Menjadi Rahmat, Menghindari Perselisihan

0
1055

Oleh: Rio F. Rachman
(Dosen Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang dan Koordinator Divkominfo Mata Garuda Jawa Timur)

Bila berkiblat pada pandangan Imam Syafii, setidaknya ada dua asma ul husna yang termaktub berbarengan dan disebut dua kali dalam surah Al-Fatihah. Yakni, Arrahman dan Arrahim, di ayat 1 dan di ayat 3. Penulis tafsir Al-Mishbah Prof Quraish Shihab menyatakan, dua nama Allahu ta ‘ala ini memiliki makna yang sama: rahmat. Poinnya adalah tentang sifat welas asih, cinta serta sayang pada sekitar.

Alumnus kampus Al-Azhar Kairo ini mengungkapkan bahwa Arrahman berkaitan dengan sikap mengasihi-Nya pada semua makhluk tanpa terkecuali, bahkan kepada semua manusia baik yang beriman maupun yang tidak beriman, di alam dunia ini. Sedangkan Arrahim merupakan sifat sayang-Nya pada orang-orang beriman tatkala di akhirat kelak. Namun bila dijabarkan secara umum, dua nama itu, pancaran kebermanfaatannya sama-sama bisa dirasakan saat ini.

Dalam satu riwayat, masih kata Prof. Quraish Shihab, disebutkan bahwa sifat rahmat yang ada di muka bumi ini, bila pun dianalogikan, sekadar satu di antara seratus rahmat yang dipunyai Allahu ta ‘ala. Sebagai misal, ada kuda yang tidak menginjak anaknya yang masih kecil, atau ada Ibu yang begitu mencintai bayinya, dua hal itu, ditambah seluruh rasa cinta kasih yang pernah dan aka nada di dunia ini sejak zaman diciptakannya hina zaman ditiadakannya, sekadar seperseratus dari rahmat yang dimiliki Allahu ta ‘ala.

Tentu, ini hanya upaya untuk membuatnya kuantitatif sehingga bisa diterima akal manusia yang serba terbatas. Karena sejatinya, rahmat Tuhan Yang Maha Esa jauh lebih besar dari pengadaian itu atau tak terhingga keagungannya.

Memang benar adanya, manusia mesti pula memiliki sifat rahmat atau berwelas asih pada sesama. Tapi, bagaimanapun juga, sifat tersebut berbeda dengan yang dimiliki oleh Allahu ta ala. Tuhan Yang Maha Kuasa menebarkan sifat rahmat tanpa mengharap balasan apapun jua. Sedangkan manusia, selalu memiliki pertimbangan “transaksional” dalam melakukan sesuatu.

Sebagai contoh, tatkala bersimpati tentang suatu hal, atau ketika sedih saat melihat ada orang lain yang merasakan kepahitan hidup, sanubari mengajak untuk menolong. Sedangkan dengan menolong itu, paling tidak, rasa sedih yang sempat menyentuh tadi bisa terangkat atau berkurang. Jadi, ada timbal balik yang diterima sewaktu menolong orang lain.

Sementara HAMKA dalam tafsir Al-Azhar menegaskan pula, Kemahawelasasihan Tuhan meliputi semua makhluk, dalam hal ini segenap ciptaan-Nya, apapun itu. Sudah barang pasti pula, Tuhan tidak menuntut balasan, karena memangnya makhluk bisa membalas apa?

Saat Tuhan memberi pengetahuan pada hamba-hambanya, urai HAMKA, atau mendidik dan membina mereka, Tuhan tidak ingin mendapat timbal-balik. Kecuali semua itu benar-benar akan bermanfaat bagi para manusia itu sendiri. Berbeda dengan sebuah perusahaan, atau pemerintah, yang menyekolahkan atau mendidik, atau memberi program magang bagi staf maupun pegawai. Perusahaan atau pemerintah, pasti berharap, suatu waktu orang tadi bisa mengabdi secara lebih optimal pada institusi.

HAMKA juga menukil banyak perumpaan “titipan” sifat rahmat Tuhan untuk para makhluk. Antara lain, induk ayam yang menyayangi anak-anaknya, sepasang burung yang saling mengasihi, bahkan anjing dan kucing yang setia pada majikannya. Singkatnya, segala kemurahan yang dilakukan makhluk hidup, termasuk manusia, sekadar macam debu di jagat raya dibandingkan kasih sayang Tuhan Pencipta Segalanya itu. Dari sanalah, manusia sebagai khalifah di muka bumi mesti belajar.

Apalagi, sebuah hadits menyebutkan, barang siapa menyayangi yang di bumi, maka yang di langit akan menyayanginya (HR. Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud, dan lain-lain). Tentu saja, Allahu ta ‘ala akan makin sayang pada hamba itu, dan berlipatganda kebaikan akan ditambahkan padanya. Sedangkan para malaikat, dengan izin-Nya dan sebagai bentuk kasih sayang-Nya pula, akan memohonkan ampun bagi hamba itu. Betapa beruntung hamba tersebut!

Bertolak dari anjuran tersebut, benarlah mereka yang menjauhi perdebatan dan perselisihan dengan lebih mengedepankan rasa cinta kasih. Menjadi rahmat bagi sesama dan semseta alam. Bagaimana pun juga, akhlak yang baik, tentu lebih utama daripada kemampuan debat kusir dan saling sindir di kalangan umat.

Tengoklah sejarah, Nabi Muhammad diberitugas untuk menjadikan akhlak, etika, adab manusia menjadi mulia. Bukan sebaliknya: menjadikan manusia saling hujat, saling cela, dan saling hina hanya karena perbedaan pendapat. Yang padahal secara prinsip, semua sama: mengaku bertuhan Allahu ta ‘ala Yang Maha Esa, dan bernabi Muhammad yang penuh welas asih.

Bukankah, orang-orang di masa jahiliyah takjub dengan karakter Nabi Muhammad yang baik (bahkan memiliki gelar Al-Amin alias yang dapat dipercaya, sejak belia), sehingga mereka menjadi yakin kalau Putra Abdullah dan Cucu Abdul Muthalib itu bukan orang sembarangan. Bahwa Nabi Muhammad pandai berbicara di muka publik untuk menyampaikan kebenaran, shahih adanya. Namun tetap saja, akhlak jua yang dijadikan tonggak dakwah, teladan yang dijadikan mata tombaknya.

Yang juga menarik dari tafsir HAMKA adalah pendapatnya bahwa Arrahmanirrahim di ayat 3 itu, memiliki hubungan dengan Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin pada ayat 2. Bahwa Allahu ta ‘ala menguasai dan memelihara seluruh alam raya ini, dengan sifat Rahman dan Rahimnya.

Pandangan peraih gelar Doktor Honoris Causa dari kampus Al-Azhar Kairo Mesir ini sejatinya bisa pula diperluas. Yakni, ayat 3 ini juga dapat dijalinkelindankan dengan ayat setelah dan setelahnya, hingga penutup Al-Fatihah.

Jadi, sifat rahmat Allahu ta ‘ala, meliputi pula terhadap kekuasaan-Nya di hari pembalasan yang bisa dilihat di ayat 4. Sehingga, di masa kiamat nanti, Allahu ta ‘ala pasti tetap akan memberi kemudahan bagi mereka yang sejak di dunia memang mengharapkan dan berupaya mendapatkannya, dengan izin-Nya.

Dialah yang berhak disembah dan kepada-Nya memohon pertolongan (ayat 5). Ya, pertolongan diberikan pada seluruh manusia dengan rahmat-Nya. Juga kelak, di hari penghabisan atau di akhirat, bakal diserahkan pula pada hamba-hamba-Nya yang budiman dan beriman tatkala di alam dunia.

Lantas, di ayat 6, orang-orang mukmin meminta untuk diberi jalan yang lurus. Tentu, jalan itu akan ditunjukkan dan disiapkan oleh-Nya dengan kasih sayang. Jalan yang dimaksud bukanlah jalan yang dimurkai, maupun jalan yang sesat (ayat 7).

Selayaknya keyakinan dalam banyak wirid kaum muslimin, bahwa yang bisa memberi petunjuk adalah Allahu ta ‘ala, dan yang bisa menyesatkan juga hanya Tuhan, maka tentulah pula, manusia sudah sepantasnya berserah diri pada Sang Khalik. Berserah diri di sini berarti taat pada arahan yang diberikan-Nya sebagaimana tercantum dalam kitab suci.

Sebagaimana dalam hadits dari Sayyidina Jabir bin Abdillah Radliallahuanhu yang diriwayatkan Imam Muslim, bahwa yang bisa membuat manusia masuk surga hanyalah rahmat Allahu ta ‘ala. Bagaimana agar mendapat rahmat yang paling mutlak tersebut? Dengan memperbanyak amal baik dan menjauhkan diri dari amal jelek. Wallahu a’lam.