“The Rabbit’s Tale” dan Kisah Rumah Sempitnya

0
524

Oleh: Tedi Kholiludin

Sekretaris Lakpesdam PWNU Jawa Tengah 2013-2018

Di suatu malam jelang tidur, Najma menunjuk salah satu buku yang menumpuk di sebuah box miliknya. Buku yang dimaksud merupakan seri dari 50 buku yang berjudul My First Reading Library. Saya mendekati kotak yang dimaksudnya. “Yang ini?” saya mengambil salah satu diantaranya dan menanyakan padanya apakah itu buku yang ingin dilihatnya. “Bukan ayah. Yang kinci,” terangnya. Ternyata ia meminta saya untuk mengambil satu judul buku tentang kelinci.

Saya lalu mengambil satu buku berjudul “The Rabbit’s Tale.” Buku berjumlah 32 halaman itu merupakan bagian dari “Usborne First Reading: Level One”. Usborne merupakan penerbit buku anak-anak yang berasal dari Inggris. Diambil dari nama pendirinya, Peter Usborne, penerbit ini berdiri sejak tahun 1973. Lembaga yang memiliki moto “Do it Better” itu mempekerjakan kurang lebih 35 orang penulis dan 50-an desainer.

Sebelum membacakan cerita didalam buku tersebut untuk Najma, saya membuka dan membacanya dengan agak cepat. Baru kemudian saya menceritakan isinya setelah satu dua menit melakukan semacam scanning. Kepada Najma, saya tidak menceritakan persis. Ada sedikit modifikasi.

Setelah saya dalami, “Kisah Sang Kelinci” di buku kecil itu rasa-rasanya kok menghunjam dan menyasar egoisme orang dewasa atau saya  khususnya. Moral ceritanya, jika dibaca dengan perspektif yang agak leluasa, sangat-sangat berat.

***

Sang kelinci sedang bersedih. Ia merasa rumah yang ditinggalinya sangatlah kecil. Ia butuh ruang yang lebih luas. Kelinci kemudian teringat dengan kawannya yang cerdas, Burung Hantu. “Pasti dia bisa membantuku, karena dia burung yang pintar dan punya banyak akal,” begitu pikir si Kelinci.

Untuk keperluan konsultasi interior itulah Kelinci pergi ke luar rumah. Ia tentu sudah mafhum dimana Burung Hantu tinggal. Di sebuah pohon asri yang tak terlampau jauh dari rumahnya, Burung Hantu sedang menikmati angin segar menerpa bulu-bulunya.

“Rumahku terlalu kecil nih, gimana ya,” Kelinci langsung menyampaikan maksudnya. Burung Hantu langsung berpikir. Ditemani bekicot disampingnya, Burung Hantu yang siang itu menggunakan dasi kupu-kupu, sedikit mengernyitkan dahinya.

“Begini saja,” Burung Hantu memulai memberi petuah. “Kamu kan punya banyak saudara. Sekarang, pergi dan temui saudaramu,” katanya. “Lalu?” sergah si Kelinci. “Suruh semua saudaramu datang ke rumahmu” perintah Burung Hantu.

Tanpa mengucapkan terima kasih, Kelinci balik kanan dan berlari dengan maksud menemui saudara-saudaranya. Ia mengajak mereka datang ke rumahnya. Tak lama kemudian, puluhan kelinci datang ke rumah. Kelinci tua, muda, anak-anak dan dewasa tumplek. Rumahnya menjadi sempit. Kelinci tak leluasa berjalan.

Ia merasa, anjuran Burung Hantu tak memberinya solusi. Kembalilah ia ke pohon rindang dimana Burung Hantu sedang menikmati istirahat sorenya. “Burung Hantu, rumahku bukannya semakin luas, tetapi malah membuatku tak bisa bergerak,” Kelinci protes. “Begini saja, selain banyak saudara, kamu pun punya banyak teman kan? Ajaklah mereka berkumpul di rumahmu.” Tak berpikir panjang, Kelinci manut saja dengan arahan Burung Hantu.

Kelinci memanggil teman-temannya. Segala jenis hewan akhirnya datang memenuhi rumah kelinci. Kini, jangankan ada ruang longgar, bahkan bergerak pun ia tak bisa. Burung Hantu kembali menjadi sasaran. Ia datang, menggerutu dan setengah marah sembari melaporkan keadaan terkini rumahnya. “Bahkan sekarang aku tak bisa bergerak sejengkalpun,” Kelinci setengah putus asa.

Mendengar keluh kesah kawannya itu, Burung Hantu tersenyum. Ia tak banyak mengumbar kata. Sembari memegangi pundak kawannya itu, Burung Hantu memberi saran yang disampaikan dengan lirih, “sekarang, katakan bahwa hari sudah petang dan saatnya mereka kembali ke rumah masing-masing.” Tanpa menanyakan maksud perintah Burung Hantu, Kelinci segera menuju rumah yang sekarang penuh sesak oleh masyarakat binatang.

“Teman-teman sekalian, hari sudah petang. Ini artinya adalah waktu yang baik untuk kalian kembali berkumpul dengan keluarga. Sampai berjumpa kembali ya,” Kelinci memberi kata sambutan. Setelah mengucapkan terima kasih, satu per satu binatang itu pulang ke rumahnya. Apa yang terjadi?

“Haaa aku bisa bergerak leluasa sekarang. Yeaah” Kelinci meloncat kegirangan. Diam-diam, Burung Hantu rupanya sudah ada di dekat rumah Kelinci. “Bagaimana sekarang? Kamu sudah bisa begerak leluasa kan?” Burung Hantu bertanya sembari tersenyum. “Oh ya, terima kasih ya. Rumahku ternyata sangat luas.”

***

Kita bisa menggunakan banyak optik untuk cerita ini. Saya, sesaat setelah menceritakan kisah tersebut untuk Najma, merasa bahwa The Rabbit’s Tale adalah kisah tentang orang dewasa yang oleh Richard Dawkins disebut sebagai “The Selfish Gene,”  gen yang egois, rakus dan seterusnya. Saya kerap menyadari kerakusan yang diam-diam menyelinap dalam tubuh ini. Nafsu untuk menguasai yang lain, selalu merasa kurang dan seterusnya, ada dan dalam banyak kesempatan selalu manifes.

The Rabbit’s Tale adalah sindiran halus kepada orang dewasa yang tak pernah merasa puas. Apa yang kita miliki sekarang, sesungguhnya jauh lebih baik jika dibandingkan dengan mereka yang kurang beruntung tentu saja.

Burung Hantu mungkin ingin mengingatkan kepada Kelinci; “Kamu sudah punya rumah, syukuri saja apa yang kamu miliki itu. Toh tidak semua binatang punya rumah sepertimu.”