Fungsi Masjid pada Masa Rasulullah

0
571
Ilustrasi: Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), (Dok. pegipegi.com)

Istilah masjid bukanlah sekadar untuk mendefinisikan suatu bentuk bangunan semata yang digunakan sebagai tempat ibadah. Lebih dari itu, masjid juga berfungsi sebagai fasilitas sosial yang dapat dikembangkan untuk perkembangan umat Islam. Sehingga tidak mengherankan apabila pada waktu didirikannya masjid kali pertama, satu sisi masjid merupakan bangunan tempat berkumpul bagi sebagian besar umat Islam untuk melakukan ibadah sebagai kebutuhan spiritual. Pada sisi yang lain masjid juga sebagai pusat kegiatan sosial kemasyarakatan. Kolaborasi fungsi masjid itu tercermin sejak kemunculan Islam.

Al-Qur’an menjelaskan bahwa masjid Makkah merupakan “rumah suci” Allah yang diperuntukkan bagi kegiatan ritual dan juga merupakan tempat pertemuan bagi orang-orang [lihat, QS. al-Baqarah: 125, al-Maidah: 97]. Bahkan dinyatakan sebagai rumah yang pertama kali dibangun untuk penduduk dan menjadi tempat yang aman [lihat, QS. Ali Imran: 96].

Dalam catatan sejarah, Rasulullah mendirikan masjid pertama sejak kenabiannya, yaitu Masjid Quba’. Dalam buku Ensiklopedi Tematis Dunia, dijelaskan bahwa pada saat Rasulullah Saw hijrah ke Madinah, langkah pertama yang dilakukan adalah membangun masjid kecil yang berlantai tanah dan beratap pelepah kurma. Berawal dari sanalah, menurut Philip K Hitti dalam History of the Arabs, Rasulullah membangun masjid yang besar dan pada akhirnya kota tersebut menjadi seperti benar-benar menjadi Madinah, yang secara arti harfiahnya adalah “tempat peradaban”, atau paling tidak dari tempat inilah lahir benih-benih peradaban baru umat manusia, terlebih umat Islam.

Hal itu tidak jauh berbeda dengan pandangan Sidi Gazalba dalam bukunya Masyarakat Islam Pengantar Sosialogi dan Sosiografi mengambil sebuah kesimpulan bahwa pendirian masjid ini perlu sekali karena menjadi lembaga pembentuk masyarakat. Gazalba menggambarkan bahwa Islam mengandung ibadah dan mu’amalah atau agama dan kebudayaan, kurun Makkah adalah periode penurunan asas agama. Sedangkan kurun Madinah merupakan periode penuruanan asas kebudayaan. Sedangkan masjid didirikan antara kedua kurun itu. Sehingga peristiwa ini merupakan contoh pembinaan yang dilakukan oleh Rasulullah dalam rangka mewujudkan masjid sebagai pusat ritual dan kebudayaan atau peradaban Islam. Tentu tidak mengherankan apabila di masjid inilah, Nabi Muhammad Saw. menyelesaikan segala perkara dan pertikaian. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh John. L. Esposito, dalam buku Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern.

Hal ini juga senada dengan yang dijelaskan oleh Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan Al-Qur’an. Ia menyimpulkan bahwa sebenarnya masjid memiliki peran penting dalam kehidupan sosial. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw. dalam menjalankan risalahnya. Di mana pada masa Rasulullah masjid digunakan untuk: 1) Tempat ibadah (salat dan dzikir), 2) Tempat konsultasi dan komunikasi ( masalah sosial, ekonomi dan budaya), 3) Tempat pendidikan, 4) Tempat santunan sosial, 5) Tempat latihan ketrampilan militer dan persiapan alat-alatnya, 6) Tempat pengobatan para korban perang, 7) Tempat perdamaian dan pengadilan sengketa, 8) Aula dan tempat menerima tamu, 9) Tempat menawan tahanan dan 10) pusat penerangan atau pembelaan agama.

Rasulullah telah menciptakan peran masjid yang tidak hanya untuk keperluan spiritual semata, tetapi mencakup juga fungsi sosial. Ini sama artinya masjid merupakan pusat ibadah dalam pengertian yang luas yang mencakup juga kegiatan mu’amalah. Oleh karena itu agar masjid dapat memerankan fungsinya, maka dalam perencanaan pembangunan dan perencanaan kegiatan hendaknya mengacu pada master plan yang terobsesi terhadap pelaksanaan fungsi masjid secara optimal.

 

Muhamad Zainal Mawahib, adalah santri Pondok Pesantren At-Taharruriyah Semarang.