Daftar Nama Makam Wali, Ulama dan Lelugur di Kabupaten Tegal

0
2919
Makam Al-Habib Muhammad bin Thohir Al-Haddad Tegal. (Dok. Istimewa)

Ziarah kubur sudah menjadi perilaku rutin warga nahdliyin. Mereka terbiasa mengunjungi makam orang tua, kerabat, sahabat, kiai, dan makam para wali di tanah air ini. Ganjaran Allah SWT. bagi para peziarah sudah menanti. Betapa tidak? Mereka biasanya mengisi upacara ziarah dengan membaca ayat-ayat Alquran atau rangkaian zikir tahlil dan shalawat. Mereka menerima pahala yang berlipat, untuk ibadah ziarahnya itu sendiri dan rangkaian bacaan yang mereka lafalkan.

Ziyaratul quburi mustahabbatun ‘alal jumlah littazakkuri wal i‘tibar. Waziyaratu quburis shalihin mustahabbatun liajlit tabarruki ma‘al i‘tibar. Ziarah kubur adalah sunah untuk mengingatkan manusia pada kematian dan membaca pertanda di hadapan mereka. Sedangkan menziarahi kubur orang saleh adalah juga sunah untuk membaca pertanda di hadapan mereka dan mengalap berkah. Begitu kata Imam Ghazali dalam Ihya Ulumid Din.

Dengan otomatis, ziarah termasuk ibadah yang sangat dianjurkan. Banyak manfaat yang mereka terima dari ibadah ziarah. Ini bukan ibadah yang berat dan asing mengingat ziarah sudah mengalami tradisi yang panjang dalam sejarah umat Islam di Indonesia.

Inilah Nama-nama Makam Auliya, Ulama dan Leluhur di Kabupaten Tegal yang perlu diziarahi:

  1. Al-Habib Muhammad bin Thohir Al-Haddad (Kraton, Kota Tegal)
  2. Al Habib Husen bin Muhammad Al-Haddad (Kraton, Kota Tegal)
  3. Al-Habib Abdullah bin Ahmad Al-Kaff (Kraton, Kota Tegal)
  4. Al-Habib Tholib bin Muhsin Al-Atthos (Bumijawa)
  5. Ki Gede Sebayu (Danawarih, Balapulang)
  6. Ki Ageng Anggawana (Kalisoka, Dukuhwaru)
  7. Pangeran Purbaya/Sayyid Abdul Ghofar (Kalisoka, Dukuhwaru)
  8. Mbah Panggung/Sayyid Syarif Abdurrohman (Panggung ,Tegal)
  9. Mbah Semedo/Syekh Abdurohman (Semedo, Kedungbanteng)
  10. Syeh Abdul Fatah/Raden Fatah (Mokaha, Jatinegara)
  11. Syekh Armia bin Kyai Kurdi(Cikura, Bojong)
  12. Sa’id bin Syekh Armia (Giren, Talang)
  13. Sunan Amangkurat I/Raden Mas Sayidin (Pekuncen, Tegalarum)
  14. Mbah Suroponolawen/Sayid Sarif Abdurrohman (Pagiyanten)
  15. Syekh Atas Angin/Syekh Muhammad (Pedagangan, Dukuhwaru)
  16. Ki Pranantaka/Gendowor (Adiwerna)
  17. Isa Mufti, KH. Baidlowi Mufti, Muassis Ponpes Babakan (Makam Komplek Ma’hadutholabah, Babakan)
  18. KH Abdul Jalil (Muasis Ponpes kali kangkung Pangkah)
  19. Mbah Dipoyudo (Mbah Jeneng-Lembasari)
  20. Sayid Abdul Halim ( Pangeran Banathawa/ Mbah Banthiu ) kompleks PP Miftahul Jannah Grobog Kulon Pangkah
  21. Al Habib Muksin bin Ahmad Al-attos jrumat timur cerih.
  22. Ahmad Jrumat-Cerih
  23. Jamil Kranggan cerih.
  24. KH Abdullah Jamil (komplek ponpes hasyim asy’ri karangjati tarub kabupaten tegal)
  25. Muhamad bin Mufti gunung clirit kli Bakung(korban penganiayaan blanda .)
  26. Al Habib Muhdor Cerih jrumat timur.
  27. Mbah Tarhadi Blanten-Cikura,
  28. KH Imron Ahmadi Pesayangan Talang (Mualif Metode Tilaawati)
  29. Akhmad NadhoriPponpes Darul Istiqomah ( Lengkong Bojong )
  30. Kyai Abdul Halim Sumbarang
  31. Mbah Adipati Bojong
  32. Habib Salim bin Muhamad bin Syeh Abu Bakar Sumbarang
  33. Abu Ubaidah Giren Talang
  34. Ki Ageng Suroprono Cikura
  35. Mbah Kendil Wesi Cikura
  36. Kurdi Cikura
  37. Mbah Ky. Tarmiyah/ Ky. Sepi Angin Padasari
  38. Kyai Asmu’i Dukuh Salam slawi
  39. Kyai Imam Dukuh Salam Slawi
  40. Makam KH Toyyib al-Abror bin KH Ihsan bin KH tsabit bin KH Abdulloh bin Kyai Lanang bin Syekh Abdurrahman Semedo makam di kedungkelor Warureja

Imam Turmudzi meriwayatkan satu hadits di mana Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallama bersabda:

قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ القُبُورِ، فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِي زِيَارَةِ قَبْرِ أُمِّهِ، فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الآخِرَةَ

Artinya: “Sungguh dahulu aku melarang kalian untuk berziarah kubur. (Kini) telah diijinkan bagi Muhammad untuk berziarah ke kubur ibunya. Maka berziarah kuburlah kalian, karena sesungguhnya ziarah kubur dapat mengingatkan akan akhirat.”

Dalam riwayat Imam Muslim, Rasul menuturkan:

فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

Artinya: “Maka berziarah kuburlah kalian, karena sesungguhnya ziarah kubur itu dapat mengingatkan pada kematian.”

Dari hadits di atas bisa diambil beberapa pelajaran di antaranya bahwa pada mulanya ziarah kubur dilarang oleh Rasulullah namun dikemudian hari beliau membolehkan untuk melakukannya. Ziarah kubur—menurut hadits di atas—juga bisa menjadikan pelakunya teringat akan kematian dan kehidupan akhirat, bahwa ia pada saatnya kelak akan mati dan mengalami segala yang ada di alam barzakh dan akhirat.

Niat para peziarah adalah kunci utama dalam melakukan ibadah ini. Dalam segala bentuk ibadah, umat Islam selalu menanamkan dalam hati untuk mendekatkan diri dan meningkatkan takwa kepada Allah.

Terlebih lagi, makam para wali dan orang saleh di Indonesia sangat banyak. Ini sangat memungkinkan sekali bagi mereka untuk mengalap berkah. Sementara, keberkahan sendiri bagi kehidupan nahdliyin adalah nilai yang membekali mereka bukan hanya menghadapi tetapi juga mengatasi segala persoalan kehidupan.

Upaya mendekatkan diri kepada Allah, dan kecintaan mereka kepada para wali dan orang saleh, adalah langkah strategis sehingga Allah memberikan kebaikan dunia dan akhirat bagi mereka. (Penulis: Tahmid)