Ulil dan Para Pengkritiknya

0
2658
KH. Ubaidullah Shodaqoh dan KH. Ulil Abshar-Abdalla. [Foto: Istimewa]

Oleh: Tedi Kholiludin

Sekretaris Lakpesdam PWNU Jawa Tengah 2013-2018

 

Satu tahun belakangan (sejak awal 2017 hingga sekarang), saya coba perhatikan komentar di setiap status yang diunggah di akun personal facebook milik Ulil Abshar-Abdalla. Hanya satu dua gelintir saja yang berkomentar miring di saat Mbak Admin (panggilan baru Mbak Ienas Tsuroiya) menyiarkan secara live Ngaji Ihya, sebelum mungkin dihapus. Termasuk ketika Ulil melempar status. Komentar negatif, atau yang keluar dari konteks percakapan, bisa dihitung dengan jari. Kemana para pengkritik Ulil? Sudah kehabisan amunisi dan mulai mengakui keilmuannya?

Satu whatsapps grup keluarga yang saya ikuti, berisi makian dan cacian berlapis. Kepada pemerintah, Nahdlatul Ulama (NU), dan tentu saja orang-orang seperti Ulil. Bahkan, Abu Hapsin, karena kapasitasnya sebagai ketua PWNU Jawa Tengah (2013-2018), kerap terkena sasaran tembak. Tidak peduli kalau yang ditarget itu adalah paman, kakak sepupu atau keponakannya. Ajaibnya, di grup tersebut, kurang lebih sejak setahun lalu, tak ada sumpah serapah kepada Ulil.

Tak sulit melacak menurunnya tensi umpatan kepada Ulil; terhitung sejak ia memulai Ngaji Ihya dan (mungkin) setelah ia mundur dari partai politik. Sebelumnya, tanda-tanda bergesernya perspektif dalam melihat realitas, sudah bisa dicermati saat ia rajin menulis syarah untuk kitab Alhikam. Renungan sufistiknya menukik tajam ke dalam. Tak lagi bicara membuih tentang struktur masyarakat serta politik global.

***

Seperti yang sudah saya catat di beberapa tulisan sebelumnya, sejatinya tidak ada yang berubah dari pandangan Ulil. Dan itu terlontar langsung kepada saya dalam beberapa kali kesempatan bersua. Nalar kritis tetap digunakannya. Bahkan polemik yang mengiringi penulisan Kitab Ihya pada masa-masa awal juga dijelaskan Ulil dengan sangat gamblang. Ia berkisah tentang Kitab Ihya yang pernah dibakar oleh sebuah otoritas karena isinya dianggap melawan ortodoksi. Meneroka tema-tema seperti ini, bukannya tanpa resiko. Tapi Ulil tetap melakukannya dan itu sebagai bukti bahwa ia tetap berada di jalur kritisisme.

Bedanya, kritisisme yang sekarang ia lontarkan lebih banyak menghunjam kedalam. Ia banyak mengelaborasi tentang keajaiban hati, sifat-sifat dasar manusia, tipudaya setan dan seterusnya. Tema-tema ini sulit sekali dijadikan sebagai pintu masuk untuk melakukan kritik terhadap Ulil. Bahkan, dalam sebuah pengajian, ia menyampaikan kalau kebutuhan akan tema-tema besar dalam tasawuf, merupakan kebutuhan siapapun juga. Manusia, apapun agama dan jabatannya, membutuhkan hikmat, kebijaksanaan. Seseorang tidak akan bisa berbuat bijak jika tidak mempelajari tasawuf.

Faktor lain adalah karena yang didayagunakan oleh Ulil untuk mendaras tema-tema diatas adalah khazanah Islam klasik. Sesuatu yang sangat tradisional, dan produk tahun 1100an masehi. Otoritasnya begitu kuat. Produk pada masa-masa itu, bagi umat Islam yang memahami struktur keilmuan; semakin lampau semakin memukau; old but gold.

Saat bergiat dengan Jaringan Islam Liberal (JIL)nya, Ulil pun tetap melekatkan nalar (kritis)nya dalam membaca kenyataan. Tapi perspektif ini dianggap asing, sulit bisa diterima oleh umat Islam. Rupanya, “kritisisme dari luar” belum mendapatkan tempat ketimbang “kritisisme dari dalam.” Singkatnya, tradisionalisme, dalam batas-batas tertentu, lebih bekerja efektif ketimbang liberalisme.

Audiens Ulil sekarang menjadi lebih luas. Ia tak kehilangan “jemaat” lamanya yakni para intelektual, akademisi dan aktivis sosial. Umatnya kian bertambah banyak karena mampu masuk ke level akar rumput dan juga kelompok dari kalangan menengah perkotaan.

***

Dakwah digital Ulil, rupanya memantik dai-dai yang lain untuk melakukan hal serupa. Di Jawa Tengah, Rais Syuriah PWNU, KH. Ubaidullah Shodaqoh rutin mendaras Kitab Minhajul Abidin setiap Jumat Sore. Cara (mengaji virtual) ini mampu memfasilitasi mereka yang terkungkung dalam rutinitas tetapi tetap berkeinginan untuk mengaji.

Jelasnya, pertahanan Ulil sekarang sudah sangat rapat; sulit ditembus. Mereka yang dulu mengkritik, tak lagi tampak. Bukan tak mungkin, diam-diam, mereka sekarang mengamini penjelasan-penjelasan bernas Ulil. Kalaupun ada yang masih melakukan kritik, pastilah dalam konteks pengetahuan, bukan sumpah serapah yang tak jelas juntrungannya.