Bendung Hoax, Ansor Harus Tingkatkan Pengetahuan dan Rawat Tradisi

0
815

Kendal, nujateng.com – Gerakan Pemuda Ansor diharapkan menjadi banteng pertahanan dalam membendung gempuran informasi hoax yang kian mengancam keutuhan bangsa. Untuk memainkan peran ini, organisasi kepemudaan NU itu perlu membekali dirinya sesuai tantangan zaman yang dihadapi.

Demikian bahasan yang mengemuka dalam sarasehan kebangsaan dengan tema “Afirmasi Gerakan Kepemudaan: Peran Ansor dalam Mewujudkan Masyarakat yang Ramah dan Toleran” yang digelar PAC GP Ansor Kecamatan Weleri, Minggu (9/9).

Antropolog Universitas Negeri Semarang, Yasir Alimi mengatakan masyarakat sekarang berada di era post-thruth. Dimana kebenaran bukanlah yang utama. Hal ini ditandai dengan hadirnya media online sebagai pengendali informasi. Sementara itu, lanjutnya, sifat media online yang egaliter membuka peluang informasi hoax beredar bebas dan massif.

“Hari ini kita disuguhi informasi ulama NU yang disebutkan sangat liberal. Dan khilafah sebagai sistem pemerintahan yang tepat bukan Pancasila. Informasi ini terus di share dan menjadi ujaran kebencian. Lama-lama kita akan mempercayainya dan menganggapnya sebagai kebenaran,” terangnya.

Menurut Yasir, bahaya informasi hoax sangat serius. Mantan pengurus NU Cabang Australia ini menyebut Syiria dan Libia hancur akibat informasi hoax yang memicu perang saudara di dua negara Islam itu.

“Kita patut bersyukur, di Indonesia ada ormas NU yang mencintai negaranya. Ada pemuda yang menjaga kehormatan para ulama dan kiai. Yang membuat Ansor dan Banser ini hebat karena mereka sami’na wa atho’na. Inilah pembuka dari segalanya,” tegas Yasir.

Pembicara lainnya, Mahbub Zaky, mengatakan, untuk menjawab tantangan masa depan Ansor perlu meningkatkan pengetahuan dan kemampuan sesuai tuntutan zaman yang terus berkembang.

Menurutnya, segala sesuatu menjadi tepat jika disampaikan oleh orang yang tepat dan disampaikan dalam waktu dan situasi yang tepat pula. Karena itu, Ansor harus bisa menempatkan dirinya secara proporsional.

Sekjen Majelis Dzikir Hubbul Wathon ini, menekankan bahwa pengetahuan dan kearifan seseorang didapat melalui proses belajar. Dimulai dari tadris sebagaimana pembelajaran pada anak-anak yang cenderung spontan, taklim yang sudah mendayagunakan pikiran, dan tarbiyah yang tidak hanya belajar tapi juga mendoakan.

“Kalau Ansor ingin menantang masa depan, didiklah sesuai sesuai zamannya. Namun ada ruang bathin yang harus diisi dan dikuatkan agar pengetahuan yang kita miliki tidak melenakan siapa jati diri kita,” tegas Mantan Ketua Umum Korcab PMII Jawa Tengah, Gus Boby. (Sulhanudin/009)