Kiai dengan Selera Humor Tinggi

0
931

Oleh : Zaim Ahya (Pegiat NU Batang )

Di urut dari sisi kiri, dalam foto ini, Kiai Dimyati Rois Kaliwungu, Kiai Cholil Bisri Rembang dan Kiai Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan Gus Dur. Penulis mengenal nama dan sepak terjang tiga kiai ini kisaran tahun 98-99-an. Waktu itu, tiga kiai termasuk sering dibicarakan oleh santri-santri senior, saat saya di pesantren.

Tiga kiai di atas memiliki kesamaan: selain NU tulen dan aktif di dunia politik, juga memiliki selera humor yang tinggi.

Penulis akan mulai dari Kiai Dimyati Rois. Kiai yang juga petani ini sering kali menyisipkan cerita-cerita lucu di tengah-tengah pengajiannya. Pernah suatu hari Kiai Dimyati mengatakan bahwa dari kecil kita itu sudah diajari bahasa Arab. Beliau mencontohkan niat salat Subuh, namun dikasih embel-embel kata ‘qodho’, menandakan salat Subuh yang dilakukan tidak pada waktunya (kesiangan). Sontak, masyarakat langsung tertawa, apalagi mereka yang punya kebiasaan salat Subuh kesiangan, tersindir secara halus.

Pernah juga Kiai Dimyati menceritakan keluguan seseorang dalam menerjemah, dari bahasa Jawa ke bahasa Arab. Ada seseorang yang mengalihbahasakan tumbuhan yang biasa disebut ‘kacang lanjaran’ dengan ‘ful wa faros’ (‘ful’ itu bermakna ‘kacang’, ‘wa’ itu bermakna ‘dan’ yang bahasa Jawanya ‘lan’, ‘faros’ itu artinya ‘kuda’ yang bahasa Jawanya ‘jaran’).

Ada lagi, saat seseorang mengalihbahasakan kalimat ‘ati-ati mbok tibo’ (dalam bahasa Indonesia bermakna ‘hati-hati, kalau jatuh’), dengan ‘qolbun-qolbun ummu saqoto’ (qolbun bermakna hati, ummu itu bermakna ibu dan saqotobermakna jatuh).

Kiai Dimyati juga kadang menyisipkan cerita-cerita seperti Imam Syafi’i yang tidak puasa di bulan Ramadan, Abu Nawas mau terbang dan lain sebagainya. Dengan gaya beliau yang khas, cerita-cerita itu mengundang tawa namun sarat dengan makna.

Berbeda dengan Kiai Dimyati Rois, yang cerita humornya penulis dengar langsung dan gaya humornya penulis saksikan langsung, karena penulis nyantri di pondok beliau, humor Kiai Cholil Bisri penulis dengar dari cerita santri-santri senior dan dari tulisan-tulisan Kiai Cholil.

Misalnya dalam kitab terjemah ilmu mantiq (logika) bahasa Indonesia, Kiai Cholil Bisri menggunakan contoh perdebatan antarsantri, untuk menjelaskan hujjah safsathoiyyah—salah satu hujjah dalam ilmu mantiq. Hujah ini adalah hujjah yang disusun dari muqoddimah-muqoddimah (premis-premis) yang seolah-olah benar tapi sebenarnya tidak.

Begini kutipan contoh Kiai Cholil itu:

Ketika ayam Umar disembelih tanpa izin. Umar menuntut: “Kholid! Kamu ini bagaimana, ayam saya kok kamu sembelih tanpa seizin saya?”

Kholid menjawab: “Mana bisa, saya kan menyembelih ayamnya Gusti Allah, bukan ayammu. Kamu kan hanya ketitipan saja”

“Oh, begitu” Umar menimpali seraya Umar memukul dagu Kholid berulang-ulang sampai Kholid babak belur.

Kholid pun merintih-rintih, dan berkata: “Bagaimana toh ini, saya kok terus dipukuli?”

Umar menjawab: “Mana bisa, saya kan sekedar menghajar semut yang lancang menginjak-injak dagumu. Kamu ini di tolong kok malah menyalahkan saya”

Saat membaca contoh Kiai Cholil ini, penulis merasa memperoleh pengetahuan sekaligus terhibur. Contoh Kiai Cholil ini juga mengukuhkan informasi dari santri-santri senior yang pernah ngaji langsung ke Kiai Cholil, perihal selera humor beliau yang tinggi.

Kata beberapa santri senior, juga pernah ditulis oleh Usman Arrumi, dulu saat Kiai Cholil ceramah di pondok Kiai Dimyati Kaliwungu, Kiai Cholill “gasaki” Kiai Dimyati. “Kiai kok sandalnya jepit. Kiai  itu seperti aku, sandalnya mahal harganya” kata Kiai Cholil sambil belkelakar. Kemudian juga dibalas Kiai Dimyati.

Sedangkan terkait humornya Gus Dur, walaupun penulis hanya sempat berpapasan dengan Gus Dur yang naik mobil, saat pulang dari menghadiri haul Kiai Amin Soleh Bangsri Jepara dulu, penulis melihat dari beberapa video dan membaca tulisan yang merekam cerita lucu-lucu dari Gus Dur.

Misalnya, cerita Gus Dur di tengah-tengah ceramahnya tentang seorang kiai yang pergi haji. Sesampai di sana, kiai ini jalan-jalan sama pembantunya, dan melihat tulisan “mamnu’u-d-dukhul” di jalan yang artinya di larang masuk. Namun karena kiai ini (hanya) akrab dengan bahasa Arab kitab kuning, ia mengartikan itu sebagai larangan hubungan suami-istri.

“Orang sini keterlaluan, masak begitu kok di jalan” kata Gus Dur menirukan perkataan kiai itu kepada pembantunya.

Cerita-cerita humor Gus Dur lain sangat banyak, seperti ketika Gus Dur cerita shalat tarawehnya NU lama dan NU baru yang membuat Pak Suharto penasaran. Kata Gus Dur, kalau NU lama terawehnya dua puluh tiga rakaat, tapi kalau NU baru ya diskon enam puluh persen, menjadi sebelas rakaat.

Begitulah para kiai kita, sering menyisipkan cerita-cerita humor dalam ngajinya. Apalagi ngaji keliling. Kata Gus Dur, “Modalnya ngaji keliling ya ini, harus cerita yang lucu-lucu. Kalau ndak, orang ya lari. Ndak boleh obrak-obrak (marah-marah).” (Sumber : Alif.id/ Red: R-011)