Pentingnya Mengembangkan Ilmu-ilmu Sosial di Kampus Aswaja

0
471

Oleh: Tedi Kholiludin

Sekretaris Lakpesdam PWNU Jateng (2013-2018), Dosen Universitas Wahid Hasyim Semarang

Memadukan tradisi dan modernitas merupakan salah satu tantangan umat Islam saat ini. Tak terkecuali kampus, sebagai wadah dimana keilmuan dikaji, ditelaah, didekonstruksi dan kemudian direkonstruksi. Temuan-temuan baru diharapkan hadir dari kampus. Tak hanya menemukan, tetapi proses harus kemudian berlanjut dengan penggunaan (basic, improve dan applied)  lalu difusi atau penyebaran.

Sebagai organisasi keagamaan, Nahdlatul Ulama (NU) mewarisi semangat tradisionalitas. Tetapi, banyak pengamat sepakat tentang hal ini, bahwa tradisi yang menjadi alas kehidupan berislam tidak berarti anti-modernitas. Bahkan tradisi itu menjadi pengobar semangat untuk melakukan transformasi.

Kita mengenali Jepang misalnya yang melakukan lompatan besar dalam bidang teknologi, tapi tanpa menanggalkan tradisi. Djohan Effendi, menggunakan frasa yang menarik untuk menggambarkan pola (pembaruan tanpa meninggalkan tradisi) ini seperti yang tergambar dalam kepemimpinan Gus Dur di NU, “renewal without breaking tradition.”

Kampus-kampus yang mewarisi identitas NU, hemat saya, berpeluang menjadi tempat dimana transformasi tradisi itu bisa berjalan. Dialektika antara al-ashalah dan al-hadatsah, turats dan tajdid, al-tsawabit dan al-mutahawwil bisa terfasilitasi. Proses ini sejatinya bukan barang baru. Di kampus Islam negeri, pentingnya membangun dialog tersebut juga sudah disadari signifikansinya. Sehingga, 20 tahun terakhir, mulai ada mainstreaming terhadap hal tersebut.

Tetapi, saya harus menyebut ada perbedaan konteks disini. Beda halnya dengan kampus Islam negeri, panorama di Kampus NU (Unisma Malang, Universitas Wahid Hasyim Semarang, UNUSIA Jakarta, UNUSA Surabaya dll) lebih memiliki warna. Pertama, kampus NU, betapapun ia mula-mula dihadirkan dari “kantung eksklusif” tetapi kemudian diabdikan bagi penduduk desa dunia, global village. Ia tak lagi eksklusif, karena penerima manfaatnya adalah bukan hanya masyarakat nahdliyyin, tetapi juga masyarakat dunia. Mahasiswa nasional maupun internasional dari latar belakang agama, etnis dan ras, merasakan manfaat dari kehadiran kampus ini. Inilah upaya globalizing local, yang pelan-pelan sudah menunjukkan performanya.

Kedua, betapapun ia sudah menjadi global, tapi jangkarnya adalah tradisi. Lebih khusus lagi, tradisi Nahdlatul Ulama yang diformulasikan secara sistemik dalam visi dan misi beberapa Universitas NU. Inilah sebentuk “university with the soul of tradition” (memplesetkan ide SE Mead). Semangat Aswaja tak hanya ada dalam formulasi teologis atau fiqh serta Aswaja saja. Tapi ia juga tercermin dalam dialektiknya dengan pelbagai disiplin ilmu.

Tidak berarti bahwa kemudian harus ada labelling Teknik Aswaja atau Ekonomi Aswaja, tapi spirit moderasi yang ada dalam Aswaja, menubuh pada aneka ragam pengetahuan tersebut. Ini tentu tidak mudah. Karena mendiskusikan antara “aspek pokok” dan “sisi cabang” itu perlu kemampuan komprehensif dalam berbagai bidang.

Ketiga, ini yang secara fundamental membedakan Universitas NU dengan kampus Islam milik pemerintah misalnya, yakni sejarahnya sebagai kampus NU yang jika kita cermati, memiliki basis masyarakat yang spesifik. Dan kita tentu sudah sangat paham, bahwa masyarakat tradisional ini banyak memiliki praktik-praktik yang kerap menyuguhkan simbol sebagai instrumennya.

Sederhananya, masyarakat NU adalah masyarakat yang sangat dekat dengan banyak simbol. Pemahaman terhadap berbagai simbol yang ada dalam “masyarakat simbolik” ini tak kalah pentingnya. Saya merasa, bahwa sudut pandang ilmu-ilmu sosial (sosiologi, antropologi, etnografi dan sebagainya) dapat membantu kita memahami dinamika masyarakat kita yang kaya tradisi itu. Poin ini mungkin semacam rekomendasi dan masukan saya kepada pihak-pihak terkait, mengingat “perangkat keras” di beberapa kampus NU memungkinkan kita untuk melakukan hal tersebut.

Ini hanya proposal ide yang sederhana, dan jika ada kesempatan akan dilanjutkan dengan coretan lainnya.