Sabar, Pondasi Keberhasilan Belajar

0
1211
basyid
Lek Basyid Tralala

Oleh: Basyid Tralala

(Mantan Pengurus IPNU cabang Kendal
Pengurus Harian MWC NU Kaliwungu Selatan)

Sabar agawe subur adalah nasihat Jawa yang banyak diadopsi dan adaptasi orang tua dalam menanamkan kesabaran kepada anak-anaknya. Kesabaran sangat diperlukan manakala anak – anak kita sedang menuntut ilmu. Karena dengan prilaku kesabaran, mendidik anak – anak kita untuk bersikap tabah dan iklas terhadap sesuatu yang dihadapinya. Sehingga mereka tidak mudah berputus asa.

Sabar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI ) sabar adalah (1) tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati); ( 2) tenang; tidak tergesa-gesa; tidak terburu nafsu. Sedangkan kesabaran adalah ketenangan hati dalam menghadapi cobaan; sifat tenang (sabar).

Kesabaran juga menjadi imun bagi setiap siswa. Kesabaran mendidik siswa lebih cermat memahami persoalan kehidupan. Ujian kesempitan atau kelonggaran pasti akan dialaminya di saat menuntut ilmu, tinggal bagaimana anak – anak menyikapinya. Bila disikapi dengan lapang dada, inya Allah pelajar atau mahasiswa akan menemukan hikmahnya. Namun jika disikapi sebaliknya, hingga muncul pikiran negatif terhadap Allah SWT maka yang diproleh hanyalah adalah kehinaan dan kecelakaan yang sesungguhnya.

Oleh orang–orang hebat kesabaran dijadikan alat ukur sejauhmana ketebalan iman yang dimilikinya. Cerita-cerita hikmah dijadikan sarana untuk motivasi dalam rangka membangun pribadi yang bersabar dan amanah. Sedangkan, menyalahkan orang lain, bukan satu solusi yang bijaksana sebagaiman yang sering dipertontonkan oleh mereka yang merasa dirinya tokoh masyarakat.

Sabar merupakan benteng untuk melindungi diri dari serangan musuh yang senantiasa mengganggu dan mengancam stabilitas hidupnya. Dengan perisai yang tebal dan kokoh musuhpun akan kesulitan untuk menancapkan sifat negatifnya. Musuh utama kesabaran pada diri anak / pelajar adalah dirinya sendiri. Jika si anak mampu menepis budaya copy paste dan menyontek di saat ulangan merupakan satu bukti anak / pelajar memiliki benteng yang luar biasa.

Kategori Kesabaran

Menurut para ulama, sikap sabar itu dapat dikategorikan dalam tujuh hal dan di dalamnya terkandung hikmah yang luar biasa.

Pertama sabar dalam ibadah. Implementasi sabar dalam ibadah adalah tekun mengabdikan diri dan melaksanakan syarat – syarat dan tata tertib beribadah. Siapa yang tetap tegak dan bertahan dalam beribadah, dialah yang akan memenangkan pertarungan dalam hidupnya.

Kedua sabar diberbagai musibah. Contoh kesabaran yang berupa musibah bagi siswa, seperti remidi, nilai tidak tuntas, kesulitan mengerjakan PR, terlambat membayar SPP, kecelakaan, patah hati dan lain – lain. Bila musibah ditanggapi dengan kesabaran, akan menjadi spirit sekaligus mendekatkan diri dengan yang Maha Kuasa. Tapi sebaliknya, jika musibah ditanggapi dengan kesedihan justru akan mepersulit dirinya sendiri dalam mengambil keputusan langkah berikutnya.

Ketiga sabar terhadap kehidupan dunia. Dunia itu fatamorgana. Banyak siswa yang terjebak rutinitas yang tak bernilai bagi kehidupan selanjutnya. Mereka terus asyik dengan dengan kegiatan duniawinya dari waktu ke waktu. Mereka memilih dugem dari pada belajar atau sholat tahajut, mereka lebih suka pesta miras atau narkoba dari pada mengerjakan tugas berorganisasi seperti IPNU IPPNU, Remaja Masjid atau karang taruna. Namun aneh di era milineal ini berprilaku negatif tersebut menjadi kebanggaan hal ini ditandai dengan banyaknya unggahan foto ( mohon maaf ) yang seronok.

Prestasi kehidupan adalah sebuah kebangaan dalam menjalani hidup ini. Berbagai ukuran kesuksesan hidup salah satunya dibuktikan dengan berkemampuan membeli atau mengoleksi barang – barang mewah seperti mobil, perhiasan, rumah dan lain sebagainya. Akibatnya banyak berbagai maneuver dilakukan guna mengejar prestasi tersebut. Inilah yang akhirnya memunculkan budaya pat guli pat atau korupsi di berbagai sektor kehidupan.
Sedangkan kemiskinan atau kegagalan dalam mengumpulkan harta benda dianggap aib yang harus ditutup rapat agar tidak menjadi bahan cemoohan warga atau keluarga besar. Pemikiran tersebut menunjukan betapa rendahnya kualitas memahami arti kesabaran.

Keempat sabar terhadap maksiat. Sebagian besar manusia memiliki kecendrungan untuk berbuat maksiat begitu pula dengan siswa. Dorongan tersebut laksana api dalam sekam sehingga perlu kendalikan agar manusia tidak terjerumus berkepanjangan. Sabar terhadap kemaksiatan bukanlah mengenai dirinya sendiri ( personality ), tetapi juga untuk orang lain dan lingkungan. Jangan sampai lingkungan belajar yang sudah mapan ternodai karena ketidakmampuannya dalam mengendalikan kemaksiatan itu sendiri. Contoh prilaku ketidaksabaran yang tidak sering dipertontokan siswa atau mahasiswa adalah budaya copi paste dalam mengerjakan tugas, rendahnya budaya antri, atau maraknya prilaku instan.

Kelima sabar memilihara ukhuwah/menjaga kedamaian. Kesabaran memelihara ukhuwah atau kedamaian sangat penting untuk digalakan, terutama di kampus atau sekolah. Kesabaran ini dilakukan guna mengantisipasi berbagai rong-rongan yang ingin mengusik kedamaian. Banyak pelajar diberbagai kota yang terlibat tawuran gara-gara akibat terganggu kesabarannya mereka. Mereka selalu mengunggulkan golongannya dari pada membangun kebersamaan. Mereka lebih suka mengedepankan gengsi daripada persamaan nasib. Keadaan seperti ini semoga lekas disadari agar dunia pendidikan kita tidak terkena imbasnya. Mengingat ketentraman belajar dan kekhusyukan beribadah sangat diperlukan guna menghasilkan generasi emas yang berpikiran brilian.

Masalah ukhuwah merupakan persoalan urgen untuk bangsa Inodonesia. Sehingga dalam empat pilar kebangsaan menjaga NKRI merupakan kewajiban anak bangsa. Jauhkan persoalan sukuisme dalam membangun negeri, Tanggalkan egoism warna jas atau golongan dalam berbakti kepada negeri karena dalam hati kita satu nusa, satu bangsa Indonesia.

Keenam sabar dalam memohon perlindungan Allah SWT. Bersabar dalam memohon pertolongan Allah harus dilakukan dengan cara yang telah Allah telah digariskan, seperti dengan sholat, berdzikir dan belajar. Banyak siswa yang salah dalam memaknai pertolongan itu. Katanya menyontek merupakan bentuk ikhtiar untuk mendapatkan nilai yang baik dalam belajar. Padahal sesuatu yang baik tapi diperoleh dengan cara tidak baik maka hasil tetap tidak akan baik.

Ketujuh sabar dalam perjuangan di jalan Allah. “Sunggguhnya Allah itu bersama orang-orang yang sabar” Manivestasi rasa sabar di jalan Allah SWT adalah menuntut ilmu. Bahkan Allah sendiri mewajibkan bahwa mencari ilmu adalah satu keharusan bagi kaum muslimin laki – laki atau perempuan (hadist). Maka tidaklah mengherankan jika cobaan dan ujian pasti dijumpainya. Ketika seperti ini betapa penting arti doa, baik dari orang tua, guru atau dirinya sendiri. Semakin sering berdoa maka semakin mentautkan hati dengan Yang Maha Kuasa. Kebiasaan ini yang harus dipahami siswa agar tidak mudah mengkambinghitamkan orang lain jika sedikit terkendala dalam belajar. Keberhasilan atau tidaknya belajar juga bagian dari riski kehidupan. Begitu pula dengan kalah menang dalam setiap pertandingan. Yang terpenting semua itu dilakukan adalah hal wajar atau sesuai prosedur karena jika jika ingin berakhir dengan baik maka awalilah dengan baik pula.