Weh-Wehan; Potret Religius Humanis Warga Kaliwungu

0
508
Sumpel makanan khas Kaliwungu, terbuat dari beras yang terbungkus oleh daun bambu dengan lauk sambal kelapa (Dok. nujateng.com)

Lain ladang, lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya, itulah refleksi peribahasa yang menggambarkan keanekaragaman budaya nusantara. Sehingga wajar bila Indonesia  berjuluk jamrut katulistiwa yang terbentang dari Papua hingga Aceh Nangro Darussalam.

Keanekaragaman Indonesia sering  menyuguhkan panorama keindahan dengan nilai  adi luhung,  baik itu berupa bahasa, rumah adat, tarian atau tradisi budaya. Dari sekian   ragam nusantara yang akhir – akhir ini menyita perhatian adalah makanan tradisional atau makanan khas daerah setempat.  Bila di Semarang ada  lumpia dan bandeng presto,  di Kudus ada jenang dan soto kudus, di Pati ada nasi gandul dan terasi di Kaliwungu – Kendal ada sumpil dan momoh.

Memang,  sumpil tidak sepopuler jenang kud us atau bandeng presto Semarang. Namun demikian,  sumpil bukanlah  makanan  murahan  melainkan makanan daerah yang sarat dengan pesan pesan moral yang mendalam.  Lalu ada apa dengan sumpil? Sumpil merupakan makanan  tradisional khas Kaliwungu  berbahan dasar   beras yang dibungkus  daun bambu. Sumpil berbentuk segitiga sama kaki dengan lauk sambal kelapa

Sumpil dijadikan  ikon masyarakat Kaliwungu  karena menggambarkan  religius humanis masyarakat setempat. Disamping itu, sumpil dibuat untuk meramaikan tradisi tahunan yang jatuh pada bulan Maulud dalam kalender Hijriah yakni Ketuwinan.

Tradisi Ketuwen pada dasarnya manifestasi rasa syakur masyarakat Kaliwungu kepada Allah SWT atas kelahiran Sang Nabi Akhiriizaman Nabi Muhammad SAW yakni tanggal 12 Maulud / Robi’ul Awal. Ketuwen atau sering disebut bodho ketuwen oleh orang Kaliwungu dijadikan lebaran ketiga setelah idul Fitri, dan Idul Adha. Sehingga pada moment itu, warga Kaliwungu yang bermukim di tempat lain, menyempatkan diri  untuk pulang sejenak guna turut serta  merayakan peringatan kelahiran nabi Muhammad SAW.

Selain sumpil, makanan lain yang masih tradisional dan banyak dirindukan masyarakat Kaliwungu jaman now  adalah  growol kolak, oyog-oyog, dan kupat jembut. Makanan tersebut terbilang original karena masih berbahan dasar dari makanan sehari – hari, seperti ketela, atau beras.

Nuansa Ketuwinan  menjadi lebih semarak, karena sebagian  masyarakat Kaliwungu  membuat teng-tengan (baca: lampion )  yang diletakkan di depan rumah masing-masing.  Berbagai kreasi   teng- tengan pun dimunculkan entah untuk dipasang sendiri atau karena ada pesanan, seperti teng – tengan kodok-kodokan, bintang, kapal-kapalan, pesawat-pesawatan  dan lain sebagainya.

Ketuwen Jaman Now

Ambillah sesuatu yang baik, dan peliharah yang masih baik merupakan nasihat  bijak tersebut layak dijadikan dasar  dalam rangka menjaga tradisi sudah mapan di masyarakat. Salah satunya adalah ketuwinan. Ketuwinan merupakan tradisi lokal yang sudah mengakar di Kaliwungu – Kendal. Tradisi tersebut  terus dipertahankan karana memiliki nilai-nilai  pendidikan karakter atau nasihat kepada generasi berikutnya.  Bahkan sebagaian dari warga   pendatang di Kaliwungu  juga turut serta meramaikan tradisi tersebut, mereka tradisi ketuwin memiliki relevansi dengan  misi dan visi Nabi Muhammad SAW diutus di muka bumi ini.

Sumpel yang merupakan ikon ketuwinan pada khakekatnya adalah penggambaran hubungaan antara manusia dengan tuhannya (hablu min Allah)  antara manusia dengan manusia (hahblu minan nas) ini tergambar tatkala sumpil diposisikan berdiri yakni satu sudut di atas, dan dua sudut kanan kiri di bawah atau 212. Refleksi satu sudut ke atas merupakan pernyataan sikap ketuhanan (tauhid), sedangkan  sudut dua kanan kiri merupakan refleksi hubungan sosial antarsesama. Sehingga dari sumpil tersebut tersimpan nasihat jika dirimu akan selamat bangunlah hubungan yang harmonis dengan yang maha kuasa juga dengan sesama mahluk-Nya.

Perwujudan hubungan dengan Allah adalah adanya perasaan syukur yang tidak terbatas oleh waktu dan tempat. Sedang perwujudan antarsesama yang harmonis adalah budaya saling mendoakan atau saling menungunjungi tanpa melihat baju, bendera atau status sosial dalam masyarakat.

Secara implisit ketuwen dan weh-wehan satu rangkaian makna. Ketuwen berasal dari kosa kata  jawa yakni  nuweni yang berarti mencari seseorang. Sehingga ketuwen diartikan menemui sesorang / mengunjungi (silaturrahim). Nuweni menjadi lega apabila orang yang dicarinya berada di rumah atau bisa bertemu. Agar suasana bertemu dihiasi rasa kekeluargaan  dibawalah jajan, meskipun hanya makanan kecil. Lalu ketika sang tamu pulang tuan rumah juga memberi jajan sebagai balasan atas kunjungannya. Sehingga terjadilah proses weh- wehan.

Weh-wehan  berasal dari akar kata aweh dalam bahasa Jawa yang bermakna memberi. Weh-wehan merupakan proses morfologis reduplikatif  dari kata aweh yang bermakna saling / berbalasan. Sehingga weh-wehan bermakna saling memberi/bertukar jajan. Weh – wehan di jaman now tidak lagi terpancang pada sumpil atau makanan tradisional lainnya. Semua sudah bervariasi, bahkan cendrung berkompetisi. Ada yang es krim, mie instan, atau makanan siap saji lainnya. Sehingga makanan dianggap oleh anak – anak yang paling enak maka akan menjadi target pertama untuk weh- wehan.

Menurut tokoh masyarakat Kaliwungu yang juga seorang ulama kharismatik yakni KH. Muhibudin Al Khafidz,  bahwa weh-wehan itu tidak sekedar tukar menukar jajan, tetapi cara untuk merekatkan tali persaudaraan antarwarga, sekaligus sebagai upaya untuk membudayakan sodaqohan di kalangan anak-anak.

Nilai-nilai edukasi yang dapat dipetik dari weh – wehan bagi generasi sekarang, yakni  pertama, konsep rohmatal lilalamin. Pesan moral ini selaras dengan ayat  Quran wama  arsalna illa rohmatal lil alamin yang artinya “dan aku ( Muhammad ) diutus untuk keberkahan seluruh alam”. Jadi siapapun orangnya, apapun latar belakangnya,  mereka punya kesempatan sama untuk mengikuti kegiatan weh-wehan.  Kedua, tepo sliro (saling menghormati). Pada bagian ini, merupakan  foundamen dasar untuk membangun  ukhuwah insaniah, ukhuwah wathoniah, atau ukhuwah islamiyah di lingkup kampung atau desa. Anak – anak hendaklah dididik untuk tidak pilih memilih jajan atau pilih memilih orang akan dikunjungi. Semua harus didatangi di kampung tersebut.  Jauhkan perasaan sifat like and dislike pada diri anak karena perasaan itu bisa memunculkan benih – benih permusuhan.

Ketiga, sodaqohan. Bersedekah harus menjadi budaya  dalam hidup ini. Jangan bahil atau kikir terhadap tetangga kanan kiri. Sebab tetanggalah menjadi orang pertama yang akan menolong kita tatkala di musibah datang. Keempat,  ta’arufan yang artinya saling kenal. Jangan sampai ketika bermasyarakat tidak saling mengenali tetangga kanan kiri. Apalagi sampai acuh terhadap nasib sesama. Ingat tak kenal maka tak diundang.

Lalu mengapa tradisi orang Kaliwungu memasang teng – tengan di depan rumah ? Apa maksudnya? Teng – tengan adalah  penerang dalam kegelapan. Diutusnya nabi Muhammad di muka bumi  ini  sebagai penunjuk jalan  bagi umatnya. Jangan sampai umat Nabi Muhammad yang pendek umur ini  tersesat dalam beraqidah. Mereka harus bisa mewarnai hidupnya  dengan beribadah secara istoqomah kepada Yang Maha Kuasa, sehingga semua amalannya merupakan bagian dari prilaku dzikir.

 

 

Penulis:

Lek Basyid Tralala

Pengurus Harian MWC NU Kaliwung Selatan, Kendal.