rating bosnya di medsos, sebagai tokoh agama berpengaruh, bahkan latar belakang pendidikan bos nya di kasih embel-embel sebagai alumnus pesantren, meski tidak jelas entah pesantren mana, ada yang embel-embel gelar, atau bahkan membuang gelar sarjana asalnya karena dianggap tidak mendukung karir pencitraannya sebagai pakar agama di ruang publik”, imbuh Gus Nasrul.

Namun, sungguh lucu bangsa ini, orang -orang yang jelas-jelas latar belakang pendidikan dan keilmuannya, seperti KH Habib Lutfi bin Yahya, KH Prof DR Said Aqil Siradj, dan sejenisnya, tetapi justeru di cibir dan di nyinyir.

“Fenomena ini juga termasuk indikasi orang yang sudah terkena faham radikal, mereka nyinyir dan mengutuk orang-orang yang berilmu tinggi dan berpikir secara moderat, dengan tuduhan liberal,” tegas Muballigh NU. (Rais/011)