Ilmu dan Akhlak Bersamayam di Pesantren

0
277
NU Brebes
Src: NU Brebes

Brebes nujateng.com Rujukan ilmu dan akhlak ada di Pondok Pesantren, pimpinan di perguruan tinggi bersifat administratif dan ada batas waktunya, namun kalau kyai dibatasi masa dinasnya, berbeda dengan rektor bisa di makzulkan atau di pecat dari kampusnya. Itulah salah satu perbedaan antara pesantren dengan dunia kampus.

Tausiyah yang disampaikan oleh Rois Syuriah PBNU KH. Masdar Farid Mas’udi, MA saat memberikan tausyiyah Khotmil Alfiyah Ibnu Malik di Ponpes Assalafiyah Luwungragi Kecamatan Bulakamba Kabupaten Brebes. Sabtu (20/04/2019).

Apa yang dimiliki ilmunya kyai akan diajarkan olehnya kepada santrinya, jika gurunya atau kyainya ahli kitab kuning dan ilmu alat, maka nanti akan muncul para alumni yang mahir ilmu nahwu shorof dan ahli bahtsul masail, Itu contoh pesantren zaman dahulu.

Berbeda dengan zaman now pesantren hanya administrasi saja yang diselesaikan dan mendapatkan manajer dari kepala sekolah, biasanya penguasaan pengasuhnya tidak mahir pada kitab kuning, sehingga untuk menutupinya maka dimunculkan manajerial administrasi dengan merekrut para ustad dari luar.

Sehingga ada perubahan yang muncul dan jangan perlu di tangisi, karena memang kehendak zamannya, seperti contoh munculnya pesantren modern. Sehingga ada istilah pesantren salaf dan pesantren modern. Jika pesantren modern kelulusan diikat oleh aturan negara, dan tidak harus fanatik dengan pengasuh ponpes tersebut karena memang dikelola dengan gaya manajerial administratif.

Zaman old bisa kuwalat jika tidak takdzim kepada kyai, karena kyainya yang memberikan ilmu langsung, namun zaman now bisa terjadi santrinya tidak hormat dengan pengasuhnya, karena memang santri dituntut ada aspek sistem administratif. Sehingga yang disegani bukan pengasuhnya tapi karena pernak pernik aturan, sehingga tidak memunculkan wibawa karena kurangnya keteladanan, karena tidak hidup bersama dan tidak mengawasi setiap hari.

Wajar saja murid memandang kepala sekolah seperti tata usaha, namun berbeda dengan santri dengan kyai, karena tahu tindak tanduk dan tingkah laku sehari-hari, maka tawadhu dan wibawa kyai yang kuat benar-benar di laksanakan, karena dalam ta’lim muta’alim ada cara menghormati kepada gurunya, begitupula guru memperlakukan santrinya dengan baik.

Wibawa kyai tidak bergantung kepada SK, berbeda dengan wibawa pejabat maka semakin tinggi jabatan dan eselonnya melalui SK yang ditugaskan. Kyai sampai wafatpun di khaul karena kehormatannya dari langit, beda jauh dengan dosen atau guru di sekolah.

Kharismatik Kyai

Seorang bupati atau gubernur ketika sudah purna pun tidak dihormati oleh warganya, berbeda dengan kharismatik seorang kyai yang mengajarkan ilmunya akan abadi dan mengalir sampai ke generasi yang ada, walaupun sudah wafat kyainya akan dikirimi doa dan di khaul atas wafatnya lewat santri dan alumninya.

Dipesantren masih terjaga yakni jarang santrinya tawuran, berbeda dengan mereka yang dididik diluar pesantren, sering terjadi tawuran antar peserta didik, makanya model kepemimpinan pesantren sangatlah tepat, karena para kyai ini menjaga dan menata akhlak santrinya, bagaimana perilaku budi pekerti dan figur pemimpinanya benar-benar dihormati penuh.

Kyai Masdar berpesan kepada jamaah, jika ingin akhlak generasi yang akan datang baik, maka masukan anak keturunan anda ke lembaga pondok pesantren, carilah ilmu perilaku untuk perubahan akhlak, melalui keteladanan para kyai, gurunya, dan ustadnya, karena bukan hanya pentrasfer ilmu saja tapi transfer akhlak, sehingga jarang sekali keluaran pesantren jadi preman, karena santri akan meneruskan ilmunya para nabi. (Src: NU Brebes/Ed:011)