Lapangkan Dada Melalui Husnudzon kepada Allah

0
204
Ilustrasi (Dok. Istimewa)

Oleh: M. Ali Masruri

جاء في الحديث القدسي ان الله تعالى يقول, “يا ابن آدم انك مادعوتني ورجوتني غفرت لك على ماكان منك ولاابالي, ياابن آدم لوبلغت ذنوبك عنان السماء ثم استغفرتني غفرت لك, ياابن آدم لو اتيتني بقراب الأرض خطايا ثم لقيتني لاتشرك بي شيئا لأتيتك بقرابها مغفرة. (رواه الترمذي)

Hadis kudsi ini dikutip oleh Sayyid Muhammad Al-Maliki dalam kitabnya Syaraf Al-Ummat Muhammadiyyah. Kurang lebih terjemahan bebasnya sebagai berikut:

Telah datang hadis kudsi sesungguhnya Allah swt berfirman: “Wahai keturunan Adam, sungguh pada saat kamu memanggilku seraya berharap kepadaku, maka aku ampuni dosa-dosa yang ada padamu, dan aku tidak memperdulikan hal itu (dosa). Wahai keturunan Adam, andai dosa-dosamu mencapai jumlah awan di langit kemudia kau meminta ampun kepadaku, akan aku ampuni. Wahai manusia jika kau datang kepadaku dengan kesalahan sebesar sarung bumi (maksudnya hal yang lebih besar dari bumi), maka aku akan datang kepadamu dengan ampunan seluas sarung bumi pula”.

Hadis ini diletakan oleh Sayyid Muhammad pada bab “fadhilah husnudzon dan raja’ kepada Allah”. Lihat kalimat ولاابالي (aku tidak memperdulikan) pada hadis tersebut, Allah telah menghabiskan kesungguhannya atas rahmat-Nya yang lebih besar dibandingkan semua kesalahan kita.

Allah swt menggantungkan af’al-Nya pada prasangka hambanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم, قال الله جلّ وعلا أنا عند ظنّ عبدي بي ان ظنّ خيرا فله, وان ظنّ شرّا فله. (رواه احمد وابن حبان في صحيحه والبيهقي)

Makna Firman Allah swt lewat sabda Nabi Muhammad saw tersebut adalah “Aku (Allah) akan mewujudkan untuk hambaku apa-apa yang ia prasangkakan kepadaku, seperti dikabulkan harapanya, diampuni kesalahannya, dan dituruti permintaannya”.

Ketika kita mulai putus asa dengan problematika persoalan, hambatan dalam kehidupan, maka ingatlah bahwa kenyataan masa depan tergantung pada prasangka kita kepada Allah swt. Sayyid Muhammad berkata “telah maklum diketahui bahwa seorang hamba tidak akan mencapai keberhasilan sesuai yang ia harapkan, kecuali husnudzonnya kepada Allah sudah sempurna”.

Jangan pernah menganggap teori Nabi saw ini sebagai sesuatu yang tidak rasional. Sebab, apa hubungannya sebuah keberhasilan dengan prasangka, yang pentingkan kinerjanya? Seorang maestro motivator muslim dunia, Ibrahim Elfiky menjelaskan dalam bukunya “Terapi Berpikir Positif” bahwasanya: akal seseorang bekerja sesuai arahan. Pikiran apapun yang sedang dipikirkan seseorang akan diterima oleh akal dan ia bekerja kearah pikiran itu. Ia akan mencari ke ruang memori setiap file-data yang dapat membantu dan mendukung kita ke arah itu dan membuat kita berhasil mewujudkanya, baik positif atau negatif.

Kemudian Ibrahim memberikan sebuah bukti hikayat. Konon, pada Perang Dunia II, Hitler hendak menghukum tiga prajurit karena tidak melaksanakan perintahnya, untuk itu Hitler para ahli agar memberi mereka hukuman psikis yang tidak terlupakan. Setiap orang dikurung di kamar yang sempit. Tidak jauh dari tempat itu air dibiarkan menetes dan menimbulkan suara gemericik. Setiap orang itu diberi tahu bahwa di dalam ruangan mereka menghirup gas beracun.

Mereka juga diberi tahu bahwa kesempatan hidup mereka tidak lebih dari enam jam. Selanjutnya pintu ruangan ditutup. Tiga jam kemudian, ketiga pintu dibuka, sungguh  mengejutkan: dua dari tiga prajurit itu benar-benar tewas, satu lagi sangat kritis berjuang melawan kematian.

Para peneliti menyebutkan bahwa ketika menerima informasi, ketiga prajurit itu benar-benar meyakini sedang menghirup gas beracun. Semua prajurit berkonsentrasi pada informasi itu. Maka, otak pun mengirim data-data yang berhubungan dengan informasi tersebut ketubuh mereka. Akibatnya, degup jantung semakin kencang, saluran nafas semakin sesak, tekanan darah naik, dan keringat dingin membasahi kening.

Tidak lama kemudian, tubuh mereka terguncang karena sesuatu yang terus dipikirkan, yaitu kematian. Pikiran itu dikirim keseluruh tubuh hingga menimbulkan kekejangan, baik pada organ dalam atau bagian luar. Ketika informasi itu dikirim balik ke otak, pikiran semakin menguat. Begitulah seterusnya hingga prajurit itu meregang nyawa.

Betapa prasangka yang lahir dari pikiran kita memiliki dampak yang signifikan terhadap kehidupan kita. Berprasangka baik adalah ucapan yang ringan di mulut namun berat untuk dilaksanakan. Sebagai manusia kita memiliki nafsu yang terus mengarahkan kepada hal negatif termasuk prasangka, “inna an-nafsa la ammaratun bi al-su’”. Kenyataan tersebut dibuktikan oleh Fakultas Kedokteran di San Francisco yang melakukan penelitian Pada tahun 1986 menyebutkan, bahwa lebih dari 80% pikiran manusia bersifat negatif.

Oleh karena itu, pantaslah jika selama ini apa yang kita harapkan sering tidak mencapai hasil. Kita lebih suka pesimis dari pada optimis. Kita lebih sering membayangkan Allah sebagai dzat yang kaku dan mudah marah, sehingga kita pun menjadi lebih suka marah dari pada ramah.

Ada hadis Nabi yang melukiskan betapa Allah swt maha lembut dan penuh kasih sayang pada hambanya yang optimis (positive tingking).

ودخل النبي صلى الله عليه وسلم على شاب وهو في الموت فقال: كيف تجدك؟ قال أرجو الله وإني اخاف ذنوبي. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لايجتمعان في قلب عبد في مثل هذا الموطن الا اعطاه ما يرجو وامّنه مما يخاف. (رواه الترمذي وابن ماجه وابن ابي الدنيا)

“Nabi menjeguk seorang pemuda yang sedang sakaratul maut, lalu beliau bertanya: bagaimana keadaanmu? Pemuda itu menjawab, ‘aku berharap rahmat Allah dan takut atas dosa-dosaku.’ Kemudian Nabi bersabda: tidak tersirat dalam hati seorang hamba seperti pemuda di tempat ini, kecuali Allah akan memberi apa yang ia harapkan dan mengamankannya dari apa yang ia takutkan”.

Subhanallah betapa kita memiliki Tuhan yang penuh kasih sayang dan maha pengampun. Lalu, apa dasar kita untuk khawatir dan pesimis dalam menjalani kehidupan di dunia?. Kesalahan, kekeliruan atau hal negatif lain yang kita pernah lakukan dapat dengan mudah diampuni oleh Allah swt. Apa yang kita cita-citakan selama kita gantungkan kepada Allah dengan segenap optimisme bahwa Allah lah yang akan meluluskannya, maka Allah akan meluluskannya. Hal itu adalah sifat Allah swt.

 

M. Ali MasruriAlumni Pondok Pesantren Apik Kaliwungu Kendal