Gus Boby Ingatkan Pentingnya Sanad Keilmuan dalam Belajar Agama

0
150
Mahbub Zaki, Wasekjen PB Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW). (Dok. Istimewa)

Kendal, nujateng.com- Seruan kembali kepada al-Qur’an dan Hadits tanpa diikuti pemahaman yang memadai bisa berakibat pada pemahaman yang blunder. Ibaratnya seperti listri rumah yang disambungkan langsung ke saluran bertegangan tinggi, seseorang yang belajar agama tanpa perantara guru, bisa konslet.

Hal ini yang disampaikan oleh Mahbub Zaki, Wasekjen PB Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW). Menurut Gus Boby, sapaan akrabnya, mempelajari agama seseorang memerlukan perantara guru. Lebih tegas lagi, guru itu haruslah memiliki pemahaman yang mumpuni dan silsilah keilmuan yang jelas rujukannya.

“Diriwayatkan dalam hadist bahwa sanad itu sebagian dari agama. Maka, tanpa wasilah, tanpa perantara guru yang sanadnya jelas, belajar langsung dari Al Qur’an dan Hadist itu seperti listrik di rumah kita yang disambungkan langsung ke Sutet. Listrik konslet dan rumah kita bisa terbakar,” kata Gus Boby ketika memberikan sambutan dalam Haflah Khotmil Qur’an dan Wisuda Santri Tahfidz angkatan ke-6 Ponpes Tahfidzul Qur’an Al Istiqomah Desa Penaruban, Weleri, Kendal.

Menurut mantan ketua Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Tengah ini, sanad dalam belajar agama itu penting. Tanpa silsilah dan rujukan keilmuan yang jelas, siapapun bisa mengajarkan sesuka hati. Banyak orang merasa sudah cukup ilmu agamanya hanya bermodal belajar dari internet.

“Kalau dulu orang belajar agama dari kiai, dibela-bela mondok selama bertahun-tahun di pondok pesantren, sekarang orang belajar dari internet. Sementara di internet siapapun bisa omong. Tak perlu repot-repot mondok, bikin video ceramah agama, dijulukilah ustad. Ustad Youtube dan Santri Mbah Google lagi jadi fenomena baru. Islam di sosial media isinya marah-marah dan menerbar permusuhan,” terang pria yang juga jadi wakil sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PW NU) Jawa Tengah.

Para wali murid santri, lanjut Gus Boby, tidak perlu khawatir mendidik anaknya di pondok pesantren NU yang jelas-jelas berhaluan ahlussunah wal jamaah.

“Tadi sama-sama kita dengar, para santri memimpin menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Syubbanul Wathon. Jadi bapak-ibu tidak perlu khawatir, di sini santri dididik untuk mencintai  tanah airnya. Santri tenanan tidak akan jadi teroris,” terangnya.

Belajar di pondok pesantren, jelasnya, para santri tidak hanya diajari cara membaca kitab tapi juga diajari cara berperilaku. Pengasuh ponpes setiap habis sholat akan mendoakan para guru-guru dan juga para santrinya.

“Di Ponpes para santri tidak hanya ditadris, tapi juga mendapatkan tarbiyah. Insya Allah setiap bakda sholat, para santri akan didoakan. Ketika para santri tertidur, pengasuh pondok akan menyambangi para santrinya, membenarkan letak tidurnya yang mungkin kurang pas. Ini yang tidak didapatkan di sekolah-sekolah umum,” pungkasnya. (Sulhanudin/Wahib)