Pesan Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah kepada Pengurus Lembaga Baru

0
443

Semarang, nujateng.com- Pada Pelantikan Pengurus Lembaga, Senin (12/11) lusa, Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH. Ubaidulloh Shodaqoh berpesan kepada seluruh pengurus lembaga untuk saling bersinergi antar lembaga satu dengan lembaga yang lain.

Kiai Ubaed, demikian ia biasa dipanggil, mencontoh untuk menanggulangi paham-paham yang tidak sesuai dengan ahlussunnah wal jamaah, kita tidak cukup hanya dengan ngaji dan ceramah. Namun semua lembaga harus saling bersinergi dan saling melengkapi.

“Inilah jawaban yang paling lengkap dan paling ampuh ketika ditanya bagaimana menanggulangi paham-paham yang bertentangan dengan ahlussunnah wal jamaah,” kata Kiai Ubaed.

Pengasuh Pondok Pesantren al-Itqon Semarang ini mengingatkan kepada para pengurus bahwa tugas Nahdlatul Ulama (NU) ke depan semakin berat, selain tantangan yang semakin beranekaragam, kita masih dituntut untuk berpegang pada prinsip-prinsip yang telah digariskan oleh para pendahulu NU dalam menjalankan NU sebagai jamiyyah atau organisasi.

Lebih-lebih, lanjut Kiai Ubed, untuk merealisasikan semangat kita untuk meneguhkan kemandirian NU Jawa Tengah dalam menyongsong se-abad NU.

“Maka dari itu kita harus pandai-pandai menerjemahkan apa yang telah dipesankan oleh para NU zaman dahulu, sehingga sesuai dengan zaman sekarang,” pesan Kiai Ubaed kepada 18 pengurus lembaga PWNU Jawa Tengah.

Disiplin dan Tertib Aturan

Dalam upaya merealisasikan harapan tersebut, Kiai Ubed mengajak semua pengurus lembaga untuk komitmen dalam 2 (dua) hal.

“Pertama, muwaffaqatul auqat, kita harus betul-betul disimplin, pengurus PWNU mencoba untuk mendisiplinkan diri sebagai tolak ukur mulai dari sesuatu yang tampak, bagaimana kita mulai rapat dan bagaimana kita mulai musyawarah dengan tepat waktu, sehingga waktu tidak sia-sia dan terulur-ulur” tuturnya.

Kedua muwaffaqatul muqarrarat, kita harus berpegang pada kesepakatan-kesepakatan yang telah kita buat bersama dan apa yang telah ditentukan oleh PBNU. Kesepakatan ini bisa berupa hasil muktamar, musyawarah nasional (munas), konferensi, maupaun musyawarah wilayah.

“Kita harus merujuk itu semua, sebagai jamiyyah kita harus tertib, sebagaimana mazhab yang kita anut, yaitu Mazhab Syafi’i yang mana banyak sekali ajaran-ajaran tentang ketertiban di dalam ubudiyah dan muamalah. Begitu juga kita dalam ber-jamiyyah, kita juga harus bisa tertib”, jelasnya

Lebih jauh lagi, Kiai Ubaed juga mengajak para pengurus untuk selalu melakukan perbaikan-perbaikan. Selain juga, berani untuk mengkritik diri sendiri tentang kelemahan yang terdahulu dan memperbaiki untuk masa yang sekarang dan ke depan.

“Kalau perlu, kita mengadakan rapat evaluasi dalam rentang waktu 1 semester atau 2 semester, untuk mengetahui kelemahan-kelemahan apa yang kita miliki sekarang ini agar segera kita selesaikan”, harapan Kiai Ubed di hadapan sekitar 400 pengurus lembaga.

Selain itu, Kiai Ubed juga mohon kepada seluruh pengurus lembaga untuk saling berkoordinasi, baik koordinasi intern lembaga maupun koordinasi antar lembaga. Misal sudah ada lembaga yang sudah solid dan kompak, namun koordinasi dengan lembaga lain berjalan dengan baik, maka ini tidak bisa disebut ta’awun, kerjasama yang antar lembaga di lingkungan PWNU Jawa Tengah.

“Kami tidak menginginkan ada lembaga di PWNU ini yang aktif, namun ada yang kurang aktif atau tidak aktif, maka semuanya harus disinergikan dan harus dikoordinasikan, supaya semua lembaga bisa aktif semua”, jelasnya.

Kiai Ubed mengajak para pengurus lembaga untuk bersama-sama mencari berkah di NU dengan melaksanakan program-program yang telah ditentukan oleh pengurus NU.

“Di Jamiyyah Nahdlatul ulama, bukan kita menyumbangkan tenaga kita, bukan kita membantu Jamiyyah Nahdlaul Ulama, namun kitalah yang butuh pada Jamiyyah Nahdlatul Ulama untuk mencari berkah di Jamiyyah Nahdltul Ulama yang dipimpin oleh para ulama Ahlussunnah wal Jamaah,” pungkasnya. (Wahib)