Cerdas Mengingat Hari Pembalasan

0
1523

Oleh: Rio F. Rachman
(Dosen Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang dan Koordinator Divkominfo Mata Garuda Jawa Timur)

Sebagai surah yang disebut-sebut merupakan rangkuman dari semua kitab suci, Al-Fatihah pampat dengan nilai-nilai dasar keagamaan. Salah satunya, tentang keberadaan Hari Kiamat. Yang dalam masa itu, terdapat momen penghakiman, penghitungan amal perbuatan, pembalasan atas tindak-tanduk makhluk, penentuan soal ke mana manusia akan bermukim kemudian: surga atau neraka.

Terpancar terang betapa pentingnya hari kiamat tatkala ia menjadi satu dari enam tonggak rukun iman. Tanpa meyakini eksistensinya di masa mendatang, batal sudah keimanan seseorang. Runtuh pula sendi-sendi keislamannya.

Dalam banyak surah, kejadian huru-hara dan kepontangpantingan di masa kiamat tertera jelas. Semisal, tentang gunung yang hancur berantakan bahkan beterbangan pepuingnya, langit terbelah serta samudera meluap, bumi bergoncang bergulung-gulung diterpa gempa, dan lain sebangsanya.

Dalam Al-Fatihah sendiri, poin tentang hari kiamat tercantum dalam ayat Malikiyaumiddin (Yang Menguasai Hari Pembalasan) penguasa yang dimaksud mengacu pada Allah. Hari pembalasan sendiri merupakan alias dari hari kiamat. Yang pada waktu itu, semua manusia, bahkan beberapa pendapat menyebutkan pula kalau ini berlaku pada segenap makhluk, akan meraih pembalasan dari semua perbuatannya selama hidup.

Hamka dalam tafsir Al-Azhar menjelaskan, dalam Kemahawelasasihan-Nya, seperti di ayat sebelumnya dalam Al-Fatihah yang berbunyi Arrahmanirrahim, Allahu Ta’ala tetap akan berlaku adil. Dengan menciptakan hari pembalasan sehingga manusia tidak boleh sewenang-wenang dalam hidup. Tidak boleh seenaknya berhubungan dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia, bahkan dengan alam semesta ini.

Di alam fana, terlebih di zaman sekarang, bisa jadi sudah sukar menemukan pembalasan yang setimpal atas perilaku manusia. Mereka yang berbuat jahat, mungkin saja menerima hukuman yang alakadarnya. Sedangkan mereka yang berbuat baik, mungkin saja tidak memeroleh apresiasi yang semestinya.
Namun kelak, di masa manusia menghadap timbangan amal yang disiapkan oleh Allah, semua perihal remeh-temeh hingga pesoalan besar akan dibalas dengan sempurna. Tanpa sedikitpun ada ketidakadilan. Demikianlah yang digariskan oleh Allahu Ta’ala dalam kalam-kalam ilahiah, maupun melalui para nabi. Perkara sebesar biji zharah atau butiran atom pun akan diberi balasan seadil-adilnya (surah Al-Zalzalah ayat 7 dan ayat 8).

Tak akan ada yang bisa sembunyi dari pengadilan di hari pembalasan. Seorang pemimpin, pejabat, presiden, ulama terkemuka, hingga rakyat jelata, akan dimintai pertanggungjawabannya. Jadi, bila saat ini ada yang tampak berhasil lolos dari hukuman-hukuman padahal dia telah melakukan kebejatan di mana-mana, di hari kiamat mendatang siksa baginya tak akan tertunda lagi.

Seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Sedangkan orang-orang yang dipimpin, berhak menuntut hak-haknya terhadap pemimpin tersebut. Bila pemimpin tersebut lalim, tidak menutup kemungkinan dia tergolong orang yang bangkrut. Yakni, dia mesti memberikan pahala pada siapa saja yang ditiranikannya. Atau juga, menanggung dosa orang-orang itu. Sedangkan kalau orang-orang yang dipimpin itu selama hidupnya sibuk memfitnah dan mengghibah pemimpinnya, mungkin saja justru mereka yang harus memberikan pahala pada pemimpin tersebut. Atau, menanggung dosa pemimpin tersebut.

Maka itu, di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini, dengan akses menyampaikan pendapat yang serba instan serta dapat mudah dilakukan, sudah sepantasnya setiap insan menahan diri. Jangan sampai, tergelincir pada perbuatan fitnah, ghibah, ataupun perbuatan lain yang membuat diri menjadi bangkrut di kemudian hari.

Perihal golongan yang bangkrut ini, telah mahsyur diriwayatkan oleh banyak sumber dengan derajat shahih, melalui hadits dari Abu Hurairah Radliallahuanhu. Bahwa Nabi Muhammad bertanya pada sahabat tentang muflis atau orang yang bangkrut. Para sahabat menjawab, orang bangkrut adalah dia yang tidak memiliki dirham (uang) dan tidak memiliki barang. Nabi Muhammad kemudian menjelaskan pengertian muflis yang sebenarnya. Yakni, orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan sholat, puasa, dan zakat. tapi kemudian tercatat di buku amalnya, kalau semasa hidup dia telah mencela si fulan, telah menuduh si fulan (dengan tuduhan yang tidak benar), memakan harta si fulan, menumpahkan darah si fulan, dan menzalimi si fulan.

Maka selanjutnya, diambillah kebaikan-kebaikannya dan diberikan kepada si fulan dan si fulan. Jika kebaikan-kebaikan telah habis sebelum cukup untuk menebus kesalahan-kesalahannya, maka diambillah kesalahan-kesalahan mereka (yang telah dia dzolimi) kemudian dipikulkan kepadanya, hingga si muflis tadi akhirnya dilemparkan ke neraka (diriwayatkan Imam Muslim, Ahmad, Tirmidzi, dan sejumlah sumber lain)

Sayyid Quthub dalam Fi Zhilalil Quran memberikan pandangan yang komprehensif tentang insan yang percaya pada hari pembalasan. Bahwa dia tidak akan terlalu ambil pusing dengan apa yang terjadi di alam dunia ini, sehubungan dengan apa yang diperolehnya atas usaha-usaha yang dilakukan. Jalan yang terbaik adalah berupaya untuk beribadah dan memberi sebanyak-banyaknya manfaat untuk sekitar. Dengan tujuan, mengharap ridha Allah yang sudah terjamin dan pasti adanya. Keyakinan mendalam dengan ayat Malikiyaumiddin ini, menggiring seseorang untuk tidak berkonsentrasi pada hal-hal yang bersifat duniawi. Termasuk, tidak membuat orang haus pada materi, pujian manusia, dan tetek-bengek hedonisme kekinian yang beraneka rupa macamnya.
Manusia yang beramal tidak berorientasi akhirat, gampang tergelincir pada kesyirikan. Akar tauhidnya mutlak terancam. Sebab, ada hal-hal lain yang menjadi tujuan selain Allah, yang tidak menutup kemungkinan tujuan itu berupa sanjungan makhluk. Kalau sudah begitu, sampailah pada perasaan riya’ yang bahayanya terhadap pahala, sama seperti bahaya api yang membakar kayu-kayu kering di musim kemarau.

Penjelasan tentang hari pembalasan, sepantasnya turut mengingatkan pula tentang hari kematian bagi masing-masing insan. Bahwa sebelum masa kiamat menjelang, seseorang pasti akan mati terlebih dahulu. Sedangkan Nabi Muhammad pernah menyampaikan dalam salah satu riwayat, bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang senantiasa mengingat kematian. Dengan mengingat kematian itu, dia seyogyanya menjadi semakin yakin kalau embel-embel keduniawian adalah sekejap mata nikmatnya. Kalau sudah begitu, fokus dan orientasinya adalah akhirat, surga yang dirindukan. Yang untuk mencapai surga itu, pastilah akan berhadapan dulu dengan hari pembalasan.