Meneruskan Perjuangan Gus Dur

0
159
sumber gambar : FaktualNews.co

Oleh: Nanang Qosim*

Membicarakan tentang sosok Abdurrahman Wahid atau lebih akrab dikenal Gus Dur tentu sangatlah menarik, mulai membicarakan bernada ilmiah akademis, hingga guyonan di tempat-tempat mana saja disaat orang-orang berkumpul, terutama saat berkumpul di warung kecil−kucingan−bersama teman-teman pencinta Gus Dur (GUSDURian).

Bila membaca berbagai ide, gagasan dan pemikiran Gus Dur hampir semua orang akan memberikan komentar-komentar yang menarik tentang Gus Dur. Setidaknya bagi mereka  akan berusaha menerjemahkan ide, gagasan dan pemikiran Gus Dur, mulai dari masalah sosial, agama, politik, ekonomi dan kebangsaan (demokrasi). Apalagi di dukung Gus Dur mudah dalam berkomunikasi dengan berbagai lapisan masyarakat, baik kelas bawah, mayoritas warga NU, maupun kelas menengah ke atas.

Namun setidaknya pemikiran Gus Dur jangan sekali-kali dilihat dari perspektif satu sisi semata, melainkan perlu dilihat dari perspektif yang lain. Tedi Kholiludin (2013) menerjemahkan ide Gus Dur tidak hanya melalui satu pintu. Bagian paling penting sesungguhnya adalah kedewasaan masing-masing kelompok dalam memaknai artikulasi pemikiran Gus Dur.

Di tambah lagi, dari cara berpikir, bertindak, dan berperilaku, Gus Dur sebenarnya telah memberi banyak teladan kepada kita. Dia menjaga kebhinnekaan, melindungi kelompok minoritas, menebar Islam sebagai agama yang ramah, kesetiaan terhadap negara itu mungkin itu di antara sedikit prinsip fundamental yang ditanamkan oleh Gus Dur.

Bagi Salahuddin Wahid atau lebih akrab dikenal Gus Sholah, Gus Dur ibarat buku yang dapat dibaca semua orang. Ia dapat dibaca oleh siapa pun, kapan saja, dan dari sudut pandang apa pun, dan tidaklah mengherankan bila banyak orang, dari berbagai elemen, lintas agama, etnis, hingga golongan mengekspresikan kecintaan itu kepadanya.

Demikian juga, menurut Mohamad Sobary, Gus Dur seorang yang banyak menanam budi, yang diibaratkan bunga mawar, yang oleh penyair Irak, Ahmad al-Safi al-Najafi, disebut ratu segala bunga. Labaki, penyair Lebanon, menganggap mawar sebagai bunga abadi karena bila mawar mati, hanya warna, cahaya, dan keindahannya yang lenyap, sedang wanginya tetap.

Sikap dan tindakan-tindakan Gus Dur sebagian bisa dipahami dan sebagian tidak, membuat kita teringat pada ketegorisasi yang dibuat oleh ulama klasik mengenai ayat-ayat Qur’an. Di dalam ilmu-ilmu mengenai Qur’an, yang dikenal perbedaan antara ayat-ayat “muhkamat” dan “mutasyabihat”. Muhkamat, artinya ayat yang pengertiannya tidak menggandung suatu ambiuguitas karena telah jelas, sedang mustasyabihat,  artinya ayat yang pengertiannya ekuivok, penuh dengan ambiguitas. Dan itu semua telah dimiliki oleh diri Gus Dur.

Dalam diri Gus Dur, ada tindakan-tindakan yang logis dan koheren, mudah dipahami tanpa melakukan penafsiran. Begitu pun sebaliknya, ada hal-hal yang terasa “gelap” untuk melihat tindakan-tindakan Gus Dur, jika menafsirkan tindakan Gus Dur perlu ketajaman berpikir dan menganalisa tidak hanya dalam sudut ilmiah saja, melainkan melihatnya perlu dari sudut spiritual juga. Maka penulis sepakat apa yang pernah ditulis oleh Munawir Azis yang berjudul Gus Dur; Teks Yang Tak Pernah Selesai Dibaca, bahwa membedah pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berarti menelusuri narasi panjang nan padat, berupa konsentrat yang memang diciptakan agar secara praktis dapat diuraikan dan diolah sepanjang zaman, hingga sepertinya, Gus Dur adalah teks panjang yang tak pernah selesai. Atau bagi saya, Gus Dur adalah teks yang terus mendekonstruksi pembacanya sendiri dan sangat renyah untuk terus kita ikuti pemikirannya.

Gus Dur; Pahlawan dalam Hati

Gus Dur adalah seorang intelektual sejati yang luar biasa. Gus Dur memerankan diri sebagai produsen gagasan. Berbagai kelebihan dari Gus Dur akan lebih jelas, manakala melihat kemampuannya di dalam membangun kepemimpinan di dalam NU. Gus Dur yang kita kenal pun melalang buana pernah memimpin organisasi, organisasi non-NU, baik di level nasional maupun internasional.

Dalam segi kepesantrenan, Gus Dur tak cukup dianggap sebagai santri biasa, tetapi Gus Dur patut dianggap sebagai santri luar biasa yang mempunyai “wibawa kultural” dan keagamaan yang mempunyai standar khusus. Gus Dur juga tak sebatas kyai yang biasa, tetapi kyai yang luar biasa. Menyetir pendapatnya KH. Cholil Bisri, Gus Dur merupakan kyai seutuhnya. Kyai yang dapat menangkal stres dan kyai yang selalu mempertahankan kewibawaan, memperkuat rasa percaya diri yang selalu menumbuhkan perasaan lebih padapada orang lain. Tetapi tidak lantas meremehkan sesama.

Dalam segi kepemimpinan mengurus negara, Gus Dur juga tak cukup dianggap sebagai presiden yang biasa, tetapi Gus Dur adalah presiden yang luar biasa, sebagaimana menurut Franz Magnis Suseno SJ, Gus Dur adalah seorang presiden yang nasionalis sejati. Hatinya merah putih. Dalam segala manuvernya, Gus Dur tak pernah melihat kepentingan nasional yang lebih besar dan lebih luas. Melainkan Gus Dur menjadi presiden ingin menjadikan bangsa ini maju, menjadi bangsa besar, bukan dalam arti chauvinistic, melainkan dalam arti yang sebenarnya; Sebagai bangsa yang bebas, sejahtera, bersatu, penuh kemanusiaan, cerdas, adil.

Gus Dur dikenal sebagai seorang yang “suci”. Karena itu, wajar bila setelah meninggalnya Gus Dur pada 30 Desember 2009, persepsi masyarakat Indonesia, Gus Dur itu sebagai lanjutan Wali Songo. Gus Dur mendapat gelar wali ke-sepuluh dengan asumsi atas pembuktian berbagai kemunculan hal-hal diluar rasionalisasi manusia, baik sebelum meninggal, maupun sesudah meninggal dunia. Banyak kehebatan yang di tunjukkan Tuhan terhadap diri Gus Dur kepada khalayak.

Terus terang, secara pribadi, Gus Dur mempunyai kharisma tersendiri, bukan semata-mata karena Gus Dur cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama’ (NU) KH. Hasyim Asy’ari. Lebih dari itu, dia disebut-sebut seorang “in his found right” yang mempunyai kualitas tertentu di dalam membuka cakrawala keilmuan dalam segala bidang, baik masalah sosial, agama politik, sampai pada masalah perekonomian dan kebangsaan (demokrasi).

Gus Dur, sejatinya selalu menjadi pahlawan dalam hati, siapapun akan mengaguminya karena Gus Dur selalu heroik dalam berpikir, meski tetap bersikap moderat. Gus Dur juga selalu bertindak pahlawan karena konsistensi dan perjuangannya pada topik keagamaan, kemanusiaan, pluralitas, dan demokrasi. Perjuangan Gus Dur menciptakan kehidupan bangsa yang lebih baik menjadikannya sebagai tokoh yang berpengaruh dalam sejarah kontemporer Indonesia. pengaruhnya jauh lebih luas dan besar ketimbang kekuasaan.

Meneruskan Perjuangan

Dengan melihat catatan kilas jejak rekam Gus Dur saat masih hidup. Para pencinta Gus Dur (GUSDURian) janganlah berhenti meneruskan perjuangan Gus Dur. Perlu kiranya ada gerakan-gerakan yang masih memperjuangkan nasib-nasib kelompok minoritas, agar terhindar dari upaya diskriminasi oleh kelompok yang berlebel mayoritas.

Apalagi saat ini, di tengah masalah kebangsaan di Indonesia yang masih menghadapi tantangan yang berat, perlu kiranya kita merevitalisasi pemikiran Gus Dur untuk bangsa ini. Memahami akar pemikiran Gus Dur adalah bentuk antisipasi bersama untuk menyelamatkan Pancasila.

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa Gus Dur mengedepankan kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keterbukaan. Prinsip yang dikedepankan Gus Dur pada prinsipnya bersumber dari pemikirannya yang universal dan toleran, mengedepankan perdamaian, penghormatan pada manusia.

Kita doakan juga, semoga Gus Dur yang sudah berbeda dengan alam kita saat ini, diberikan kenikmatan yang tak terhingga oleh Tuhan Yang Maha Esa, karena perjuangan Gus Dur sangat luar biasa untuk negeri ini, terutama perjuangan atas pembelaan Gus Dur terhadap kelompok minoritas. (Red: Rais-011)

 

Nanang Qosim, Pengurus Lajnah Ta’lif wa Nasyr (LTN) NU Kota Semarang, Aktivis GUSDURian