Politisasi Agama Harus Ditolak

0
2179
NU Kendal
Src: NU Kendal

Kendal nujateng.com Ketua Tanfidziyah Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kendal KH Muhammad Danial Royyan menolak keras politisasi agama yang memperalat agama untuk kepentingan politik. Pesan tersebut disampaikan saat menjadi narasumber pengajian selapanan di Gedung Muslimat NU Kabupaten Kendal, Sabtu (13/4).

“Kita harus menolak politisasi agama. Menurut Imam Al-Ghozali, agama dan kekuasaan atau politik adalah saudara kembar siam. Agama adalah pokok dan negara adalah instrumen atau cabang. Negara tanpa agama akan ambruk,” tegas Danial.

Pengajian mengambil topik dari salah satu bahasan Kitab Haqiqotu Ahlissunah wal jamaah karya Danial Royyan sendiri, yaitu “As-Shilah Baina Ad-Dien Was-Siyàsah warroddu ‘ala at-Tas-yies Ad-Dieni” atau hubungan antara agama dan politik, dan penolakan terhadap politisasi agama.

Lebih lanjut Danial menerangkan dengan perkataan Ibnul Mu’taz:

الدين بالملك يقوى# والملك بالدين يبقى

Agama disertai kekuasaan akan menjadi kuat. Kekuasaan disertai agama akan menjadi lestari. KH Ahmad Shidiq, ahli fiqih atau hukum Islam dan politik pernah mengutip kitab bughyatul mustarsyidien, bahwa negara yang pernah ditempati kaum muslimin pada masa yang lama dapat disebut sebagai “Negara Islam”.

“Dengan demikian meski lambang negara berupa burung garuda (bukan tulisan tiada tuhan selain Allah), dasar negara berupa pancasila, dan kepala negara presiden (bukan khalifah) namun Indonesia dapat disebut sebagai negara Islam”, terangnya.

Dijelaskannya, secara maknawiyah atau substansi negara ini sudah sesuai dengan sistem khilafah secara maknawiyah, yaitu menciptakan keadilan di muka bumi sebagai amanat dari Allah. Jadi tidak harus formalistik seperti yang dikehendaki kelompok pro-khilafah, karena sistem khilafah itu sudah hilang sejak meninggal Imam Ali bin Abi Thalib. Muawiyah bin Abi sufyan pernah mengatakan bahwa era khilafah sudah berakhir pada saat pemerintahan khalifah Ali bin Abi Tholib, dan pemerintahannya setelah era itu tidak disebut dengan khilafah tapi disebut dengan kerajaan karena dipimpin secara turun temurun.

Dalam pengajian yang dihadiri oleh pengurus PCNU, lembaga, badan otonom, dan Majlis Wakil Cabang (MWC) se-Kabupaten Kendal tersebut, Danial juga menyampaikan pandangan Khowarij dimana negara harus berbentuk Islam secara formalistik, hingga lambang negara atau kepala negara harus islami. Namun NU lebih mengedepankan “shilah maknawiyah” atau hubungan secara substansi. Lambang negara berupa garuda, asas berupa Pancasila dan berdasarkan UUD 1945 tidak ada masalah.

Menjawab pertanyaan dari 2 orang yaitu Ali Martin dan M Khoiron terkait isu khilafah, radikalisme, dan komunisme menjelang pilpres, Danial menjawab dengan menceritakan tentang Nabi Musa saat ditanya Allah tentang amalan apakah yang dilakukan olehnya sebagai bentuk cinta kepada Allah.

Dalam kisah itu Nabi Musa menjawab sholat, puasa, zakat, dan sebagainya namun oleh Allah dikatakan bahwa amalan itu untuk kepentingan Musa sendiri nanti saat di alam kubur ataupun akhirat. Lantas Nabi Musa bertanya, amalan apakah yang menjadi bukti cinta kepada Allah. Oleh Allah dijawab ada 2 hal yaitu sesuatu yang mendekatkan kepada Allah dan menjaga persatuan. (Src: NU Kendal/Ed:011)